Masuk Daftar
My Getplus

Belajar dari Dostoevsky yang Mengidap Epilepsi

Dostoevsky mengidap epilepsi tapi tak memungkirinya, bahkan bisa hidup berdampingan dan menghasilkan karya besar.

Oleh: Mira Renata | 14 Jul 2020
Fyodor Mikhailovich Dostoevsky (1821-1881) karya Vasili Perov, 1872. (Wikimedia Commons).

Fyodor Mikhailovich Dostoevsky tengah berbincang dengan saudara perempuan dari istrinya, Anna Grigorievna, yang baru dinikahinya. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Tubuhnya merosot dari permukaan sofa dan bersender lunglai pada sisi tubuh istrinya.

“Tiba-tiba kami mendengar suara tangisan penuh ketakutan, sebuah tangisan tanpa titik kemanusiaan di dalamnya –hampir menyerupai raungan. Tubuh lunglai suami saya semakin tersender pada saya,” tulis Anna, stenograf yang dinikahi Dostoevsky tahun 1867 setelah kematian istri pertama, dalam Anna Dostoevskaya’s Diary in 1867 (1923).

Dostoevsky, penulis besar kelahiran Rusia, mengalami serangan epilepsi dan dia tak menutupi kenyataan. Bahkan, dia mencatat rapi berbagai detail serangan epilepsi yang dialaminya dalam buku harian.

Advertising
Advertising

Suara tangisan biasa timbul mendahului serangan kejang, terutama di tengah mereka beraktivitas. Usai episode kejang, Dostoevsky sering mengalami gangguan berbicara dan menulis (post-ictal symptom). “Selama beberapa waktu aku tidak mampu berucap… ketika menulis aku masih berbuat kesalahan dengan kata-kata,” catatnya dalam jurnal pribadi.

Baca juga: Hitam Tak Hanya Duka

Dalam pergulatannya mengatasi epilepsi, Dostoevsky menciptakan tokoh Myshkin dalam novelnya The Idiot. Myshkin diceritakan, kembali ke Rusia dengan kereta api setelah empat tahun berobat di sebuah sanatorium di Swiss karena “sebuah penyakit keganjilan saraf –sejenis epilepsi dengan kejang-kejang yang tak terkontrol.” Myshkin dideskripsikan sebagai sosok penuh kasih dan pandai namun dijauhi banyak orang karena epilepsi.

Lewat Myshkin pula Dostoevsky mengelaborasi beberapa ciri epilepsi. Salah satunya kemunculan aura kebahagiaan diikuti pengalaman gaib sesaat sebelum episode kejang berawal.

“…satu atau dua momen sebelum kejang menyerang (jika terjadi pada saat ia terbangun), di tengah segala desakan kesedihan, kegelapan spiritual dan depresi, sekejap otaknya seperti terbakar api… Ia tersambar oleh sensasi kehidupan… Semua kekhawatiran, keraguan dan ketakutan seakan larut dalam suasana penuh ketenangan dan pemahaman… namun semua ini hanyalah sebuah awal dari datangnya bagian kedua (yang tak pernah berlangsung singkat) yaitu kejang-kejang. Bagian kedua ini, pastinya, merupakan siksa yang tak tertahankan.”

Bukan Kutukan

Epilepsi sudah tercatat dalam berbagai peradaban kuno, umumnya mengaitkannya dengan hal-hal gaib. Orang Babilonia menilai epilepsi sebagai miqtu atau penyakit jatuh ambruk, yang disebabkan kerasukan roh. Menurut Tablet Sakkiku (1000 SM), gejalanya berupa kejang-kejang dan mulut berbusa.

Orang Romawi juga percaya epilepsi penyakit supranatural. Ketika memilih budak, mereka biasa menyodorkan sebongkah batu jet super hitam. “Jika budak itu tidak jatuh ke tanah mencium bau jet, ia dinyatakan bebas penyakit jatuh ambruk,” tulis Owsei Temkin dalam The Falling Sickness: A History of Epilepsy from the Greeks to the Beginnings of Modern Neurology (1971).

Sementara itu, menurut Marten Stol dalam Epilepsy in Babylonia, orang Yunani menganggap epilepsi merupakan ‘penyakit keramat’ yang berasal dari kekuatan gaib.

Hippocrates (460-370 SM), seorang filsuf dan ahli medis Yunani, menolak pandangan umum itu. “Penyakit ini [epilepsi]… tidak lebih suci dibanding penyakit lain; ia memiliki asal-muasal serupa, kesuciannya setara, serta kesempatan pemulihan yang sama dengan penyakit lain,” tulis seorang penulis anonim menyarikan kuliah Hippocrates dalam Corpus Hippocratium (400 SM).

Baca juga: Jahatnya Malam dan Sulitnya Tidur

Galen (129-200 M), Bapak Medis Romawi, menguatkan keyakinan Hippocrates. Diagnosisnya menyatakan, “gangguan pada otak karena pengentalan cairan tubuh manusia (humor) menyebabkan epilepsi.” Galen juga memperkenalkan istilah aura, suatu perasaan atau gejala penderita epilepsi sebelum kejang.

Temuan Galen mendorong tabib dan dokter menyelidiki epilepsi lebih lanjut. Pada abad ke-10, Theophenes Chrisobalantes dalam Epitome du curatione morborum menjabarkan epilepsi sebagai “serangan kejang pada seluruh tubuh… sehingga seseorang terjatuh dengan mulut berbusa.”

Michael Psellos, ahli medis dan filsuf abad ke-11, dalam Carmen de Re Medica menerangkan bahwa gejala kejang kaku pada penderita epilepsi kerap dilanjutkan kejang menggelepar dan hilangnya kesadaran. Kedua jenis kejang ini sekarang dikenal sebagai kejang tonik-klonik atau epilepsy grand mal.

Namun, pandangan ahli medis belum mampu mengubah persepsi masyarakat. Kaisar Theodore II Lascaris (1254-1258) di Nicaea, pusat kebudayaan dan intelektual Kerajaan Byzantium, masih mengaitkan apa yang dideritanya sebagai perbuatan sihir. Sang kaisar mudah pingsan tanpa sebab. Dia menuduh penasihat dan panglima militer menyihirnya.

Baca juga: Menjelajahi Batas Dukacita

Di Jerman, Malleus Malifacrum (1487), salah satu buku panduan hukuman untuk penyihir menyebut kejang-kejang epilepsi sebagai tanda penyihir. Para dukun percaya Tuhan menurunkan penyakit itu sebagai hukuman atas persekutuan penyihir dengan setan.

Para hakim di Eropa kerap menjatuhkan hukuman mati untuk pengidap epilepsi. “…antara 1487 dan 1520… lebih dari 200.000 perempuan dibunuh karena mengidap gejala epilepsi,” tulis David A. Kaiser dalam “The Disease once sacred: A Brief History of Epilepsy”, makalah tak diterbitkan.

Untuk menyembuhkan epilepsi, sebagian pasien epilepsi berpaling kepada para santo atau orang suci. Di belahan Eropa, tak sedikit yang berziarah ke petilasan Santo Valentinus, yang hidup pada abad ke-4 M dan terkenal sebagai santo cinta.

Memasuki abad ke-18, orang mengategorikan epilepsi sebagai penyakit mental. Metode penyembuhannya dengan memasukkan penderita epilepsi ke rumah sakit jiwa. Perlakuan ini menyiksa penderita epilepsi. Terisolasi, dibuang keluarga, dan ditolak masyarakat.

Baca juga: Beraksi Mengatasi Epilepsi

Hughling Jackson, neurolog Inggris, mengecam keras perlakuan ini. Melalui penelitiannya sepanjang 1864–1873, dia menyimpulkan penyebab epilepsi terlacak dari aktivitas letupan listrik yang terjadi singkat dan tiba-tiba oleh sejumlah neuron abnormal di otak. Letupan tersebut mendorong terjadinya “badai” listrik di dua belahan otak yang termanifestasi lewat episode kejang tonik klonik. Maka, epilepsi tak ada hubungannya dengan kejiwaan.

Temuan Jackson lainnya berupa klasifikasi epilepsi. “Dia membedakan tiga kelas epilepsi berdasarkan dari mana epileptiform atau epileptoid berasal,” tulis Emmanouil Magiorkini dkk. dalam “Hallmarks in the History of Epilepsy” termuat di Novel Aspects on Epilepsy suntingan Humberto Foyaca-Sibat.

Sepeninggal Jackson pada 1899, kajian epilepsi berkembang pesat. Universitas-universitas di Eropa mengategorikan epilepsi sebagai kajian neurologi, cabang ilmu kedokteran tentang susunan saraf.

Baca juga: Di Balik Penyakit Bipolar

Secara garis besar, studi epilepsi di universitas terbagi dua: grand mal dan petit mal. Perbedaannya terletak pada kekuatan lepasnya muatan listrik dan gejala awal, misalnya intensitas kejang. Kejang-kejang adalah ciri umum epilepsi grand mal, sedangkan petit mal mengalami kejang dalam waktu singkat (15 detik).

Banyaknya klasifikasi epilepsi menyebabkan dokter menerapkan terapi berbeda, tergantung bagian otak sebelah mana penyakit itu menyerang. Secara umum, dokter memberi obat antikonvulsi (kejang) kepada pasien.

Penemuan mesin EEG (electroencephalograph) untuk mengukur gelombang otak pada 1920-an oleh Hans Berger di Jerman menjadi tonggak penting memahami berbagai tipe serangan epilepsi. Selain mengidentifikasi lokasi letupan listrik di otak secara lebih akurat, mesin EEG membantu ilmuwan mengeksplorasi bedah saraf sebagai salah satu upaya penyembuhan epilepsi pada 1950-an.

Aura dan Religiositas

Berbagai studi pada 1970-1980-an mempelajari adanya efek lanjut kejang-kejang psikomotor dalam beberapa tipe epilepsi. Peneliti David M. Bear dan Paul Fedio dalam “Quantitative Analysis of Interictal Behavior in Temporal Lobe Epilepsy” yang diterbitkan di Archives of Neurology (1977) menyimpulkan serangan epilepsi pada lobus temporalis memiliki potensi perubahan serta gangguan kepribadian, tergantung lokasi spesifik yang diserang. Lobus temporalis adalah salah satu lobus otak besar yang terletak pada sisi pelipis yang terkait memori, persepsi dan kemampuan mendengar serta berbahasa.

Dalam uraiannya Dostoevsky’s epilepsy (1972), yang kemudian dimuat dalam Psychiatric Aspects of Epilepsy (1984) suntingan Blumer D, neurolog Geschwind menilik Fyodor Dostoevsky sebagai pasien epilepsi lobus temporalis.

Baca juga: Mary Lincoln Mengidap Dipolar

Di kalangan keluarga dan teman-teman dekatnya, Dostoevsky dikenal serius. Ucapan dan tulisannya sarat topik keagamaan, filsafat, dan moral –sebagian karakter yang sering ditemukan pada pasien epilepsi lobus temporalis. Ciri lain adalah kecenderungan hypergraphia (dorongan menulis yang tak terbendung dan terjadi terus-menerus atau berulang).

Selain penulis produktif, Dostoevsky disiplin menulis buku harian dan berkorespondensi lewat surat. Berbagai detail serangan epilepsi yang dialaminya tercatat rapi dalam jurnal pribadi dari 1860 hingga menjelang ajal pada 1881. Total 102 serangan epilepsi menderanya, dengan ragam tenggang waktu dan latar belakang kondisi keluarga.

Misalnya, ketika menulis novel The Idiot pada 1867–1868, Dostoevsky tengah terbelit utang. Bersama istri keduanya, Anna Grigorievna, dia terpaksa pergi ke beberapa wilayah di Eropa untuk menghindari sejumlah penagih. Kesulitan keuangan dan beban emosi menyebabkan serangan epilepsi pada masa ini tergolong paling berat bagi Dostoevsky.

TAG

penyakit epilepsi

ARTIKEL TERKAIT

Sukarno Sakit Ginjal Vaksin Wabah Penyakit Vaksin dan Harapan di Tengah Wabah Penyakit Kakek Donald Trump Korban Pandemi Kala Presiden Amerika Terpapar Virus Influenza Lambatnya Penanganan Pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda Penyebaran Pandemi Ribuan Tahun Lalu Pemakaman Khusus bagi Korban Pandemi Haji Terganggu Pandemi Saat Jakarta Sunyi karena Pendemi