top of page

Cerita di Balik Jangkar Raksasa*

Pedagang Tionghoa sejak lama berdagang di Selayar. Mereka berbaur darah dengan orang Selayar.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 4 Des 2023
  • 2 menit membaca

DESA Bontosunggu di Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Selayar dikenal pula dengan sebutan Desa Padang. Dikitari laut dan tambak, sejak dulu di desa ini sudah ada jangkar raksasa. Sekitar tahun 1995, dari tepi laut jangkar raksasa itu ditarik lebih jauh ke arah daratan. Warga desa itu mengerahkan 70 laki-laki kuatnya. Mereka menggeser jangkat dengan bantuan kayu penopang.


“Satu orang hampir mati,” aku Abdulrachman, warga Bontosunggu yang kini berusia 53 tahun.


Abdulrachman merupakan cucu Nurdin Tjoa, warga keturunan Tionghoa di Bontosunggu. Kala upaya pemindahan itu, Nurdin masih hidup.


Setelah bekerja dengan susah payah, dua jangkar beserta tiga pucuk meriam kecil pun berpindah dari tempat semula sejauh kira-kira 300 meter. Kini, kelima benda bersejarah itu berada di dalam sebuah museum kecil di Bontosunggu.


Menurut cerita lisan yang berkembang di Desa Padang, jangkar dan meriam itu peninggalan dari Baba Desan. Dia dianggap pedagang kaya yang berasal dari Gowa.



Perairan Padang dulunya banyak didatangi oleh orang-orang Bajo—yang dikenal sebagai masyakat nomaden yang tinggal di dalam perahu. Menurut Christian Heersink dalam The Green Gold of Selayar, orang-orang Bajo biasa menjual komoditas yang hendak dikumpulkan oleh para pedagang Tionghoa. Di antara pedagang Tionghoa itu adalah Kwee Tiong Hi Tong dan Tjoa Lesang.


Tjoa Lesang, dikenal sebagai Baba Lesang, dianggap sebagai pendiri Desa Padang. Marganya sama dengan nama belakang Nurdin, Tjoa. Menurut cerita yang berkembang di Desa Padang, Tjoa Lesang adalah anak dari seorang laki-laki Tionghoa-Belanda dengan perempuan Sulawesi Selatan. Pada 1830, Tjoa Lesang mencari tempat yang menjanjikan untuk membangun pos dagang. Maka terpilihlah daerah yang kini dikenal sebagai daerah Padang ini.


Kwee Tiong Hi Tong dan Tjoa Lesang, disebut Heersink, bersama Daeng Bungu dan Supu pada 1855 menjadi pedagang yang dominan di daerah Padang. Kala itu terdapat 60 perahu pencari teripang. Dalam Muhibah Jalur Rempah, peneliti sejarah pelayaran Abdul Rachman Hamid mengatakan, teripang menjadi satu komoditas yang dihargai mahal oleh pedagang dari daratan Tiongkok. Teripang adalah bahan kosmetik. Heersink mencatat, setiap tahunnya mereka bisa mengumpulkan 300 kwintal teripang. Pada 1847, pedagang Tionghoa Thing Hang berkolaborasi dengan perusahaan Eropa Mesman. Para pedagang Tionghoa kemudian mendirikan sebuah pelabuhan transit yang terhubung dengan Makassar.



Sambil menjual teripang, pedagang Tionghoa juga mengimpor tekstil dari Eropa. Mereka menjadi agen dari Weyergang & Co dan Ledeboer & Co. Dari Selayar, tekstil itu kemudian dipasarkan hingga ke Maluku dan Nusa Tenggara. Desa Padang, yang pada 1884 berpenduduk 1500 jiwa, bersama dengan Batangmata dan Pamatata (Tanete) pada 1879 oleh pemerintah Hindia Belanda dijadikan tempat penyimpanan mesiu yang dibawa dari Singapura.


Nurdian Tjoa dan Abdulrachman tentu bukan satu-satunya keturunan Tionghoa di Selayar. Mereka para keturuan Tionghoa hidup berdampingan dengan etnis-etnis lain baik yang sudah ada lebih dulu maupun yang datang belakangan. Dari hidup berdampingan, perkawinan antaretnis pun muncul. Perkawinan antara pedagang asing seperti Tionghoa, India, atau yang lain dengan perempuan Selayar sudah terjadi pada abad-abad silam.


“Itu ada pada masa lalu,” terang Yusmawati, koordinator Kelompok Kerja Diplomasi Budaya Kemendikbud.


Dengan demikian, menurut Abdul Rahman Hamid, Selayar sejak dulu memang tempat munculnya kebhinekaan. Selain etnis Bugis dan Makassar, di Selayar juga ada orang Bajo dan juga Tionghoa.


Tulisan ketiga serial Muhibah Jalur Rempah 2023

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jambi, a major oil-producing region in Indonesia, proved difficult for the Dutch Parachute and Red Elephant units to capture.
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Barisan Madoera yang di eksis sebelum tahun 1942 dibubarkan Jepang. Kiprahnya diteruskan Korps Tjakra Madoera.
Barisan Madoera yang di eksis sebelum tahun 1942 dibubarkan Jepang. Kiprahnya diteruskan Korps Tjakra Madoera.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
Karena susu sapi mahal dan bergantung pada impor, pemerintah membuat susu alternatif terbuat dari kedelai untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak-anak.
Peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui novel, lagu, dan film. Karya kreatif ini menjadi medium pembelajaran tentang kekerasan negara terhadap warganya.
Peristiwa 1998 tetap hidup di ruang publik melalui novel, lagu, dan film. Karya kreatif ini menjadi medium pembelajaran tentang kekerasan negara terhadap warganya.
transparant.png
bottom of page