Palang Pintu Bukan Cuma di Acara Mantu

Mulanya hanya ada dalam pernikahan, kesenian ini berkembang menjadi prosesi penyambutan di berbagai acara.

1512918841000
  • BAGIKAN
Palang Pintu Bukan Cuma di Acara Mantu
Palang Pintu Grup Batavia sedang adu silat di acara diskusi “Pendekar Bahasa dan Budaya Betawi: Abdul Chaer” di Bentara Budaya Jakarta, Jumat, 9 Desember 2017.

DUA pria berusia 40-an tahun itu saling berhadapan. Sambil menantang, salah satu pria langsung buka mulut:

Punye tane ditanemin sawi, badan basah abis mencangkul.

Belum sempurne ngaku orang Betawi, kalau kagak bisa maen pukul.”

Sontak, pria di hadapannya langsung menyahut: “Muke cemong main di empang, ikan sepat jangan dimatiin.

Ngomong sih emang gampang, cepat sini dibuktiin!”

Adegan berbalas pantun itu terjadi dalam prosesi Palang Pintu yang dilakukan Grup Batavia, salah satu kelompok budaya yang masih aktif melestarikan Palang Pintu, di bawah pimpinan Haji Zahrudin di acara diskusi “Pendekar Bahasa dan Budaya Betawi: Abdul Chaer” yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (9/12/2017) malam. Zahrudin, yang sudah menulis tiga buku pantun Betawi, awalnya hanya mendalami maen pukul (silat Betawi). Tapi karena sewaktu menikah mendapati cerita Palang Pintu yang kurang bagus, Zahrudin perlahan mendalami kesenian Betawi, dari pantun hingga Palang Pintu.

Palang pintu merupakan kesenian Betawi yang menjadi satu rangkaian dalam upacara pernikahan. Kesenian ini membutuhkan kemampuan berpantun juga silat. “Orang Betawi itu dari dulu suka berpantun, itu salah satu sastra lisan Betawi. (Pantun, red.) ada di berbagai kesenian Betawi, seperti Palang Pintu. Di lenong juga ada,” kata Rachmat Ruchiyat, peneliti budaya Betawi.

Secara filosofis, kata Zahrudin, Palang Pintu menjadi wadah untuk menguji kemampuan calon pengantin pria. Pihak pria mesti menampilkan kemampuan silatnya karena kelak diharapkan bisa menjaga istrinya dari bahaya. Selain itu, calon pengantin pria diuji kemampuan agamanya dengan tantangan berupa membaca ayat Al Quran.

Gambaran tradisi budaya seperti itu antara lain ditulis Alwi Shahab dalam Maria van Engels: Menantu Habib Kwitang. Dalam suatu upacara pernikahan, tuan rumah akan meminta pihak tamu untuk menunjukkan kemampuan silat. Jago tuan rumah dan jago tamu pun adu silat.

“Tentu saja yang harus ‘menang’ jago dari pihak tamu. Hanya dalam satu dua jurus, pihak tuan rumah menyatakan ‘cukup, cukup! Abang punye jago emang jempolan’,” tulis Alwi.

Dalam perjalanan waktu, Palang Pintu mengalami perubahan. “Dulu, Palang Pintu cuma terbatas pada prosesi pernikahan. Tapi dengan berkembangnya waktu, Palang Pintu juga (digunakan –red.) untuk pengarakan para pejabat, gubernur. Jadi, sekarang arakan pejabat pakai Palang Pintu. Kami menyesuaikannya dengan mengatur alur cerita pantun,” kata Zahrudin, yang sudah 25 tahun menggeluti palang pintu.

Sementara, dalam hal pemenang-pecundang yang umumnya menaruh pihak perempuan sebagai pihak “kalah”, Rahmat punya pandangan beda. Pada mulanya, kata Rahmat, Palang Pintu tak ada pihak yang kalah. Keduabelah pihak mulanya saling beradu pantun dengan santai lalu menjadi semakin panas dan dilanjutkan adu pukul. Palang Pintu diakhiri oleh peleraian yang dilakukan tetua.

“Kenapa begitu? Ini kan mereka datang untuk melaksanakan salah satu sunah rasul,” kata Rachmat menirukan kalimat pelerai dalam Palang Pintu.

Palang Pintu perempuan yang tidak kalah, lanjutnya, menggambarkan masyarakat Betawi yang egaliter, menempatkan posisi perempuan dan laki-laki dengan derajat sama. “Itu kan berkaitan erat dengan kedudukan wanita di masyarakat Betawi. Kalau Betawi itu, seimbang, sama, sifatnya egaliter, gitu ceritanya,” ujarnya sembari senyum. “Dulu itu tidak sampai kalah tapi ada yang melerai, orang-orang tua. Nah, kalau sekarang pasti deh pihak perempuan kalah, jadi menunjukkan perempuan itu lemah.”

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK