Masuk Daftar
My Getplus

Soeharto Rekayasa Penyerahan Supersemar

Pembuatan diorama penyerahan Supersemar tidak sesuai fakta kejadian. Soeharto ditampilkan pasif tanpa ambisi kekuasaan. Ada dua versi diorama.

Oleh: Andri Setiawan | 15 Mar 2021
Diorama penyerahan Supersemar di Monumen Nasional yang dibuat pada 1970. (jakarta.go.id).

Ditandatanganinya Supersemar pada 11 Maret 1966 tak berdiri sebagai peristiwa tunggal. Rentetan peristiwa beberapa hari sebelumnya mendukung teori “kudeta merangkak” yang dilancarkan oleh klik Soeharto.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam dalam Dialog Sejarah “Supersemar, Supersamar: Kontroversi Arsip Surat Peralihan Kekuasaan Sukarno ke Soeharto,” Jumat, 12 Maret 2021 di Youtube dan Facebook Historia.id, sejak 9 Maret Sukarno telah didesak untuk menyerahkan kekuasaan.

Pada 9 Maret, dua pengusaha yang dekat dengan Bung Karno, yakni Dasaad dan Hasjim Ning, datang ke Istana Bogor. Kedua pengusaha yang diutus oleh Alamsyah Ratoe Prawiranegara itu membawa surat dari Soeharto. Isinya, Sukarno diminta menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Soeharto. Peristiwa ini diakui Hasjim Ning dan Alamsyah dalam biografi masing-masing.

Advertising
Advertising

“Kedua pengusaha itu dirusuh meminta atau membujuk Presiden Sukarno untuk menyerahkan pemerintahan sehari-hari kepada Soeharto. Sukarno tetap menjadi presiden, tetapi kekuasaan pemerintahan sehari-hari itu dipegang atau diserahkan kepada Soeharto,” jelas Asvi.

Sukarno tentu saja marah. Ia bahkan melemparkan asbak kepada Hasjim Ning. “Apa kamu disuruh Soeharto datang ke sini?” kata Sukarno pada Hasjim sebagaimana dikutip AA Navis dalam Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning.

Baca juga: Sukarno Akan Dihabisi di Luar Negeri

Upaya kali itu tak berhasil sehingga langkah yang lebih keraspun dijalankan. Massa digerakkan untuk berdemo di depan Istana Merdeka pada 11 Maret. Massa bukan hanya dipenuhi oleh mahasiswa, melainkan juga pasukan Kostrad yang dipimpin Kemal Idris.

“Penempatan pasukan Sarwo Edhie Wibowo tanpa inisial itu dimulai akhir Februari atau awal bulan Maret 1966. Tujuannya adalah melakukan penangkapan tehadap Subandrio. Ketika Kabinet 100 menteri bersidang, pasukan yang kami tempati mengelilingi Istana mengawasi mereka,” kata Kemal Idris, komandan yang menempatkan pasukan RPKAD tanpa identitas itu, dalam otobiografinya Bertarung Dalam Revolusi.

Desakan demo membuat Sukarno menghentikan rapat dan pergi ke Istana Bogor menggunakan helikopter bersama Soebandrio dan Chairul Saleh. Tiga jenderal yang turut dalam rapat bersama Sukarno, yakni Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M. Jusuf kemudian menemui Soeharto di rumahnya, Jalan Agus Salim.

Baca juga: Situasi Mencekam Sebelum Supersemar

Soeharto kala itu tak hadir rapat dengan alasan sakit. Ketiga jenderal yang bertamu padanya itu kemudian diutus Soeharto ke Istana Bogor menemui Sukarno. Sekembalinya dari Istana Bogor, mereka membawa Surat Perintah 11 Maret untuk Soeharto.

Satu hal yang menjadi perhatian Asvi adalah bagaimana Soeharto menggambarkan peristiwa peyerahan itu. Pada 1970, peristiwa penyerahan Supersemar itu hendak dibuat dioramanya di dalam Monumen Nasional (Monas). Rekonstruksi ulangpun dilakukan di rumah Soeharto. Rekonstruksi dilakukan oleh Soeharto dan dihadiri Amir Machmud, M. Yusuf, sejarawan Nugroho Notosusanto dan pematung Edhi Sunarso yang diminta menggarap diorama itu. Basuki Rahmat tak hadir karena sudah meninggal.

“Mereka itu sebenarnya ingin melakukan rekonstruksi di sana, tetapi yang terjadi itu adalah diskusi,” ungkap Asvi.

Alih-alih merekonstruksi peristiwa berdasarkan fakta kejadian sesungguhnya, mereka malah berdiskusi mengenai bagaimana sebaiknya peristiwa itu digambarkan. Jika Soeharto digambarkan berseragam lengkap dengan bintang empat, ia akan terlihat sebagai atasan ketiga jenderal tersebut. Akhirnya, ia digambarkan sedang terbaring sakit dan terlihat lemah. Jadi, jelas Asvi, yang cukup penting dalam rekayasa peristiwa itu adalah bahwa Soeharto digambarkan sangat pasif dan tak terkesan menginginkan kekuasaan.

Baca juga: Supersemar dan Tafsir Soeharto

“Dia diam, dia pasif, dan ketiga orang jenderal itu yang mengambil prakarsa untuk ke Istana Bogor. Jadi inilah penggambaran yang harus dibuat oleh Edhi Sunarso. Dan inilah yang dilakukan oleh Edhi Sunarso dengan membuat diorama ini di Monas,” terang Asvi.

Diorama yang rencanamya dipasang pada 11 Maret 1970 itu belakangan tertunda akibat banjir besar di Jakarta. Monas terendam.

“Nah ketika itu ada rumor yang mengatakan mungkin Bung Karno ini marah begitu. Sehingga terjadi banjir yang menimpa Monas itu dan pemasangannya tertunda satu minggu,” kata Asvi.

Diorama penyerahan Supersemar di Museum Pancasila Sakti yang dibuat pada 1997 oleh Edhi Sunarso. (Dok. Asvi Warman Adam).

Pada 1997, menjelang kejatuhan Soeharto, Edhi Sunarso diminta lagi untuk membuat diorama penyerahan Supersemar untuk Museum Pancasila Sakti. Namun kali ini ia tidak didikte dan memiliki kebebasan dalam membuat diorama. Edhi tidak membuat adegan peristiwa penyerahan Supersemar kepada Soeharto, melainkan penyerahan Supersemar dari Sukarno kepada tiga jenderal.

“Sukarno yang menyerahkan Supersemar itu kepada tiga orang di sebelah kiri, yaitu Basuki Rahmat, Amir Machmud, dan Yusuf. Sedangkan di sebelah kanan, itu tiga orang Waperdam: Soebandrio, Chairul Saleh, dan Leimena,” sambung Asvi.

Baca juga: Kisah Adjie dan Supersemar

Dalam diorama 1997 itu ada pula Hartini yang duduk di samping Sukarno.Meski belum diketahui kecocokan diorama ini dengan peristiwa tersebut, Edhi Sunarso, yang merupakan pematung kesayangan Sukarno, berusaha menampilkan ketokohan Sukarno dalam peristiwa itu.

Kasus dua diorama berbeda ini, jelas Asvi, menunjukkan bahwa sejarah Peristiwa 11 Maret 1966 sengaja dibuat sedemikian rupa dengan tujuan tertentu. Diorama Monas dibuat dengan rekayasa Soeharto, sedangkan diorama Museum Pancasila Sakti dibuat Edhi Sunarso dengan lebih bebas tanpa pesanan.

TAG

supersemar sukarno soeharto

ARTIKEL TERKAIT

Tujuh Cerita Ringan Sukarno Lima Cerita Ringan Sukarno Kritik Sarwo Edhie Wibowo kepada Soeharto Konflik Sukarno dengan Adam Malik Jejak Nelson Mandela di Indonesia Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman Sukarno Sakit Ginjal Ende dan Perenungan Bung Karno Sukarno di Usia 29