Masuk Daftar
My Getplus

Datang ke Medan Terjerat Pelacuran

Kisah ibu kota Kesultanan Deli yang kerap memikat pelaku bisnis prostitusi dari zaman ke zaman. Bahkan hingga kini, bisnis haram itu masih tetap berjalan.

Oleh: Martin Sitompul | 15 Jul 2020
Potret prostitusi jalanan di Kota Medan. Foto: Yuyung Abdi dalam "Sex for Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia".

Lagi-lagi selebriti tanah air tersandung kasus prostitusi. Seorang artis FTV berinisial HH yang juga selebgram tenar kena ciduk polisi. Sang artis kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan seorang pengusaha di kamar hotel bintang lima di kota Medan.

Sejatinya jejak prostitusi di Medan dapat terlacak sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, Medan masih berupa kampung lahan perkebunan untuk tanaman tembakau Deli.

Dalam panen perdananya, tembakau Deli laku keras ketika diekspor ke pasaran Eropa. Sejak itulah, permintaan pun kian meningkat. Untuk mengupayakannya tetap stabil, para tuan kebun memerlukan pasokan tenaga kerja. Mempekerjakan buruh perempuan jadi pilihan karena perempuan lebih teliti untuk pekerjaan ringan dan mau dibayar murah.

Advertising
Advertising

Prostitusi di Perkebunan

Pada 1873, para tuan kebun mendatangkan pekerja perempuan yang berasal dari Jawa. Kuli perempuan ditugaskan untuk menyortir daun tembakau atau mengambil ulat hama. Upah mereka terbilang kecil, hanya setengah dari upah yang diterima kuli laki-laki. Lagi pula, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal sehingga harus membaur dengan kuli laki-laki. Maka tidak heran, untuk memenuhi kebutuhan dasar, para kuli perempuan terpaksa melacurkan diri di lingkungan pekerja kebun.

“Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20. “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.”

Baca juga: 

Prostitusi di Perkebunan Deli

Menurut Ann Laura Stoler dalam Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979, banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Medan karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di perkebunan, kenyataan berbicara lain. Mereka menjadi alat untuk membuat kuli laki-laki betah bekerja di kebun. Dengan demikian, para kuli bersedia memperpanjang kontraknya.

Tenaga para kuli yang mengerjakan lahan perkebunan mengubah wajah kampung Medan. Memasuki abad 20, tanah rawa yang subur itu menjadi kota koloni yang ramai. Pada 1891, Sultan Deli, Makmun Perkasa Alam memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Pada 1 April 1909, Medan memperoleh statusnya sebagai gementee (kota) baru.

Dalam Sejarah Medan Tempo Doeloe, Tengku Luckman Sinar mencatat, dalam sekejap saja berduyun-duyun maskapai-maskapai dan pengusaha asing meminta tanah yang baik dan subur kepada Sultan Deli agar diizinkan membuka lahan perkebunan. Sepanjang jalan raya antara Labuhan dengan Medan telah penuh dengan rumah-rumah pelacuran dan rumah-rumah judi.

“Kuli-kuli yang baru gajian, sekejap mata telah kehilangan gajinya sehingga terpaksa harus menandatangani kontrak baru,” tulis Luckman Sinar.

Baca juga: 

Penjaja Diri di Kebun Deli

Prostitusi di perkebunan menyebabkan munculnya berbagai penyakit kelamin danpenyakit sosial seperti maraknya kelahiran “anak-anak kebon” hingga tindakan kriminal. Surat kabar Pewarta Deli 3 September 1916 memberitakan maraknya pencurian di toko-toko di Medan. Pencurian terjadi karena gaya hidup kuli perkebunan yang suka menghamburkan uang di meja judi dan pelacuran.  

Medan Kota Metropolitan

Memasuki zaman Indonesia merdeka, kota Medan terus berbenah. Di era Orde Baru, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Lazimnya kota-kota besar, gaya hidup hiburan malam pun ikutan berkembang di Medan. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, salon kecantikan, panti pijat, sampai lokalisasi bermunculan di pusat kota. Di tempat-tempat seperti itulah praktik prostitusi acap kali terjadi.

“Bioskop yang memutar film porno bermunculan. Bisnis hiburan malam, nyaris tak terkendali, bahkan ada yang berani menjajakan perawan gres. Protes-protes seakan tak digubris. Hiburan bagi pria iseng, banyak digelar di klub khusus dan salon kecantikan,” tulis majalah Matra No. 93, April 1994.

Baca juga: 

Prostitusi di Jakarta, Sejak Zaman Ali Sadikin Sampai Ahok

Soal bursa seks, sebagaimana termuat dalam  liputan khusus Matra, Medan tampaknya tidak kalah dengan Jakarta. Matra menyebutkan, banyak perempuan muda yang memiliki profesi ganda di Medan. Ada sarjana yang jadi simpanan pengusaha, para istri yang melakukan kerja sampingan untuk menambah penghasilan, para mahasiswi yang menutup kebutuhan uang kuliah dan hidupnya dengan profesi sebagai perempuan panggilan. Semua itu, agaknya bukanlah berita yang aneh lagi bagi masyarakat setempat. Beberapa kawasan yang diinisialkan Matra seperti NR, NB, JA, GP, dan K adalah tempat berkumpulnya perempuan panggilan kelas tinggi.    

“Kemunculan prostitusi kelas tinggi adalah konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat, peningkatan taraf hidup, dan meningkatnya kemampuan perekonomian. Dan prostitusi kelas menengah atas itu memang menjadi ciri khas kota besar,” ujar dr. Baren Ratur Sembiring, ahli kebidanan dan penyakit kandungan kepada Matra.

Selain itu, prostitusi jalanan di Medan masih jadi pilihan bagi Perempuan Seks Komersil (PSK) yang tidak memiliki akses di tempat hiburan. Menurut Yuyung Abdi, jurnalis foto Jawa Pos, sebelum 2008, PSK yang  menjajakan diri di pinggir Jalan Iskandar Muda dapat ditemui saat malam telah larut. Namun, setelah beberapa kali polisi pamong praja gencar melakukan razia mereka lebih nyaman menjajakan diri sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim atau Jalan Gajah Mada.

Baca juga: 

Remang Terang Prostitusi

“Razia pemkot tentu sangat melelahkan. Mengejar mereka tengah malam butuh biaya dan energi. Meski, jumlah keseluruhan pekerja seks di kawasan jalanan tidak masif. Tidak lebih dari 100 orang,” kata Yuyung dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia.

Selama belasan tahun mereportase potret prostitusi di Indonesia, Yuyung mengatakan dari segi jumlah, tempat hiburan syahwat di Medan memang cukup banyak. Namun entah mengapa keberadaannya seolah "terpinggirkan”. Para PSK tidak banyak bermain di kota tersebut. Mereka lebih memilih Batam, yang barangkali lebih menjanjikan dari sisi lancarnya arus rezeki prostitusi. Kendati demikian, prostitusi jalanan di Medan masih tetap awet sampai saat ini.

 

TAG

seksualitas prostitusi medan

ARTIKEL TERKAIT

Kisah Amat Boyan, Raja Bandit dari Medan Karayuki di Bumi Pertiwi Riwayat Homofobia Mengorek Ngondek Kisah Tarigan, Laskar Buronan Westerling di Medan Cerita di Balik Cadas Pangeran Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika Fasilitas "Plus-plus" dalam Konferensi Asia Afrika Kisah Romansa Masa Lalu Memuja Dewi Cinta Mesopotamia