Masuk Daftar
My Getplus

Yang Seteguh Batu Karang: Kisah Grace Walandaow Hartono

Sepeninggal sang suami, Letjen KKO Hartono, Grace harus membesarkan keempat putrinya dalam kesendirian.

Oleh: Hendi Johari | 03 Jul 2019
Pasangan Letjen KKO Hartono dan Grace Walandaow. (Dok. Keluarga Hartono).

JAKARTA, 16 November 2018. Pemakaman Tanah Kusir siang itu dilanda haru. Isak tangis dan sedu sedan mengiringi turunnya peti mati ke dalam liang lahat. Dengan khidmat, seorang pendeta perempuan mengumandangkan kidung pujian, diikuti oleh sebagian besar hadirin yang ada di sana.

“Batu karang yang teguh… Kau tempatku berteduh… Karna dosaku berat dan kuasanya menyesak… Oh bersihkan diriku oleh darah lambung-Mu…”

Kidung pujian berjudul Batu Karang yang Teguh seolah mewakili cerita hidup Grace Walandaow Hartono, perempuan yang hari itu telah pergi ke haribaan-Nya. Tak ada sanak saudara dan sahabatnya yang menyangsikan bagaimana tabah dan kuatnya Grace mengarungi hidup sepeninggal sang suami, Letnan Jenderal KKO Hartono.

Advertising
Advertising

Baca juga: Hartono Loyalis Sukarno

Pyongyang, Korea Utara, awal Januari 1971. Kapten KKO Krisna Rubowo (sekarang kolonel purnawirawan) masih ingat peristiwa itu. Begitu mendengar kabar dari Jakarta bahwa atasannya Letjen KKO Hartono (saat itu menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Korea Utara) telah meninggal, sejenak dia merasa itu seperti mimpi. Hal yang sama juga dirasakan oleh Grace saat beberapa jam kemudian diberi tahu oleh Krisna soal berita sedih itu.

“Ya bagaimana mau percaya, waktu terakhir pergi dari Pyongyang dia ada dalam keadaan sehat walafiat,” kenang perempuan kelahiran Surabaya pada 21 Desember 1937 itu.

Letjen KKO Hartono ditemukan meninggal dalam kondisi kepala bagian belakang tertembak pada Rabu pagi, 6 Januari 1971. Berbagai rumor bertebaran. Ada yang menyebut dia bunuh diri karena merasa frustrasi dengan kondisi politik saat itu. Namun, ada juga yang curiga, Hartono dibunuh sebagai upaya desukarnoisasi rezim Orde Baru di tubuh TNI AL. Pemerintah sendiri via Menteri Luar Negeri Adam Malik menyatakan bahwa sebab kematian Hartono adalah pendarahan di otak.

“Ini merupakan keterangan resmi pemerintah dan sudah tidak akan ada lagi penjelasan-penjelasan lain,” ujar Adam Malik seperti dikutip Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa.

Baca juga: Para Jenderal di Sisi Bung Besar

Menurut Grace, secara langsung Laksamana Sudomo sendiri pernah bicara kepadanya bahwa kematian Hartono memang karena bunuh diri. Itu terkait rasa frustrasi sang komandan KKO itu terhadap upaya penciutan korpsnya tersebut oleh pemerintah Orde Baru.

“Tapi saya tak pernah percaya kepada tuduhannya itu,” ujar Grace kepada saya.

Grace sangat yakin Hartono tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu. Seberat apapun masalah yang dihadapinya, dia akan selalu rasional. Itulah sifat asli Hartono yang selama hidupnya sangat dia kenal.

“Tapi sudahlah, saya sudah ikhlas kehilangannya dan memaafkan mereka yang telah membunuh suami saya,” ujarnya dalam nada lirih.

Sepeninggal sang suami, hidup Grace dan keempat putrinya praktis berubah. Meskipun tersedia dana pensiun bulanan Hartono, namun itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Itulah yang membuat Grace memutuskan turun langsung menjadi tulang punggung keluarganya.

Baca juga: Mengapa Baret Marinir Berwarna Ungu?

Awalnya Grace sempat bingung akan bekerja di mana. Untung ada Els J. Item. Atas kebaikan sepupunya itu, dia bisa bekerja pada bagian administrasi di ITT, perusahaan elektronik asal Eropa, cabang Jakarta.

“Mama lumayan lama bekerja di ITT, dari 1972 sampai 1984,” tutur Nenny Hartono (53), putri ketiga dari Grace dan Hartono.

Lepas dari ITT, Grace bekerja di Sario, perusahaan jasa pengiriman paket bahan makanan ke luar negeri. Di sini dia pun menempati posisi sebagai tenaga administrasi, membantu salah seorang kenalannya.

Grace sendirian memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari empat putrinya. Kendati tidak bisa menikmati hidup mewah, namun hasil dari pekerjaannya cukup untuk membiayai semua keperluan pokok terutama menyewa rumah dan membayar pendidikan anak-anaknya. Lantas adakah keinginan untuk membangun kembali rumah tangga baru?

Baca juga: Jalan Panjang Korps Marinir

Grace tak pernah berpikir untuk mencari pendamping hidup lagi. Dalam pikirannya, dia tak yakin akan ada seorang laki-laki yang dapat menggantikan sosok Hartono dalam cinta kasih kepada dirinya dan keluarga.

“Mama juga bilang ingin fokus membesarkan anak-anaknya,” ungkap Nenny.

Tentang kecintaan Grace kepada Hartono, ada sebuah ungkapan yang kerap dikatakan perempuan berwajah lembut itu: “Mencintai seorang prajurit itu sangatlah mudah. Yang sulit justru mengatasi jarak (saat kita jauh), mengendalikan rasa takut (akan kehilangannya) dan memahami jiwa pengorbanannya. Tapi mencintainya adalah hal yang paling mudah, karena saya pernah melakukannya.”

Seiring anak-anaknya mulai bisa mandiri, Grace pensiun bekerja pada 1990-an. Para putrinya yang kemudian mengurus semua kebutuhan dirinya.

“Kerjaan saya di rumah, sebagian besar hanya membaca,” ujar perempuan sepuh yang pandai berbahasa Inggris dan Belanda itu.

Baca juga: KKO Terjebak di Gunung Wian

Sementara itu, dari waktu ke waktu, banyak petinggi di KKO (sekarang Korps Marinir) menyangsikan sebab kematian yang dilansir oleh pemerintah Orde Baru dan Laksamana Sudomo. Bahkan, dalam program Lacak di Trans TV pada 2004, sesepuh Korps Marinir, Letnan Jenderal (Purn.) Ali Sadikin menyebut kematian koleganya itu sangat kental warna politisnya.

“Saya mendapat informasi bahwa Hartono dibunuh akibat adanya konspirasi tingkat tinggi,” ujar mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Mengemukanya kasus Letjen KKO Hartono tersebut menyebabkan pihak TNI AL kembali menelusuri keluarga mantan panglima KKO itu. Tak lama setelah penayangan program Lacak, Kepala Staf TNI AL Laksamana Bernard Kent Sondakh melalui Mayor Jenderal A. Rifai, Komandan Korps Marnir (2002-2004), menghadiahkan sebuah rumah di Pamulang, Tangerang Selatan untuk Grace dan anak-anaknya.

Penerus A. Rifai, yakni Mayor Jenderal Nono Sampono empat tahun kemudian mengajak Grace dalam peresmian nama “Hartono” untuk Kesatrian Korps Marinir di Cilandak.

“Waktu meresmikan Kesatrian Hartono, saya terharu dan puas karena nama suami saya sudah kembali pulih di lingkungan pasukan kebanggaannya,” ujar Grace.

Akhirnya mimpi yang selalu didekap erat oleh perempuan berhati teguh itu terwujud juga, tepat sepuluh tahun sebelum dia pergi.*

TAG

tni al marinir hartono

ARTIKEL TERKAIT

Ledakan di Selatan Jakarta Hartono Loyalis Sukarno Kiprah Darwis Djamin dan ALRI Tegal R. Soehadi Komandan Marinir Terlama Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir Cerita Tank Renta KKo Terjebak di Gunung Wian Jalan Panjang Korps Marinir Pontang-Panting di Operasi Hastings Mengenalkan Indonesia di Piala Dunia