Menyabung Nyawa di Udara China

Kisah kegetiran akibat teror serangan udara Jepang di Chongqing. Menyisakan kepedihan dan perlawanan.

1541145706856
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Menyabung Nyawa di Udara China
Judul: Air Strike | Sutradara: Xiao Feng | Produser: Jian-Xiang Shi, Buting Yang | Pemain: Bruce Willis, Adrien Brody, Rummer Willis, Fan Bingbing, Liu Ye, Song Seung-heon, Fan Wei | Produksi: China Film Group Corporation, Origin Films, Shanghai Nangou Films, Hollywood International Film Exchange| Distributor: China Film Group Corporation, Blue Box International |Genre: Drama Perang | Durasi: 96 Menit | Rilis: 26 Oktober 2018.

TEROR pemboman udara Jepang menghantui Kota Chongqing (Chungking) dan sekitarnya. Chongqing menjadi ibukota darurat Republik Cina di bawah pemerintahan nasionalis pasca-jatuhnya Nanjing (Nanking) akibat serbuan Jepang pada Perang Sino-Jepang II yang bermula pada 7 Juli 1937.

Chongqing mulai jadi sasaran pemboman pesawat-pesawat Jepang pada 18 Februari 1938. Nyaris 300 serangan udara dengan ribuan ton bom tercatat digulirkan pesawat-pesawat Kaigun (Angkatan Laut) dan Rikugun (Angkatan Darat) Jepang. Sasarannya tak hanya basis-basis militer, namun juga sejumlah sekolah, rumahsakit, gereja, dan permukiman sipil.

Kengerian invasi dan pemboman itu, yang diselingi beberapa rekaman asli, menjadi narasi pembuka film bertajuk Air Strike garapan sutradara Xiao Feng. Sang sineas ingin lebih dulu mengingatkan penonton akan keganasan agresi Jepang dan dampak-dampaknya yang tak terperikan sebelum menyajikan beragam plot dramatis dan heroik seputar tragedi berdarah di Chongqing.

Baca juga: Tragedi dan kisah evakuasi Perang Dunia II yang diangkat ke layar lebar tanpa adegan sadis

Premis film ini berfokus pada tiga sub-kisah yang lantas mengerucut di pertengahan film. Pertama, tentang sebuah skadron berisi para kadet muda Angkatan Udara (AU) Cina yang dipimpin penasihat militer Amerika Serikat (AS) Kolonel Jack Johnson (Bruce Willis). Kedua, tentang seorang opsir penerbang Xue Gang Tou (Liu Ye) yang punya misi menyelundupkan mesin kode buatan Inggris, dan ketiga, kisah seorang Paman Cui (Fan Wei) yang mewakili kegetiran hidup warga sipil Chongqing akibat teror pemboman.

Tak ketinggalan, Air Strike juga menyisipi aktivitas rumahsakit dengan banyak tenaga medis asing, termasuk dokter asal Amerika Steve (Adrien Brody), yang kepayahan akibat terus kebanjiran pasien akibat pemboman.

Adrien Brody (kanan) di suatu adegan dalam film Air Strike (Foto: Lionsgate)

Dalam kisah skadron yang berbasis di Pangkalan Udara Chongqing, Kolonel Johnson tak hanya direpotkan oleh minimnya alutsista tapi juga oleh inferiornya kekuatan AU Cina. Hanya dengan belasan pesawat tempur buatan Uni Soviet seperti Polikarpov I-15 (153) dan Polikarpov I-16, mereka mesti menghadapi kekuatan udara Jepang yang lebih superior dengan pesawat Zero dan pesawat Pembom Mitsubishi G3M-nya.

Ego menggebu untuk membalas kekejaman Jepang para kadetnya acapkali juga merepotkan Johnson. Tak jarang mereka indisipliner dan sulit menerima keputusan-keputusan strategis.

Satu per satu pilot Cina yang memberi perlawanan terhadap teror udara Jepang berguguran. Untung mereka gugur setelah memberi perlawanan sengit dengan manuver-manuver ciamik.

Sementara, perjuangan Gang Tou, pilot yang di-grounded untuk mengawal misi penyelundupan mesin kode, juga tak kalah pelik. Dia berjibaku melindungi truk bermuatan penting itu dari Pelabuhan Yixi menuju markas pusat militer Cina di Chongqing. Bahaya tak semata berasal dari serangan udara Jepang, tapi juga dari mata-matanya.

Baca juga: Kisah mata-mata Israel menguber dedengkot Nazi hingga ke Argentina

Adapun Paman Cui, yang remuk hatinya setelah tahu putranya tewas oleh serdadu Jepang, memilih mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan militer Cina. Uang yang didapatnya dari kontes burung dan permainan Mahjong, dia donasikan untuk militer dan jadi inspirasi buat warga lainnya untuk melakukan hal serupa.

Bagaimana kelanjutannya? Baiknya Anda tonton sendiri. Film ini dirilis pada 26 Oktober 2018, setelah sempat beberapa kali ganti judul. Sebelum dijuduli Air Strike, film ini hendak diberi tajuk The Bombing dan Unbreakable Spirit.

Adegan duel udara Zero Jepang vs I-16 Polikarpov dari AU China (Foto: Lionsgate)

Film bergenre fiksi action yang berangkat dari kepedihan semasa pendudukan Jepang ini tak hanya menampilkan drama tapi juga memanjakan para pecinta genre perang, khususnya pertempuran udara. Visual efek pertempuran udaranya cukup apik dan kualitasnya hanya sedikit di bawah film-film sejenis di era modern, seperti Hurricane (2018), Eternal Zero (2013), Red Tails (2012), The Red Baron (2008), For Those We Love (2007), Flyboys (2006), Pearl Harbor (2001), atau The Tuskegee Airmen (1995).

Fakta Film dan Sejarah

Kendati suara tangis bayi dan anak-anak korban pemboman Jepang dalam berbagai adegan film berbujet 982 miliar rupiah ini terasa menusuk di hati, Air Strike “terpeleset” dalam beberapa detail. Satu di antaranya soal dialog. Kealpaan ini turut disayangkan kritikus Anthony Kao. Dalam cinemaescapist.com, 26 Oktober 2018, dia menyoroti dialog antara Kolonel Johnson dan An Ming Xun (Song Seung-heon), wartawati cantik Xinhua Daily, di markas skadron. “Tambah aneh dan tak logis sebenarnya adegan itu sendiri,” ujar Kao.

Yang jauh lebih penting, sutradara menggarap film ini terlalu bernuansa Hollywood. Xiao Feng sama sekali tak menggambarkan atau sekadar menyinggung keberadaan pelatih maupun pilot-pilot Uni Soviet. Padahal faktanya, menurut John Erickson dalam The Soviet High Command: A Military-Political History, 1918-1941, Soviet jadi penyokong pertama AU Cina dalam Perang Sino-Jepang II lewat pendirian Soviet Volunteer Group.

Sejak Desember 1937 sampai 1940, Soviet tercatat memberi bantuan 563 pesawat tempur dan 322 pesawat pembom yang tidak hanya untuk diterbangkan para pilot sukarelawan Soviet namun juga pilot-pilot Cina di berbagai pangkalan. Penggunaan pesawat Polikarpov I-153 dan I-16 di film ini menjadi buktinya.

Pilot-pilot sukarelawan Uni Soviet di suatu pangkalan di China pada 1938 (Foto: Wikimedia)

Memang, sejak ditandatanganinya Pakta Non-Agresi antara Jepang dan Soviet pada April 1941, para pilot sukarelawan Soviet ditarik dari Cina. Itu menyebabkan Cina mengalihkan permohonan bantuan pada Amerika, yang kemudian melahirkan American Volunteer Group (AVG) “Flying Tigers” di bawah komando Brigjen Claire Lee Chennault.

Apalagi Xiao Feng mengklaim film fiksinya ini terinspirasi dari kisah nyata. Mestinya eksistensi sokongan Soviet tetap ditampilkan mesti porsinya secuil seperti, misal, dalam Hurricane yang lebih dulu rilis di tahun ini. Kendati yang jadi fokus pengisahannya adalah para pilot Polandia yang bertempur di angkasa Inggris, film itu tetap tak menyingkirkan fakta keberadaan seorang pilot Cekoslovakia dan instruktur asal Kanada di sebuah unit tempur yang sohor, Skadron 303.

Baca juga: Kisah Kematian diktator Uni Soviet dalam banyolan

Satu “kepelesetan” lain yang patut disoroti dari film ini, adalah keberadaan sebuah pesawat tempur P-40 Warhawk. Entah bagaimana datangnya pesawat baru yang sekonyong-konyong jadi rebutan dua penerbang Cina ini. Mestinya, tak hanya ada satu pesawat yang jadi alutsista tambahan dari Amerika sejak menggantikan Soviet pada 1941.  Dalam Army Air Forces in WWII: Vol. 1, tercatat Amerika menghibahkan ratusan pesawat berbagai jenis hingga berakhirnya Perang Pasifik.

Sejarah-Perang-Pasifik, Perang-Pasifik, Sejarah-Perang-Dunia, Sejarah-Film, Penjajahan-Jepang, Jepang, Cina, Tiongkok, China, Perang-Sino-Jepang
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK