Jejak Ratu Pengembara Gurun

Cintanya pada gurun membawanya berpetualang ke Jazirah Arab.

1487737032000
  • BAGIKAN
Jejak Ratu Pengembara Gurun
Judul: Queen of the Desert | Sutradara: Werner Herzog | Pemain: Nicole Kidman, James Franco, Damian Lewis, Christopher Fulford, David Calder, dll. | Produser: Michael Benaroya, Mark Burg, Cassian Elwes, dan Nick N. Raslan. | Produksi: Benaroya Pictures, Evolution Entertainment, H Films, dan Palmyra Films. | Rilis: September 2015 (Jerman), Maret 2016 (Amerika Serikat) | Durasi: 128 menit. Foto: afifest.afi.com.

Gertrude Bell (Nicole Kidman) senang bukan kepalang. Permintaannya untuk menjelajahi dunia Timur mendapat lampu hijau dari sang ayah, Hugh Bell (David Calder). Bell tak hanya akan terbebas dari “penjara” tatakrama aristokrat yang diterapkan ibunya, tapi juga bisa menyalurkan naluri berpetualang sekaligus hasratnya akan sains.

Bell menuruti saran ayahnya untuk memilih Teheran. Toh di sana dia bisa mendalami sastra, budaya, politik, dan sejarah, selain bidang yang diminatinya: arkeologi.

Di Teheran, dia mendapat wali yang cerdas dan menyenangkan, Henry Cadogan (James Franco). Dari kebersamaan itulah tumbuh cinta di antara keduanya. Namun Bell menemukan kenyataan pahit ketika ayahnya tak memberi restu. Dia bergegas pulang ke Inggris untuk melunakkan hati sang ayah. Di sana, dia justru mendapat kabar menyedihkan. Sepucuk surat dari Teheran mengabarkan: Cadogan tewas akibat kecelakaan.

Butuh tiga tahun bagi Bell untuk bangkit dari keterpurukan. Dan mulailah dia berpetualang lagi. Tujuannya masih sama: gurun.

Dengan surat izin masuk palsu, karena mendapat larangan dari konsul jenderal Inggris di Amman, Bell pergi ke Yordania. Di sana dia bertemu T.E. Lawrence (Robert Pattinson), ahli Timur Tengah dari Inggris, yang di kemudian hari bekerjasama dengannya dalam memetakan Arab pasca-Perang Dunia I. Kendati bolak-balik kena tangkap, dia tak kapok. Dia justru bersemangat untuk mendatangi lebih banyak tempat di gurun Arabia.

Di sanalah Bell mendapatkan pengetahuan tentang suku-suku Badui, budaya, politik, sejarah, kondisi alam, dan orang-orangnya. Dia juga menemukan tambatan hati: seorang perwira Inggris bernama Charles Doughty-Wylie (Damian Lewis). Semuanya dia abadikan dalam kalimat-kalimat di buku hariannya.

Dengan alur flashback, yang berujung pada perubahan tatanan politik Jazirah Arab pasca-Perang Dunia I, sutradara sekaligus penulis skenario Werner Herzog merangkum semua kisah cinta Bell.

[pages]Tanpa Mahkota

Gertrude Margaret Lowthian Bell adalah sosok nyata. Dia lahir pada 14 Juli 1868 di County Durham, Inggris, sebagai anak pengusaha besi kaya-raya. Sejak berusia tiga tahun, dia ditinggal mati ibunya, sehingga hanya mendapat kasih-sayang sang ayah. Hal itu mempengaruhi kondisi psikisnya. Bell jadi gemar berpetualang.

Bell memulai petualangannya ke dunia Timur selepas lulus kuliah di Oxford University. Menurut Liora Lukitz dalam A Quest in the Middle East: Gertrude Bella dn the Making of Modern Iraq, buku klasik Charles Doughty berjudul Travels in Arabia Deserta (1888) memberinya inspirasi untuk menjelajahi wilayah-wilayah kekuasaan Imperium Usmani dan membentuk imaji tentangnya.

Di Persia, meski fokus utamanya pada bidang arkeologi, Bell mempelajari hampir semua hal. Sepulang dari Persia, Bell menjelajahi berbagai pegunungan di Swiss –dan kelak, pegunungan-pegunungan Eropa lainnya. Lalu, dia kembali mengunjungi Timur Tengah. Setidaknya Bell enam kali pergi ke Timur Tengah, yang memungkinkannya menjalin kedekatan dengan pemimpin-pemimpin Arab. Dia menuangkan pengalaman dan observasinya dalam buku antara lain Safar Nameh: Persian Pictures dan The Desert and the Sown: Travels in Palestine and Syria.

Analisis Bell mengenai Timur Tengah dan masa depannya amat komprehensif, aktual, dan akurat. Misalnya, dia memprediksi bakal melemahnya Imperium Turki Usmani yang kala itu menguasai Timur Tengah. Terbukti, Turki Usmani, yang berada di pihak Jerman dalam Perang Dunia I, pada akhirnya kalah perang. Inggris, Prancis, dan Rusia, yang sudah lama berambisi menguasai kawasan ini, pun bersorak. Timur Tengah dibagi-bagi.

Inggris mendapat jatah wilayah Arab. Dan di sinilah peran vital Bell, yang mengenal konstelasi politik Arab, termasuk suku-suku Badui dan relasi antarmereka. Melalui British-Arab Bureau di Kairo, yang dibentuk untuk menangani Arab pasca-perang, Bell memainkan peranan dalam memetakan wilayah, memilih nama-nama pemimpin untuk negeri-negeri yang lahir pascaperang, dan lain-lain.

Bell berperan penting dalam pembentukan negeri di bekas wilayah Mesopotamia. Dia melakukan hampir semuanya, mulai memilihkan nama Irak, memetakan batas-batas wilayah, mendudukkan Faisal dari Dinasti Hashim sebagai raja, membantu menyusun undang-undang, hingga mendirikan museum nasional.

Bagdad menjadi rumahnya hingga ajal menjemput pada 1926.

[pages] Bukan Romansa Biasa

Dalam film ini, Werner Herzog lebih menekankan kisah percintaan Bell. Adegan-adegan kegembiraan atau kesedihan akibat asmara tak hanya mendapat porsi lebih banyak tapi juga lebih alami. Padahal ini justru jadi blunder.

Nama besar Gertrude Bell lahir dari petualangan riset-risetnya. Tak jarang dia harus berhadapan dengan maut. Beberapa kali dia ditahan suku-suku Badui. Dia juga sempat tertembak lengannya ketika berusaha mendatangi Badui Druze –sebelumnya akhirnya bisa menjalin kedekatan dengan mereka. Namun Herzog tampaknya tak tergoda untuk mengekplorasinya. Maka, adegan-adegan petualangan riset Bell pun hadir tanpa dramatisasi. Terasa hambar.

Andai pengalaman dramatis dan petualangan sains itu mendapat porsi lebih, hampir pasti gelegar film akan jauh lebih dahsyat. Lebih menghibur. Dan menempatkan sosok Bell lebih tepat dalam sejarah Jazairah Arab. Toh, Queen of the Desert ini adalah sebuah film bergenre biopik.

Di luar itu, film ini tetaplah layak tonton. Ditimpali music scoring apik dan akting yahud Nicole Kidman, scene-scene petualangan Bell tak hanya membuktikan kelas Herzog tapi juga menempatkannya sebagai penyaji narasi sejarah yang baik. Queen of the Desert bak buku sejarah yang renyah.

Gertrude Bell mencintai gurun tapi juga dicintai dan dihormati orang-orang yang tinggal di sana. Suku-suku Badui bahkan menjulukinya Al Khatuun atau perempuan mulia. “Dia adalah ratu gurun tanpa mahkota,” kata Pangeran Abdullah (Ayoub Layoussifi), yang kemudian menjadi raja Yordania, di akhir film.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK