Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu

Sepatu kulit tertua dari zaman batu mengawali tren alas kaki. Tak hanya berfungsi sebagai pelindung kaki tapi juga penunjang penampilan.

17 May 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu
Lukisan cat air dari 1540 menunjukkan perempuan Spanyol di pattens, sepatu platform yang mendahului model chopine. Pada awalnya dipakai di bawah sepatu untuk melindungi mereka dari jalanan becek. (collectorsweekly).

Tak ada sepasang sepatu tertentu yang menadai awal sejarah alas kaki. Pasalnya, bentuk sepatu yang berbeda digunakan untuk iklim dan medan yang berbeda. Di wilayah utara misalnya, alas kaki terbuat dari kulit tebal dan dilengkapi dengan bulu juga jerami agar hangat. Sementara di wilayah selatan, sebagian besar alas kaki terbuat dari daun kelapa atau serat papirus.

Awalnya, orang-orang membutuhkan alas kaki untuk melindungi kaki mereka. Lambat laun, alih-alih hanya soal kebutuhan praktis, manusia memakai sepatu lebih karena untuk mengikuti tren mode.

Adapun kebiasaan memakai sepatu ini kemungkinan besar sudah jauh lebih lama dibanding temuan sepatu tertua yang kini ada. Mengutip National Geographic, buktinya adalah fosil manusia berusia 40.000 tahun yang punya tulang jari kaki lemah. Itu bisa dianggap sebagai pertanda kemungkinan munculnya kebiasaan memakai alas kaki.

Sepatu Oetzi

Di Pegunungan Alpen, Austria pada 1991 para arkeolog menemukan manusia mumi bernama Oetzi. Ia berasal dari zaman batu, diperkirakan meninggal sekira 5.300 tahun yang lalu. Menariknya, ia masih mengenakan sepatu kulitnya.

Sepatu itu nampaknya dirancang untuk berjalan melintasi salju. Ia pun kedap air dan bersol lebar. Solnya terbuat dari kulit beruang. Bagian atasnya dari kulit rusa. Lalu bagian jaring-jaringnya dibuat dari kulit pohon. Jerami diletakkan di sekeliling kaki di dalam sepatu, sehingga fungsinya mirip kaus kaki modern. Jahitannya kecil dan tidak terlalu bisa diandalkan mengingat alat yang dimiliki orang pada saat itu.

Sepatu Kulit Armenia

Sepatu kulit tertua ditemukan ketika penggalian arkeologis di Gua Armenia. Sepatu ini ditemukan dalam kondisi masih baik. Perhitungan tanggal radiokarbon menunjukkan sepatu ini berasal dari sekira 3.500 SM, yaitu masa logam Armenia.

Ditemukan dalam kondisi terisi rumput, bentuknya nampak seperti moccasin, yaitu sepatu tanpa hak yang terbuat dari bahan kulit bertekstur lembut. Begitu pula sepatu ini terbuat dari sepotong kulit sapi. Pada bagian depan dan tumit terdapat jahitan dari tali kulit.

Ketika dipakai, ia menutup area tumit dan kaki. Sepatu itu bisa milik laki-laki atau perempuan, karena tak cukup banyak yang diketahui tentang kaki orang Armenia pada masa itu. Jika dibandingkan ukuran kaki modern, lebih mirip milik perempuan, yaitu 7 dalam ukuran AS.  

Sepatu Mesir

Koleksi The Victoria and Albert Museum.

Sepatu terbuka datar berbentuk perahu ini terbuat dari anyaman buluh. Talinya juga terbuat dari buluh yang panjang dan tipis, yang ditutupi oleh potongan buluh yang lebih lebar. Bentuk sepatu praktis dari masa Mesir Kuno 1550 SM ini berlanjut dengan gaya yang sama pada abad ke-19.

Sepatu Rami

Koleksi The Victoria and Albert Museum.

Berasal dari 68-56 SM, sepatu ini terbuat dari beberapa lapisan tanaman rami yang dijahit bersama dengan cara yang mirip dengan teknik perca atau quilting. Jahitan juga memiliki fungsi dekoratif. Ini adalah salah satu dari beberapa sepatu yang ditemukan pada penggalian arkeologis di jalur sutra kuno, Dunhuang utara, Tiongkok. Contohnya juga dapat dilihat pada kaki tentara terakota Xi'an.

Sepatu Bebat Kaki

Sepatu mungil semacam ini pernah dipakai perempuan di lingkungan kekaisaran Tiongkok paling tidak sejak masa Dinasti Song abad ke-10 M. Sejak kecil kaki mereka dibebat agar pertumbuhan kaki terhambat dan tetap berukuran 8 cm. Pembebatan kaki menjadi hal biasa pada wanita dengan status sosial yang lebih tinggi. Praktik ini kemudian dilarang pada 1911.

Poulaine

Pada abad ke-12 para perajin sepatu Eropa mulai membuat sepatu berujung lancip. Gaya sepatu ini populer disebut poulaine. Mereka memiliki ujung runcing yang sangat sempit dan terbuat dari kulit. Bentuknya makin ekstrim pada akhir abad ke-14. Mereka memakai sepatu sempit yang ujungnya lancip mengarah ke atas.

Kala itu banyak orang menjadi korban mode. Sebagian bangsawan berpesta dengan sepatu yang begitu panjang dan sempit, hingga mereka terpaksa menalikan ujung sepatu di pita elastis yang dipasang di sekitar lutut mereka. Di lingkungan istana Inggris terutama, kaum bangsawannya begitu ekstrem mengikuti gaya ini. Akibatnya, mereka sulit berjalan. Itu sampai membuat dikeluarkannya aturan yang mengatur panjang sepatu.

Sepatu Ujung Bulat

Koleksi The Victoria and Albert Museum​​​​​​.

Pada awal 1500-an, di Inggris bisa ditemukan beraneka macam bentuk sepatu. Namun, sepatu berujung kotak adalah yang terpopuler. Namun, beda untuk anak-anak, bentuk sepatu mereka berujung bundar, seringnya berbahan kulit, dengan satu tali pengait di bagian atas melintang dari sisi satu ke sisi lainnya. Model sepatu ini hingga kini masih dijumpai, khususnya sebagai model sepatu anak-anak.

Sepatu Cocor Bebek

Henry VIII mengenakan sepatu berujung cocor bebek dalam lukisan Hans Holbein the Younger.

Pada abad ke-16 sepatu menjadi lebih pendek dengan ujung yang lebih bulat, dan model sepatu cocor bebek masuk ke pentas mode. Contohnya, pada lukisan dari 1536 menampilkan Raja Henry VIII dari Inggris berpose dengan mode busana paling mutakhir saat itu. Ia mengenakan sepatu cocor bebek dengan lapis atas berpola sayatan. Sepatu ini diberi bantalan agar bentuk tetap lebar.

Sepatu Hak Tinggi

 Louis XIV mengenakan sepatu hak tinggi dalam lukisan Hyacinthe Rigaud.

Selama periode Renaisans, raja-raja di Eropa sering memakai sepatu berhak sangat tinggi untuk menunjukkan supremasi mereka. Mereka juga bisa tetap berjalan anggun di atas kubangan air, karena tinggi hak sepatu mereka terkadang bisa mencapai 30 cm.

Baca juga: Langkah Stiletto

Sepatu ini adalah prototipe sepatu platform modern. Raja Louis XIV dari Prancis disebut-sebut memainkan peran penting yang membuat sepatu berhak tinggi popular.

Chopine

Chopine adalah jenis platform untuk perempuan yang populer pada abad ke-15, 16, dan 17 M. Chopine populer dipakai di Venesia oleh pelacur hingga perempuan ningrat sejak 1400-an hingga 1700-an.

Awalnya sepatu ini digunakan sebagaimana bakiak, yaitu untuk melindungi sepatu dan pakaian dari lumpur dan tanah jalanan. Selain fungsi praktisnya, tinggi hak chopine menjadi petunjuk simbolik bagi status sosial si pemakai. Semakin tinggi sepatunya, makin tinggi statusnya.

Selama era Renaissance, chopine menjadi barang mahal. Beberapa tingginya bisa lebih dari 50 cm. Pada 1430, ketinggian chopine pun dibatasi oleh hukum Venesia hingga tiga inci. Namun aturan ini diabaikan.

Gaya Barok (Baroque)

Sebagai kesenian, aliran ini berkembang di Eropa sekira abad ke-16 hingga abad ke-18. Ini ditandai dengan gaya yang kompleks dan kecenderungan akan keagungan dan kemewahan. Gaya ini pun mempengaruhi mode, khususnya model sepatu. Bahan beludru, satin, sutra, hiasan berbunga-bunga dan batu permata mewarnai sepatu-sepatu pada era ini. Itu baik yang dikenakan laki-laki maupun perempuan. Keterampilan hebat pun dibutuhkan bagi para pembuat sepatu. Tak ada produk masak pada era ini, karena masing-masing sepasang sepatu dibuat dengan tangan.

Khususnya ketika Charles II dikembalikan ke takhta pada 1660 muncul lagi perubahan mode. Sepatu berhak merah menjadi populer di Inggris. Terutama, gaya sepatu ini untuk menunjukkan status, baik untuk perempuan maupun pria.

Sepatu Bot Kulit

Arthur Wellesley, Duke of Wellington mengenakan sepatu bot kulit dalam lukisan Thomas Lawrence.

Selama abad ke-18, Perang Napoleon berlangsung. Namun begitu perang berlalu, pada abad ke-19 model sepatu menjadi lebih praktis. Ini pun kemudian membedakan model sepatu laki-laki dan perempuan dan menandai berakhirnya sepatu berhak tinggi bagi laki-laki karena model itu lebih disukai perempuan. Sementara laki-laki lebih suka yang praktis, seperti sepatu bot kulit.

Sepatu Trendi

Audrey Hepburn dengan kitten heels dan The Beatles dengan sepatu chelsea.

Tren baru muncul pada paruh kedua abad ke-20 dengan melejitnya budaya pop Amerika yang dikaitkan dengan keinginan untuk menjadi berbeda, unik dan menjadi bagian dari subkultur tertentu. Bahan baku yang lebih murah, struktur baru dan gaya hidup yang berbeda mengubah citra pria dan wanita. Alas kaki yang mewah dan berkualitas tinggi diubah oleh alas kaki yang trendi dan selalu berubah warna. Aktor dan penyanyi Hollywood sangat mempengaruhi popularitas dari model sepatu tertentu. Band The Beatles misalnya, mempopulerkan sepatu Chelsea, aktris Audrey Hepburn mempopulerkan sepatu kitten heels.

Sepatu, Mode
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK