Menggapai Bintang di Langit

Setelah jatuh-bangun, William Soeryadjaya berhasil membangun perusahaan raksasa otomotif di Indonesia: Astra.

1487902893000
  • BAGIKAN
Menggapai Bintang di Langit
Judul: Man of Honor, Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya | Penulis: Teguh Sri Pambudi & Harmanto Edy Djatmiko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Terbit: III, Maret 2013 | Tebal: xviii + 689 halaman | Foto: Empat karyawan pertama Astra di kantor pertama Astra di Jalan Sabang 36A Jakarta. Sumber: Dok. Astra.

William Soeryadjaya tertimpa musibah. Ingin merebut perusahaannya, PT Sanggabuana, mitranya malah melaporkan William ke polisi dengan tuduhan penggelapan pajak. Tak hanya ditendang dari perusahaan, William juga ditahan di penjara Banceuy, tempat Sukarno pernah menjalani masa tahanan.

Sebulan lebih, William dibebaskan karena tak ada bukti yang dapat menjeratnya. Melihat kesulitan yang dialami kakak tertuanya, Benjamin Suriadjaya (Tjia Kian Joe), menghubungi kakaknya, Tjia Kian Tie, yang setelah lulus kuliah ekonomi di Universitas Amsterdam Belanda pada 1952 menetap di sana.

Kian Tie pulang ke Indonesia di pengujung 1956. Bersama E. Hardiman (Liem Peng Hong), teman sekolahnya sekaligus pengusaha rokok di Malang, dia membeli sebuah perusahaan yang tak aktif lagi tapi masih mengantongi izin ekspor-impor. Di perusahaan ini, William bertanggungjawab atas operasional sehari-hari dan mengelola keuangan perusahaan. Benjamin yang masih kuliah teknik sipil di Institut Teknologi Bandung menjadi salah satu pemegang saham.

Mereka sepakat mengganti nama perusahaan tersebut. Kian Tie mengusulkan nama Astra, diambil dari Astrea, yang dalam mitologi Yunani kuno merupakan dewi terakhir yang terbang ke langit dan berubah bentuk menjadi bintang yang bersinar terang.

Meski karyawannya hanya empat orang, William menambahi kata Internasional biar perusahaan lebih mentereng dan menjadi semacam keinginannya agar kelak bisa berkiprah di pentas internasional. Pada 20 Februari 1957, PT Astra Internasional Inc (belakangan Inc dihapus), yang bergerak di bidang perdagangan, berdiri dan berkantor di Jalan Sabang 36A Jakarta. Pada 1961, Kian Tie, Benjamin, dan Peng Hong memutuskan mengalihkan seluruh saham kepada William. Sejak itu, William menjadi pemilik tunggal Astra.

“Mereka pasti memilih jalan terbaik,” kata William dalam biografi Man of Honor. Buku karya Teguh Sri Pambudi dan Harmanto Edy Djatmiko ini dengan baik mendedah perjalanan hidup William Soeryadjaya dalam membangun Astra hingga menjadi perusahaan goliath otomotif di Indonesia.

Anak Pengusaha Angkutan

William lahir di Majalengka, Jawa Barat, pada 20 Desember 1922, dengan nama Tjia Kian Long. Sebagai anak pengusaha angkutan dan hasil bumi, William hidup berkecukupan. Namun, pada 1934 kedua orangtuanya meninggal. Pendidikan William di MULO terpaksa terputus karena usaha angkutan ayahnya yang dikelola pamannya tak berkembang.

Sebagai kepala keluarga, William memilih berdagang. Dia membuka kios di Pasar Andir, Bandung, yang menjuadl barang kebutuhan pokok. Dia juga menjual gula ke Jakarta dan mengangkut ikan asing ke Bandung. Namun, di tengah peperangan, usahanya sulit maju.

Ketika Kian Tie mendapat beasiswa Universitas Amsterdam, William menyusul dan menimba ilmu di sekolah kejuruan teknik penyamakan kulit di Middelbare Vackschool v/d Leder & Schoenindustrie di Waalwijk. Istrinya, Lily Anwar, kemudian menyusul. Mereka kembali ke Indonesia pada Juni 1949.

Membantu suaminya usaha penyamakan kulit, Lily menjual makanan, alat tulis yang dipasok ke sejumlah kantor, dan berpatungan dengan temannya menjual veld bed (ranjang lipat). Gagal dalam usaha penyamakan kulit, William membantu usaha veld bed. Pada 1952, dia bersama iparnya, Tjoan Hoat, mendirikan PT Sanggabuana. Perusahaan importir ini memasok kebutuhan departemen-departemen, dari kertas dan besi hingga semen dan alas beton.

Sanggabuana lahir di saat pemerintah meluncurkan Program Benteng, yang mengalami banyak kegagalan karwna pengusaha pribumi menjual lisensinya kepada pengusaha nonpribumi –sehingga muncul istilah Ali-Baba. “William mengambil celah ini. dia berkongsi. Engkoan dalam bahasa yang popular saat itu,” tulis Pambudi dan Djatmiko.

Sejak berdiri sampai 1956, Sanggabuana berganti direksi sebanyak 13 kali karena beragam faktor, dari ketidakcocokan sampai ketidakcakapan. “Setelah bergonta-ganti pengelola perusahaan, mitranya ingin mengambil-alih Sanggabuana yang berjalan cukup baik,” tulis Pambudi dan Djatmiko. “Sang mitra yang dekat dengan Presiden Sukarno itu menggunakan pengaruhnya sampai ke jantung kekuasaan. Ke Polisi, William dilaporkan korupsi dengan cara menggelapkan pajak.”

Setelah keluar dari penjara Banceuy, William mengurus dan membesarkan Astra Internasional.

Dari Odol Sampai Otomotif

Perusahaan yang kemudian menjadi Astra adalah agen penjualan kornet daging merek CIP dan minuman limun merek PremClub. Astra meneruskan bisnis ini dengan menambahkan produk lain, yakni pasta gigi Fresh O Dent dan ODOL-dent. Astra juga terjun di bisnis pengiriman aluminium fosfat (tawas), bohlam lampu listrik, dan fitting; mengekspor kopra dan minyak goreng; serta mengimpor besi beton, pelat besi, bahkan kulkas merek Westinghouse.

Kebijakan Perdana Menteri Djuanda yang menghentikan Program Benteng yang rasialis membuat asa William membuncah. Astra semakin leluasa berusaha. “Dan mungkin ini sebuah anekdot, perjalanan Astra selanjutnya tak bisa dilepaskan dari sosok Perdana Menteri Djuanda,” tulis Pambudi dan Djatmiko.

Pada 1962-1964, Astra terpilih sebagai salah satu pemasok lokal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Waduk Jatiluhur Jawa Barat. Astra memasok bahan bangunan, pipa, karet, dan baja, untuk proyek yang juga disebut Waduk Djuanda sebagai penghormatan kepada Perdana Menteri Djuanda. Dan setelah huru-hara politik tahun 1965, Astra pindah dari Jalan Sabang ke sebuah rumah di Jalan Juanda III No. 8 Jakarta.

Sejak Orde Baru, Astra tumbuh menjadi pemain utama otomotif. Mulanya Astra mengimpor 800 truk Chevrolet dari General Motor dalam bentuk semi-knock-down (SKD), yang akan dirakit di Indonesia.

Satu-satunya tempat yang tepat untuk merakit truk itu adalah bekas pabrik General Motor, NV General Motors Java Handel Maatschappij yang dibangun pada masa kolonial Belanda sebelum akhirnya jatuh ke tangan pemerintah Indonesia. Pada 25 Februari 1969, PT Gaya Motor, perusahaan patungan antara Astra dan pemerintah, berdiri. Dengan dana pinjaman bank, Astra membenahi pabrik itu. Tantangan berikutnya muncul: Astra belum menemukan mitra asing yang akan menjadikan Astra sebagai agen untuk merakit serta menjual kendaraan di Indonesia.

General Motor dan Nissan menolak lamaran Astra. Pada Juli 1969, Astra akhirnya mendapatkan rekan dari Toyota Motor Company, berkat pengaruh Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo –yang dekat dengan Kian Tie– dan lobi Soedjono Hoemardani, asisten pribadi Presiden Soeharto untuk urusan ekonomi.

Dengan masuknya Toyota ke Indonesia, segalanya terasa bergerak begitu cepat. Hanya dalam waktu setahun, Astra menjalin kemitraan dengan Honda untuk sepeda motor, Fuji-Xerox untuk mesin fotocopi, Daihatsu untuk kendaraan niaga, dan Komatsu untuk alat berat. Dengan pabrikan mobil Eropa, Astra menjalin kemitraan dengan Alfa Romeo, Peugeot, dan Renault, dan perusahaan alat berat Allis-Chalmers.

Selain dalam sektor otomotif yang menjadi anadalan, Astra merambah bisnis lain: perdagangan, keuangan, kontraktor, elektronik, komputer, hotel, kayu lapis, sampai agrobisnis. Pada 1989, tercatat ada 235 perusahaan yang bernaung di bawah Grup Astra.

Kerja keras William Soeryadjaya, meninggal 5 April 2010, membawa Astra “menggapai bintang-bintang di langit.”

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK