Jejak Film dalam Poster

Pembuatan poster film zaman dulu yang serba manual menuntut keahlian dan ketelitian tinggi.

1541573476891
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Jejak Film dalam Poster
Poster film zaman dulu.

LUAS ruangan itu hanya sekira 3 x 5 meter, dengan bentuk memanjang. Lima rak dijejali tumpukan poster film. Sebuah rak kayu penuh dengan gulungan film. Dua lemari kabinet menyimpan foto-foto adegan, beberapa proyektor tua, rol-rol film, kardus-kardus, dan sebuah televisi tua. Ia lebih cocok disebut gudang ketimbang ruang pengarsipan.

“Ya keadaannya masih seperti ini, masih sangat jauh dari kata ideal. Untuk poster saja seharusnya tidak boleh ditumpuk dalam posisi rebah seperti ini. Seharusnya digantung berdiri, seperti pakaian, jadi tidak robek, tidak saling tempel dan akhirnya rusak,” kata Budi Ismanto, pengurus poster film dan video di Sinematek Indonesia.

Untungnya, untuk poster di bawah tahun 1950-an, karena rata-rata berbentuk flyer atau kertas selebaran, sudah ditaruh di dalam sebuah map dan diberi lapisan plastik. Posisinya pun diletakkan menggantung. Meski rata-rata map itu pun sudah berdebu tebal.

Selain film, Sinematek giat mengoleksi pernak-pernik film seperti poster atau foto-foto adegan. Untuk poster, koleksinya menembus angka 10 ribu dan akan terus bertambah karena banyak poster film baru yang belum sempat diinventarisasi. Poster-poster itu didapat dari kiriman rumah-rumah produksi atau sumbangan orang-orang perfilman. “Awalnya ya dari koleksi Pak Misbach Yusa Biran,” katanya. Koleksi tertua Sinematek adalah poster film Melati van Agam (1930).

Bersama rekannya, Sadan, dia mengurusi ribuan poster film. Perawatannya masih sederhana. Selain membersihkannya dari debu dua kali sebulan, dia menggunakan kamper untuk mengusir ngengat pemakan kertas. ”Ya kalau dibersihkan tidak semuanya juga. Bergantian saja, sedapatnya,” kat Budi.

Ruang arsip poster Sinematek terletak di bagian paling bawah dari gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta Selatan. Sempit, lembab, berantakan, kondisinya terbilang cukup memprihatinkan.

“Poster-poster dulu banyak yang digarap dengan teknik lukisan. Nilai artistiknya kalau untuk saya terbilang cukup tinggi. Sayang kalau nanti harus rusak. Sekarang saja banyak yang sudah robek-robek,” risau Budi.

Sederhana

Warga Hindia Belanda, kini Indonesia, kali pertama menikmati gambar idoep alias film pada 5 Desember 1900, di sebuah rumah di daerah Tanah Abang, Kebon Jahe. Sebuah film dokumenter menampilkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag. Namun butuh waktu 26 tahun untuk menyaksikan film cerita, Loetoeng Kasarung, yang disutradarai L. Heuveldorp dengan kamerawan G. Krugers. Film itu meraup banyak penonton dan mendorong banyak orang untuk memproduksi film.

Menurut Adi Pranajaya, mantan kepala Sinematek yang menulis sejumlah buku tentang poster film Indonesia, kesuksesan itu tak lepas dari sistem promosi dan publikasi yang digunakan. Salah satunya melalui media poster.

“Poster sebagai media promosi turut menentukan sukses-gagalnya sebuah film di pasaran. Dari awal, sejak film Loetoeng Kasarung, dunia perfilman di Indonesia sudah menggunakan media poster,” kata Adi. “Saat itu posternya masih sederhana. Kadang hanya berupa sebuah gambar yang diambil dari adegan film tanpa tambahan apa-apa lagi.”

Selain adegan film, poster biasanya menampilkan potongan atau guntingan foto para artis yang terlibat, terutama tokoh utama, yang dipadukan dan dipercantik dengan sedikit polesan lukisan tangan. Warnanya masih hitam putih. Dengan kesederhanaan itu, para pembuat poster berusaha agar pesan film tersampaikan dan tentu saja menarik orang untuk datang ke bioskop. Misalnya Melati van Agam (1930) garapan Lie Tek Swie yang bercerita tentang kasih tak sampai ala Siti Nurbaya. Ilustrasi pada posternya menampilkan pemuda-pemudi dalam bingkai berbentuk hati (love).

Namun, ada pula poster yang terlalu ramai dengan pesan atau teks-teks pendukung sehingga kurang sedap dipandang mata. Poster film Terang Boelan (1937), misalnya, menampilkan promosi penggunaan 100 persen bahasa Indonesia, keterlibatan artis-artis beken, hingga nyanyian –kini dikenal dengan istilah soundtrack– dan pemandangan alam indah.

Jejak pembuat poster di masa lalu sendiri sulit dilacak. Hanya ada satu nama yang tercatat sebagai seniman poster, yakni S. Toetoer, anggota Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang terbentuk pada 1938. Sebagai penghargaan atas jasanya, namanya melekat pada penghargaan yang diberikan kepada desainer poster film terbaik: Piala S. Toetoer.

“Piala S. Toetoer mulai diberikan sejak tahun 1984, bersamaan digelarnya Festival Film Indonesia. Sejak 2004 piala ini sudah tidak ada lagi,” ujar Adi.

Sebelum Tergusur Digital

Memasuki era kemerdekaan, dengan hadirnya teknologi foto dan cetak berwarna, poster film terlihat semakin menarik, eye catching. Namun, penekanan yang ditampilkan dalam poster belum berubah.

“Pertama, menonjolkan tokoh utama terkait dengan film yang dipromosikan dan dipublikasikan. Kedua, menghadirkan suasana atau keadaan sebagaimana isi cerita. Dan ketiga, menjelaskan pula tokoh lainnya atau tokoh pendukung yang terlibat melalui gambar atau foto,” tulis Adi Pranajaya dalam Poster Film Sesudah Masa Kemerdekaan.

Perubahan terjadi pada 1970-an. Pembuat poster mulai meninggalkan penggunaan kalimat promosi yang menjelaskan perihal film. Ciri yang paling kuat di era ini, yang berlanjut hingga 1980-an, adalah pendekatan teknik lukis –sekalipun teknik guntingan foto lebih sering dipakai.

“Pimpinan saya, Agus Subagyo, pernah membuat poster Noesa Penida (1988) dengan teknik ini. Memang membutuhkan skill lukis realis yang kuat,” kata J. Hartono, atau akrab disapa Mas Ton, yang aktif membuat poster film sejak bergabung dengan AS Creative Studio di Depok pada 1985.

Proses pembuatan poster film dengan guntingan foto pada 1970-an tak jauh berbeda dari era 1980-an. “Hanya saja teknik tempelan fotonya masih cukup kasar. Di tahun 1980-an kita mengakalinya dengan teknik dempul, amplas, lalu airbrush. Menurut saya, setiap zaman pasti memiliki tantangannya sendiri-sendiri,” ujar Mas Ton.

Baik teknik lukis maupun gunting foto menggunakan tipografi yang sama, dilakukan secara manual. Judul biasanya ditulis di atas sebuah karton lalu dipotong dan ditempel pada kertas kalkir. Selebihnya, misalnya nama-nama pemain, dilekatkan dengan menggunakan Mecanorma, Letraset, atau untuk merek lokalnya Rugos. Perbedaannya hanya pada medianya; gunting foto menggunakan media artwork berupa triplek yang ditempeli karton, sementara teknik lukis menggunakan kanvas.

Pada poster dengan teknik gunting foto, pembuat poster mencetak foto adegan film yang didapat dari produser, memilih, lalu memotong dan menempelkannya pada media artwork. Untuk meminimalisasi efek garis potongan, mereka mendempul, mengamplas, dan menggunakan airbrush. Penggunaan airbrush juga menambah efek dramatis pada gambar. Contohnya, ilustrasi efek awan dan kebakaran pada Membakar Lingkaran Api (1989) atau ilustrasi naga pada Jurus Dewa Naga (1989).

Setelah selesai, masuk tahap color separation. “Lewat proses separasi, kita lalu dapat film dan proof print. Kalau oke, langsung cetak”.

Teknik lukis maupun guntingan foto mulai ditinggalkan pada 1990-an. Pendekatan digital yang serba komputerisasi mengambil-alih.

“Dulu membuat satu desain poster (one sheet), artwork-nya dibuat 1x1 ukuran 60x90 cm, bisa memakan waktu 3-6 hari, tergantung tingkat kesulitannya. Proses color separation-nya juga butuh waktu berhari-hari. Sekarang, dengan komputer, bisa selesai dalam hitungan jam,” ujar pria yang kini aktif sebagai Art Director di Debindo Comunication.

“Semuanya serba digital, praktis dan instan. Namun, kreativitas, sense of art, dan kematangan tetaplah di atas segalanya.”

Hiburan, Film
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK