top of page

Pemerintah Kolonial Mengurus Kas Masjid yang Berlimpah

Masjid-masjid di Hindia Belanda kelebihan uang. Menyalurkannya jadi polemik pemerintah dan masyarakat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kotak amal diedarkan saat pelaksanaan salat berjamaah. (Shutterstock).

12 Jun 2021
4 menit membaca

Diperbarui: 28 Okt 2025

SETIAP Jumat, sebelum khatib berkhutbah, pengurus masjid-masjid di sejumlah wilayah Indonesia biasanya memaklumatkan penerimaan dan pengeluaran kasnya. Maklumat itu sebentuk tanggung jawab dan transparansi pengelolaan dana masjid yang diperoleh dari masyarakat. Kebiasaan ini bermula sejak masa kolonial.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page