Independensi yang Memihak

Keberhasilan buku ini terletak pada usaha keras menampilkan Mochtar Lubis sebagai manusia biasa.

1488814398000
  • BAGIKAN
Independensi yang Memihak
Judul: Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi kritis Mochtar Lubis (1922-2004) sebagai pemimpin redaksi dan pengarang | Penulis: David T. Hill | Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia | Terbit: Pertama, 2011 | Tebal: 362 hlm + xiv | Foto: kedaibukubekas.blogspot.co.id.

MOCHTAR kecil terhenyak menyaksikan tiga kuli kontrak perkebunan dicambuk. Kendati sudah dilarang, dia nekat memanjat pohon, supaya bisa melihat langsung hukuman badan yang dipimpin oleh ayahnya itu. “Perlakuan kejam itu meninggalkan bekas pada saya dan menyebabkan trauma,” kata Mochtar seperti dikutip David T. Hill.

Hukuman tersebut menjadi pengalaman awal dari kepeduliannya terhadap hak azasi manusia dan bertumbuhnya kepedulian sosial dalam dirinya. Tapi memang Mochtar berbeda sejak kecil. Saat anak-anak lain lebih suka bermain dalam aktivitas fisik, Mochtar memilih menyendiri. Menenggelamkan diri ke dalam buku-buku bacaan.

Berpuluh tahun kemudian, jalan takdir membawanya menjadi seseorang di atas panggung sejarah di Indonesia. Mochtar Lubis dikenal sebagai wartawan terkemuka, pemimpin redaksi suratkabar Indonesia Raya, sastrawan yang sangat produktif, salah satu penentang Sukarno di masa demokrasi terpimpin, antikomunis yang gigih dan pengikut setia Sutan Sjahrir.

Sebagai wartawan yang kerapkali berseberangan dengan penguasa, sejak zaman Sukarno sampai Soeharto, Mochtar mendapatkan tempat terhormat di dalam jagat juruwarta. Mengalami dua kali pembredelan, sekali di zaman Sukarno dan sekali pada zaman Soeharto. Membuatnya dicatat di dalam kitab sejarah sebagai wartawan yang direken paling berani menentang kekuasaan.

Mochtar adalah Indonesia Raya, Indonesia Raya adalah Mochtar. Begitulah identifikasi yang kerap melekat pada dirinya, kendati dia bukan pendiri koran tersebut. Indonesia Raya pertama kali terbit pada 29 Desember 1949, dua hari setelah peralihan kedaulatan pada 27 Desember 1949, ketika Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia (hlm. 45). Koran itu digagas oleh beberapa perwira Siliwangi yang kala itu menguasai Jakarta. Tentara menjadi pemasok kebutuhan yang penting bagi terbitnya Indonesia Raya.

Mochtar mulai direkrut sebagai pemimpin redaksi kala Mayor Brentel Susilo, salah seorang penggagas utama Indonesia Raya, tak puas dengan kepemimpinan Julli Effendi, pemimpin redaksi sebelumnya. Sejak itulah debut Mochtar sebagai pemimpin redaksi Indonesia Raya bermula. Titik temu Brentel dengan Mochtar terletak pada haluan politik mereka yang berada dalam jangkauan radar PSI dan Sutan Sjahrir.

Dalam waktu yang tak berapa lama Indonesia Raya tampil sebagai salah satu dari sedikit koran terkemuka di Indonesia. David Hill dalam buku ini mencatat beberapa momen bersejarah di mana Indonesia Raya turut mengambil peran di dalam pemberitaan. Antara lain peristiwa 17 Oktober 1952 dan pemberitaan ihwal perkawinan Presiden Sukarno dengan Hartini (hlm. 56).

Pada peristiwa 17 Oktober 1952, Mochtar memilih untuk berada di belakang tentara yang mengarahkan moncong meriam ke arah Istana Merdeka. Dia berada dalam posisi yang sama dengan tentara untuk memaksa Presiden Sukarno membubarkan parlemen karena dianggap terlalu jauh mencampuri urusan internal militer.

Pilihan Mochtar untuk berpihak kepada tentara karena dia merasa gerah dengan iklim politik yang terlalu banyak diwarnai percekcokan di dalam parlemen. “Indonesia Raya mendukung para kolonel karena sistem partai liberal menjadikan Indonesia tak mungkin untuk maju..” kata Mochtar (hlm. 55). Dan dia merasa tentara, yang juga anak kandung revolusi Indonesia, punya peran dan kewajiban yang sama dengan para politisi untuk menjaga kepentingan masa depan bangsa.

Terungkapnya fakta temali erat antara tentara berhaluan sosialis dengan dapur redaksi Indonesia Raya sudah cukup membuktikan kadar “independensi” Mochtar sebagai wartawan. Apalagi dia selalu dielu-elukan memiliki independensi dan obyektivitas tinggi. Tapi apalah arti independensi media pada masa di mana usaha penerbitan selalu berelasi dengan partai politik.

Benar Indonesia Raya, sejak kali pertama terbit telah menepuk dada sebagai koran independen yang terlepas dari segala macam aliran politik dan koneksi partai politik. Namun demikian sejarah Indonesia pascakemerdekaan menunjukan bahwa militer juga tumbuh menjadi kekuatan politik yang cukup berpengaruh.

Kekritisan Indonesia Raya (termasuk Mochtar di dalamnya) akan terlihat menguat apabila berhadapan dengan soal-soal yang muncul dari pihak Sukarno. Pernikahan diam-diam Sukarno dengan Hartini menjadi bahan berita bulan-bulanan Indonesia Raya terhadap Sukarno. Bagi Mochtar, tak pantas seorang Sukarno, yang telah menunjukkan keberpihakannya kepada perempuan di dalam buku Sarinah melakukan poligami secara diam-diam.

Berita itu tentu saja berhasil menaikkan oplah cetak Indonesia Raya dan meningkatkan pendapatannya secara drastis. Memang, dibandingkan dengan Harian Rakjat, Pedoman dan Merdeka, oplah Indonesia Raya terlalu kecil untuk bisa dibandingkan. Berita sensasional itu kembali menunjukkan kualitas permusuhan Mochtar terhadap Sukarno yang akan terus meningkat di masa-masa selanjutnya dan berakhir pada pemenjaraan dirinya selama sembilan tahun. Daya kritis Mochtar terhadap Sukarno (dan PKI tentu saja) lebih tampak dilandasi perasaan sentimen yang mendalam.

Dalam situasi dunia yang tengah terbagi dua, keberpihakan merupakan sikap yang mewarnai situasi politik di Indonesia pada kurun 1950-an sampai dengan 1960-an. Mochtar sejak awal menunjukan sikapnya yang antikomunis dan secara terang-terangan pro barat dan liberalisme. Sebuah sikap politik yang mencerminkan tradisi berpikir kaum sosialis Sjahririest.

Tapi di sanalah letak kemenduaan Mochtar sebagai seorang intelektual yang mendambakan kehidupan demokrasi namun pernah mendukung pembubaran parlemen. Mendukung tentara memegang kendali politik demi masa depan bangsa namun lagi-lagi proyeksinya salah saat Soeharto, yang digadang-gadang dalam beberapa tajuk pada periode kedua penerbitan Indonesia Raya, justru menghianati cita-citanya.

Ketika terjadi pembantaian massal di Purwodadi pada 1969, Indonesia Raya mengirimkan Maskun Iskandar untuk meliput peristiwa di sana. Mencari bukti-bukti pembunuhan massal yang sebelumnya diungkap oleh Poncke Princen. Mochtar menulis paling tidak tiga tajuk soal itu. Tetap dengan pikiran penuh kecurigaan serta rasa was-was bahwa isu pembunuhan massal itu jangan sampai digunakan sebagai “amunisi” serangan balik kaum komunis.

Kebencian yang mendarah daging pada komunisme itu memang bagai tulang dengan kulit. Menyatu dalam dirinya. Sampai puluhan tahun kemudian, pada 1995, saat Pramoedya Ananta Toer mendapatkan anugerah Ramon Magsaysay, Mochtar meradang. Menggalang solidaritas menolak keputusan panitia sembari mengancam mengembalikan hadiah serupa yang diterimanya pada 1958.

Dalam buku ini, David Hill “menelanjangi” Mochtar. Menyuguhkan sosoknya secara utuh, mulai masa kecil sampai dengan masa penghabisan hidupnya. Mochtar tak hanya dilihat sebagai seorang wartawan heroik tapi juga manusia yang seringkali kepleset karena keputusan-keputusan yang dibuatnya sendiri.

Menelanjangi Mochtar bukan perkara mudah bagi David. Paling tidak pada bagian akhir buku ini dijelaskan bagaimana David sempat “bermusuhan” dengan Mochtar gara-gara dia menanyakan keterlibatannya di dalam Congres for Cultural Freedom (CCF) yang didanai CIA, termasuk soal kedekatannya dengan Ivan Kats yang disebut-sebut sebagai agen CIA.

Selain berhasil menghadirkan Mochtar sebagai manusia biasa, David juga sukses membuat pembaca tak berminat mengkritik caranya menulis Mochtar yang seberjarak serta senetral mungkin. Dengan caranya itulah dia berhasil menggiring pembaca untuk mengetuk palu vonisnya masing-masing: tentang lakon macam apakah yang dimainkan Mochtar Lubis dalam sebuah periode sejarah di Indonesia.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK