Anak Historis Kamper

Sebuah buku yang menyajikan hasil riset penting dalam menyingkap kabut sejarah Barus.

1464676799000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Anak Historis Kamper
Sampul buku "Barus Negeri Kamper: Sejarah Abad ke-12 hingga Pertengahan Abad ke-17". Penulis: Daniel Perret & Heddy Surachman (editor). Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia. Tahun: 2015. Tebal: 702 halaman.

HERMAN Neubronner van der Tuuk, yang dikirim Perkumpulan Alkitab Belanda tiba di Barus, di pantai barat Sumatra Utara, pada 1856. Tujuannya: menerjemahkan Alkitan ke dalam bahasa Batak. Ketika berada di sana, dia membeli banyak benda kuno, yang ditemukan beberapa tahun sebelum kedatangannya, dari para penggali liar.

Van Tuurk mengirim sejumlah uang koin emas dan cincin berukir ke hasil buruannya ke Kelompok Seni dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Selain itu mengirimkan beberapa keping koin emas dan perak kepada orientalis Henricus Christian Millies, seorang ahli numismatika.

Van der Tuuk menghubungkan benda-benda kuno itu dengan situs kuno Lobu Tua dan mengidentifikasikannya dengan nama Fansur atau Pancur yang disebut dalam sumber-sumber kuno. Sejauh ini dia dianggap sebagai pelopor penelitian mengenai Barus. Berkat penelitiannya, Barus memasuki era baru: mulai jadi perbincangan ilmiah.

“Inilah titik awal kajian-kajian tentang sejarah Barus,” tulis Daniel Perret dan Heddy Surachman dalam pendahuluan buku ini.

Sejak itu, sejumlah penelitian terus dilakukan untuk menyingkap sejarah Barus yang masih abu-bau. Termasuk yang dilakukan Ecole Francaise d Extreme-Oriet dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Indonesia sejak 1995.

Dari Makam Sampai Tembikar

Jauh sebelum kedatangan Van der Tuuk, Barus sudah menjadi bahan perbincangan banyak orang dari berbagai tempat. Catatan para pengelana asing, inskripsi, prasasti, kronik-kronik lokal, dan bukti-bukti tertulis lain acapkali menyebut namanya. Selain sebagai titik penting dalam perniagaan kuno di Samudera Hindia (pelabuhan transit), Barus sudah ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai negeri sejak sebelum abad ke-6. Mereka datang untuk mendapatkan komoditas utama Barus, yakni kamper dan kemenyan –disusul emas, kayu gaharu, dan sutra.

Orang-orang Asia Selatan, terutama India dan Tamil, merupakan perintis perniagaan asing di Barus di samping orang Melayu, Aceh, dan Jawa. Bangsa Arab, Parsi, dan Tiongkok menyusul tak lama berselang.

Setelah ditinggalkan penduduknya secara tiba-tiba pada peralihan abad ke-11 menuju abad ke-12 (kemungkinan karena diserang, belum jelas oleh siapa dan apa motifnya), pusat kegiatan Barus berpindah-pindah ke daerah di sekitarnya hingga akhirnya Barus memiliki dua kerajaan, di hulu dan hilir. Setelah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14, Barus akhirnya menjadi taklukkan Aceh selama beberapa abad sebelum menjadi bagian dari Hindia Belanda (kini, Indonesia).

Periode panjang sejarah Barus meninggalkan banyak catatan dan artefak. Penelitian terhadap makam-makam kuno dan peninggalan-peninggalan sejarah, yang menjadi sajian utama buku ini, mengungkapkan banyak fakta penting terkait sejarah Barus.

Penelitian terhadap makam kuno antara lain mengungkap bahwa semua makam itu berada di tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. “Besar kemungkinan, pilihan ini tidak dilakukan secara kebetulan, tetapi berkaitan dengan kepercayaaan pra-Islam lokal yang menganggap gunung sebagai kediamanan dewa dan orang mati,” tulis Daniel Perret, Heddy Surachman, dan Ludvik Kalus di Bab 13 buku ini.

Makam-makam kuno itu juga unik. Selain berbahan batu tufa lokal, nisan Barus memiliki bentuk-bentuk yang khas. Beberapa bagian diilhami motif kirttimukha, yaitu “wajah gemilang” dari India yang berbentuk kepala singa ajaib bermata menonjol dengan api keluar dari mulutnya. Nisan-nisannya, yang terutama terbuat dari granit kasar keabuan dan batu pasir kekuningan, menunjukkan pengaruh budaya dari Asia Selatan (terutama India, Tamil, dan Gujarat), Aceh, Melayu, dan Jawa. Sementara inskripsi yang dipakai dalam nisan-nisan itu adalah bahasa Arab. Segi ini membuka kemungkinan lebih lebar bahwa realitas niaga di Barus berjalan beriringan dengan segi sosial-budaya dan sosial-politik.

Hubungan niaga itu pula yang menjadi landasan hipotesis bahwa Barus merupakan gerbang masuknya Islam di Nusantara. Selain didasari artefak dan catatan-catatan, hal yang membuat logis hipotesis itu adalah rentang waktunya. Pada masa Islam baru muncul, telah banyak orang Arab di Barus. Amat mungkin dalam kurun waktu itu mereka sudah Muslim dan ikut menyebarkan agama Islam ke pantai barat Sumatra. Makam-makam kuno memperkuat hipotesis tersebut.

[pages]

Tembikar

Artefak memiliki arti yang tak kalah penting dalam penguakan sejarah Barus. Ekskavasi beberapa situs di Barus tahun 2001-2004 menghasilkan ribuan tembikar dari era berbeda. Di situs Bukit Hasang saja, ekskavasi menemukan 1.500 pecahan tembikar dan 700 pecahan keramik. Dari kendi hingga piring. Temuan ini bukan hanya membuktikan luasnya relasi Barus dengan dunia internasional, tapi juga mengungkapkan bahwa Barus tak memiliki kebiasaan membuat tembikar. Ekskavasi di tempat yang sama juga menemukan parit, yang membuktikan adanya benteng di Barus pada masa lalu.

Makam, tembikar, dan Parit Timur (panjang 300 meter) hanyalah sedikit dari banyak temuan penting yang disajikan buku ini. Mereka melengkapi, beberapa di antaranya mematahkan, fakta-fakta sebelumnya yang membentuk narasi sejarah Barus.

Buku ini adalah jilid ketiga dari serial hasil penelitian kolaborasi tim Indonesia-Prancis, yang dilakukan dari tahun 2000 sampai 2005. Dua buku sebelumnya, Lobu Tua: Sejarah Awal Barus (terbit 1998) dan Barus Seribu Tahun Yang Lalu (2007) membahas sejarah Barus dari abad ke-9 hingga 11.

Berbeda dari dua buku sebelumnya, yang menyajikan narasi, buku ini fokus pada penyajian proses penyingkapan sejarah Barus. Ia lebih teknis sehingga lebih berat. Namun semuanya bermuara pada satu hal: kamper, yang rahimnya melahirkan sejarah Barus.

[pages]
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK