Masuk Daftar
My Getplus

Sardjito, Dokter Revolusi Indonesia

Seorang dokter yang memberi sumbangsih keilmuan untuk dunia kesehatan di Indonesia. Berkat jasanya, obat-obatan tercipta dan penelitian vaksin terus berkembang hingga sekarang..

Oleh: M. Fazil Pamungkas | 15 Apr 2021
Sardjito, rektor pertama UGM (Wikimedia Commons)

Prof. Dr. Sardjito. Nama itu sohor sebagai salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Tak banyak masyarakat tahu siapa sosok itu dan apa sumbangsihnya sehingga namanya diabadikan. Semasa hidupnya dia dikenal sebagai dokter, peneliti, dan akademisi yang berjasa dalam mengembangkan vaksin dan obat-obatan. Semua itu dia lakukan sejak masa Hindia Belanda hingga Indonesia memasuki revolusi kemerdekaan.

Sardjito lahir di Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1889. Dia putra seorang guru Sekolah Rakyat bernama Sajit dan merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Sejak kecil, Sardjito menerima pendidikan yang sangat baik dari orang tuanya. Tidak hanya pengetahuan umum, seperti menulis, membaca, dan berhitung, tetapi juga pengetahuan agama. Bahkan ketika usianya baru 6 tahun, dia sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Pendidikan formal pertama Sardjito ditempuh di Sekolah Rakyat di Purwodadi. Dia merupakan murid yang pintar di sekolahnya. Karenanya sebelum menyelesaikan pendidikan dasar di Purwodadi, Sardjito mendapat beasiswa untuk pindah ke sekolah Belanda di Lumajang. Sekolah itu hanya khusus bagi kalangan Eropa dan bangsawan pribumi saja. Di sanalah pertama kali Sardjito belajar bahasa Belanda.

Advertising
Advertising

Baca juga: Vaksin Darurat Masa Revolusi

Sardjito terus melanjutkan pendidikannya di sekolah Belanda hingga sekolah menengah. Setelah lulus pada 1907, Sardjito memperoleh beasiswa dari Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Batavia. Dikisahkan Irfan Waskitha Adi dalam acara Jambore Kesejarahan “Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949: Patriot Bangsa Merebut Ibu Kota” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, (27/04/2021), di STOVIA Sardjito bertemu dengan banyak tokoh-tokoh pergerakan, salah satunya Ki Hadjar Dewantara.

“Kemudian yang sangat menginpirasi beliau untuk akhirnya memiliki pemikiran ingin mendirikan pendidikan yang setara bagi bangsa sendiri itu adalah Soetomo, kakak kelas beliau yang nantinya menjadi ketua pertama Budi Utomo,” kata Irfan.

Pada 1915, Sardjito menyelesaikan pendidikan dokternya. Dia lalu bekerja di sejumlah klinik dan rumah sakit di Batavia. Kurang lebih setelah dua tahun bekerja sebagai tenaga kesehatan, Sardjito menemukan minat lain di dunia medis, yakni penelitian penyakit dan obat-obatan. Sardjito pun memutuskan keluar dari rumah sakit dan bekerja sebagai peneliti di lembaga penelitian vaksin dan obat milik pemerintah Hindia Belanda: Institute Pasteur.

Mulanya Sardjito ditempatkan di laboratorium Batavia, lalu dia dipindahkan ke laboratorium pusat di Bandung. Selama bekerja sebagai peneliti di Institute Pasteur, Sardjito memperlihatkan prestasi yang baik. Dia kemudian ditawari beasiswa pendidikan di negeri Belanda, tepatnya di Universitas Amsterdam dan Leiden, guna memperdalam keilmuannya tentang penyakit-penyakit yang berkembang di daerah tropis. Dari Belanda, imbuh Irfan, Sardjito melanjutkan pendidikan di Baltimore, Amerika Serikat, hingga memperoler gelar Master of Public Health.

Baca juga: Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan

Setelah menyelsaikan seluruh pendidikannya, Sardjito kembali ke tanah air. Dia langsung ditempatkan di Makassar, Sulawesi Selatan sebagai kepala laboratorium. Di sana, Sardjito melakukan penelitian mendalam mengenai penyakit Lepra. Dia lalu mendapat tawaran kerja sama melakukan penelitian dari Jerman. Pada 1931 dia berangkat ke salah satu negara industri besar Eropa tersebut dan menetap selama beberapa waktu.

Sepulang dari Jerman, Sardjito menempati jabatan kepala laboratorium di Semarang, Jawa Tengah. Dia mengemban jabatan tersebut hingga  Republik Indonesia (RI) berdiri secara resmi  pada 17 Agustus 1945. Selama di laboratorium Semarang, Sardjito melakukan banyak penelitian tentang penyakit-penyakit yang kerap mewabah di masyarakat, seperti typus, malaria, influenza, dan lain sebagainya. Dia pun melewati masa pendudukan Jepang di sana, dan sempat bekerja di bawah komando militer Jepang untuk urusan penelitian kesehatan.

Setelah proklamasi, Institute Pasteur diambil alih oleh pemerintah RI. Seluruh aset dan laboratorium penelitian lembaga ini kepemilikannya berada di bawah Kementerian Kesehatan. Disebutkan dalam buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I, terbitan Departemen Kesehatan RI, pada akhir September 1945, menteri kesehatan memberikan amanah kepada Sardjito untuk memimpin Institute Pasteur pusat di Bandung. Dia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang memegang jabatan kepala Institute Pasteur.

Baca juga: Vaksin dan Harapan di Tengah Wabah Penyakit

“Sesudah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamirikan kemerdekaannya, maka Institute Pateur Bandung boleh dikatakan tidak mempunyai pimpinan. Beberapa karyawan yang berjiwa patriotik merasa khawatir jika Institute Pasteur diambil oleh Inggris dan kemudian diserahkan kepada pemerintah Belanda,” tulis Departemen Kesehatan RI.

Di bawah pimpinan Sardjito, Institute Pasteur memberikan bantuan medis penting bagi militer dan sipil di Bandung. Bersama dengan Palang Merah, Institute Pasteur membangun pos-pos kesehatan di sejumlah titik di kota Bandung, terutama setelah Inggris datang ke kota kembang tersebut. Menurut Irfan, berdasarkan keterangan Herman Johannes, ketika Inggris datang Sardjito telah diminta untuk mengungsi. Tetapi karena banyak peralatan, serta obat-obatan penting di Institute Pasteur, dia memutuskan tetap tinggal dan menjaganya. Selain itu, tenaga kesehatan di lembaganya juga banyak yang harus menjaga pos-pos medis di sekitar Bandung, sehingga Sardjito memilih tinggal untuk memimpin mereka.

Setelah keadaan Bandung semakin tidak terkendali dan para pejuang memilih meninggalkan kota tersebut,  Sardjito menginstruksikan pengungsian bagi seluruh staf medis di Bandung. Untuk peralatan dan obat-obatan di Institute Pasteur, Djawatan Kereta Api membantu proses pengangkutannya. Sardjito dibantu oleh Emma Poeradiredja dari Djawatan Kereta Api, serta mahasiswa teknik di ITB, membawa obat dan vaksin ke Klaten, Jawa Tengah. Laboratorium Institute Pasteur pun secara resmi dipindah sementara dari Bandung ke Klaten.

Baca juga: Yang Pertama dari Kedokteran Indonesia

Di Klaten perjuangan Sardjito tetap berlanjut. Dia membangun pos-pos medis di sejumlah tempat penting, terutama sekitar jalur transportasi. Ketika Serangan Umum 1 Maret 1949 pecah, Sardjito membantu militer Indonesia di garis depan untuk urusan medis. Dia juga membuat ransum untuk tentara Indonesia, yang dikenal dengan nama Biskuit Sardjito. Semasa perang dia tidak henti-hentinya menyuplai kebutuhan obat-obatan para tentara.

“Dalam diary beliau, masa-masa di Klaten tersebut cukup menyulitkan dan menyedihkan. Dituliskan juga dalam wasiat beliau itu merupakan saat-saat yang mengerikan,” kata Irfan.

Sardjito, imbuh Irfan, merupakan salah satu tokoh yang berjasa mendirikan univeristas-universitas besar di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Andallas. Dia juga yang memprakarsai penamaan nama pahlawan di universitas-universitas tersebut. Sardjito menjadi rektor pertama UGM dari 1949 sampai 1961.

Selain vaksin dan obat-obatan semasa perang, Sardjito berjasa membuat obat untuk penyakit ginjal pada sekitar tahun 1950-an. Berawal dari keingingan membuat obat untuk istirnya yang sakit batu ginjal, Sardjito memproduksi massal obat tersebut dengan harga terjangkau. Sardjito tutup usia pada 5 Mei 1970, dalam usia 80 tahun.

TAG

kedokteran vaksin sardjito

ARTIKEL TERKAIT

Sardjito dan Biskuit Anti Lapar untuk TNI Sardjito Memimpin Institute Pasteur Melawan Kolera dengan Vaksinasi Massal Vaksin Wabah Penyakit Vaksin Darurat Masa Revolusi Vaksin dan Harapan di Tengah Wabah Penyakit Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin Lama Wabah di Masa Lalu Peran Radjiman Wedyodiningrat sebagai Dokter Keraton Kondisi Kesehatan Jakarta di Awal Kemerdekaan