Habis Antar Surat Terbitlah Cinta

Rutinitas mengantarkan surat kepada seorang gadis putri bupati menumbuhkan cinta. Drama cinta seorang pengantar surat.

1492057281000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Habis Antar Surat Terbitlah Cinta
Judul: Surat Cinta Untuk Kartini | Sutradara: Azhar Kinoi Lubis | Pemain: Chicco Jerikho, Rania Putri Sari, Melayu Nicole, Christabelle Grace Marbun, Ence Bagus | Produser: Lukman Sardi | Produksi: MNC Pictures | Rilis: 21 April 2016 | Durasi: 118 menit. Foto: muvila.com.

Tak sampai hati melihat tawaran cerita Dian (Melayu Nicole), guru baru, ditolak murid-muridnya, Rangga mengambil-alih kelas. Dia enggan menawarkan cerita yang sudah umum, seperti tentang Kartini yang ditawarkan Dian. Rangga memilih cerita yang belum pernah didengar para murid, tentang seorang tukang pos yang setia mengantarkan surat-surat Kartini.

Para murid tak lagi menawar. Didampingi Dian yang duduk sembari memangku salah seorang murid, mereka duduk manis mendengar Rangga mendongeng.

Ditimpali music scoring bernuansa Jawa dan suara Rangga mendongeng, adegan beralih ke kehidupan tukang pos bernama Sarwadi (diperankan Chicco Jerikho) di Jepara tahun 1901.

Seperti kebiasaan orang Jawa, Wadi sarapan di rumah sambil berbincang dengan Ningrum (Christabelle Grace Marbun), anak semata wayangnya.

Ini hari pertama Wadi sebagai tukang pos. Wajahnya memancarkan kebahagiaan. Setelah menerima ucapan selamat bergabung dari bosnya, Wadi mengayuh sepedanya ke alamat-alamat di surat-surat yang dia bawa.

Ketika tiba di rumah bupati Jepara, Wadi senang ketika bertemu dengan Dewi, abdi dalem di rumah itu, yang lama tak dijumpainya. Dewi adalah ibu dari Mujur (Ence Bagus), sahabat Wadi sejak kecil. Tapi kesenangan terbesar Wadi adalah bisa melihat langsung gadis cantik bernama Kartini (Rania Putri Sari). Keduanya sempat beradu pandang sesaat.

Pertemuan itu membekas di hati Wadi. Ningrum kebagian cerita pertemuan itu saat malam di rumah. “Bapak ndelok langsung ndoro bupati itu seperti apa,” ujar Sarwadi kepada anaknya.

Bibit cinta bersemi. Kesempatan mengantarkan surat-surat Kartini selalu dimanfaatkannya untuk bertemu Kartini. Halangan abdi dalem tak menyurutkan niatnya. Dia mencurahkan isi hatinya kepada Mujur, yang setia mendengarkan. Ketika shock karena mendengar kabar Kartini akan dipinang, Mujur pula yang membantunya bangkit dengan membuat skenario surat palsu Kartini untuknya.

Kesempatan untuk mendekati Kartini akhirnya terbuka lebar tatkala Wadi mendengar kabar bahwa Kartini ingin membuka sekolah untuk perempuan Jawa. Kepada Dewi, Wadi mengutarakan keinginannya untuk menyekolahkan Ningrum kepada Kartini.

Kartini berhasil mewujudkan mimpinya, kendati dalam waktu lama hanya Ningrum murid satu-satunya. Banyak anak tertarik belajar kepada Kartini, namun tak beroleh orangtua mereka yang umumnya khawatir bila perempuan terlalu pandai maka akan sulit mendapatkan jodoh.

Sekolah itu mendekatkan Wadi dan Kartini. Dari obrolan basa-basi, keduanya tanpa sungkan membicarakan hal-hal pribadi.

Pasang-surut suasana batin Kartini dan Wadi silih berganti mendominasi film ini. Imajinasi kaya sutradara membuat scene-scene begitu berwarna dan alur film pun apik. Adegan Vito, murid Rangga, menangis menjadi jeda apik untuk sesaat meredakan ketegangan otot syaraf penonton. Puncaknya “terobosan” sutradara terjadi pada bagian akhir dengan ending nan apik.

[pages]

Fiksi Rasa Sejarah

Produser Lukman Sardi dan sutradara Azhar Kinoi Lubis memang tak hendak menghadirkan film ini sebagai biopic serius. Kartini dan kehidupan di masanya hanya menjadi latar. Film ini murni fiksi. Inti ceritanya berkisah tentang drama cinta Wadi. Imajinasi berperan penting membentuk narasi cerita. Kendati demikian, film ini tak digarap asal-asalan. Detail menempati posisi penting. Riset serius dilakukan demi menghadirkan suasana masa itu.

Karena murni fiksi, jelas tak pada tempatnya mengkritisi sisi historis film ini. Tapi, karena mengusung nama besar Kartini, mau tak mau penonton akan mencari dan menelisik fakta-fakta sejarahnya. Meski fiksi, film berlatar sejarah tetap harus akurat dalam fakta. Anakronisme atau ketidakakuratan fakta sebisa mungkin dihindari agar tak mengurangi nilai film.

Setidaknya ada beberapa hal dalam film ini yang berkaitan dengan fakta yang mesti dikritisi. Misal, betapapun moderatnya ayah Kartini dibanding bangsawan-bangsawan lain, dia tetap cuma mengizinkan putri-putrinya keluar untuk belajar dan sesekali menghadiri acara khusus selama menjalani masa pingitan. Dalam film ini, Het Klaverblad atau Daun Semanggi, julukan yang diberikan Nyonya Ovink Soer kepada trio Kartini-Roekmini-Kardinah, bisa bebas keluar rumah bahkan hanya untuk ke pasar.

Film ini juga seakan mengesampingkan unggah-ungguh Jawa, yang masa itu masih dijunjung tinggi. Rasanya aneh bila orang biasa seperti Wadi bisa dengan leluasa menemui dan bahkan mengobrol dengan Kartini laiknya teman di masa kini. Lebih ganjil lagi adegan ketika Wadi menemani Kartini membaca koran di tepi sungai. Di situ, Wadi bertanya “Opo sing lucu?” ketika melihat Kartini tertawa kecil sambil memperhatikan bacaannya. Amat kurangajar bila ada jelata berani bertanya kepada bangsawan dengan bahasa ngoko dan laku yang tak pantas –Wadi duduk menghadap kali, hanya kepalanya menoleh ke arah Kartini saat bertanya.

Hal lain yang penting untuk disorot dari film ini, Kardinah dan Roekmini seakan hanya dayang-dayang Kartini. Keduanya hanya digambarkan selalu mendampingi Kartini, menebar senyum, dan hampir tak pernah bicara selain mengiyakan omongan Kartini. Padahal, keduanya juga berpikiran progresif dan punya cita-cita memajukan pendidikan bagi perempuan bumiputera. Kardinah, misalnya, kerap bertukar pikiran dengan Nyonya Abendanon dan bahkan mendirikan Sekolah Kepandaian Putri Wismo Pranowo pada 1916.

Tapi sudahlah. Toh sejak awal produser dan sutradara sudah mendaulat film ini murni fiksi. Bebas. Sebebas sutradara menjelajahi fenomena dengan imajinasinya.

[pages]

  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK