Masuk Daftar
My Getplus

Situasi Mencekam Sebelum Supersemar

Hiruk pikuk menjelang lahirnya Supersemar. Mulai masuknya pistol ke Istana Negara hingga aksi empat jenderal Angkatan Darat. Beberapa pihak sudah menebak akan terjadi sesuatu.

Oleh: Martin Sitompul | 12 Mar 2021
Presiden Sukarno melantik para menteri dalam Kabinet Dwikora II yang disempurnakan. Sumber: Repro "30 Tahun Indonesia Merdeka".

Hari Jumat 11 Maret 1966, Presiden Sukarno mestinya memimpin rapat Kabinet Dwikora II yang disempurnakan. Namun sejak pagi, para demonstran telah menutup jalan menuju Istana Negara, tempat para menteri akan bersidang. Mereka menolak karena Sukarno masih menyertakan menteri-menteri yang dicurigai terlibat Gestapu (G30S).

“Pagi-pagi sekali sebelum sidang dibuka ribuan mahasiswa datang berbondong-bondong menuju Istana. Mereka mendesak masuk ke halaman Istana,” tutur Soebandrio dalam Soebandrio: Kesaksianku tentang G30S. Saat itu, Soebandrio menjabat Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I

Menurut Soebandrio aksi mahasiswa itu tidak dilakukan sendiri. Ada pasukan liar yang ikut menunggangi. Mereka mengenakan seragam loreng dan bersenjata lengkap namun tanpa tanda pengenal. Pasukan liar ini bersama mahasiswa menyebar di jalanan yang akan dilewati oleh mobil menteri peserta sidang. Begitu melihat mobil menteri mereka langsung mencegat. Ban mobil digembosi.

Advertising
Advertising

“Istana pun dikepung sedemikian rupa. Pasukan tanpa tanda pengenal itu berhadap-hadapan dengan Pasuka Cakrabirawa dalam jarak dekat,” kata Soebandrio.

Baca juga: Serba-serbi Demonstrasi 1966

Pistol Masuk Istana

Kendati dalam tekanan, sidang kabinet dapat terselenggara juga. Sebagian menteri sudah diinapkan sehari sebelumnya di guest house Istana. Sebut saja beberapa diantaranya seperti Ir. Setiadi (Menteri Urusan Listrik), Sutomo (Menteri Perburuhan), Armunanto (Menteri Perhubungan), Mayjen Soemarno Sostroatmodjo (Menteri Dalam Negeri merangkap Gubernur Jakarta), dan Soebandrio.

Waperdam III Chaerul Saleh berangkat dari rumahnya. Dia minta didampingi oleh A.M Hanafi, duta besar Republik Indonesia untuk Kuba yang kebetulan sedang di Jakarta. Keduanya kawan lama sejak zaman kemerdekaan dalam kelompok pemuda Menteng 31.

“Sidang kabinet hari ini penting sekali… der op of der onder (menang atau kalah),” ujar Chaerul kepada Hanafi. “Mungkin kau tidak akan bisa kembali ke Kuba lagi.”

Baca juga: Meringkus Loyalis Sukarno

Suasana mencekam terekam dalam amatan Hanafi setiba di Istana. Sesampainya di beranda,  tampak Mayjen Moersjid (wakil Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan) baru datang. Keduanya adalah kawan seperjuangan waktu pertempuran Krawang-Bekasi tahun 1946. Dari kejauhan, Moersjid melempar senyum lebar ke arah Hanafi.

Saat berpapasan, Hanafi segera menjabat tangan Moersjid. Setelah berjabatan, Hanafi sempat usil dengan menepuk pinggang Moersjid yang sudah mulai tambun itu.  Moersjid tersenyum lagi tapi agak masam karena Hanafi mendapati sesuatu dari “tepokan” itu.

“Terasa padaku, bahwa tersembunyi dalam uniform itu ada tersisip pistol kaliber 38-special, dua buah, di kiri dan di kanan,” kenang Hanafi dalam A.M. Hanafi Menggugat.

Baca juga: Moersjid, Jenderal Pemarah yang Disegani Sukarno

Hanafi kemudian membuntuti Chaerul Saleh menemui Soebandrio yang masih di kamarnya dengan Soemarno. Mereka mendapati Soemarno sedang berpakaian. Di saat yang sama, Soemarno sedang mengeluarkan pistolnya dari bawah bantal. Pistol berjenis F-32 itu disisipkannya dalam kemeja.

“Apakah semua menteri-menteri bersenjata hari ini?” tanya Hanafi sambil lalu.

“Kita tidak tahu berhadapan dengan siapa, Bung,” jawab Soemarno serius.

Jenderal Penjemput Surat

Rapat kabinet dimulai pukul 10.00 pagi. Lebih dari 100 menteri hadir di Istana. Semua panglima angkatan bersenjata turut serta kecuali Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto yang absen karena alasan sakit flu.

Menurut sejarawan Lambert Giebels dalam rapat kabinet itu akan dibicarakan tindakan-tindakan konkret apa yang bisa diambil melawan aksi-aksi mahasiswa dan pelajar yang berkelanjutan. Sekira 20 menit Sukarno berpidato, Komandan Tjakrabirawa - pasukan pengawal presiden - Brigjen Saboer menyela sembari menyodorkan secarik kertas. Dari situ tersurat rumor pasukan liar tanpa identitas di sekitar Istana sampai kepada Sukarno.

Baca juga: Kemal Idris, Jenderal Gusar Pengirim Pasukan Liar

Terpantik rasa panik, Sukarno memutuskan menskors sidang kabinet. Palu pimpinan sidang diserahkan kepada Waperdam II Johanes Leimena. Sukarno kemudian menyelamatkan diri ke Istana Bogor. Kepergian Sukarno diiringi Soebandrio dan Chaerul Saleh.

“Semua berlangsung begitu cepat sehingga Soebandrio tidak sempat memakai sepatunya yang ia tinggalkan di bawah meja,” catat Giebels dalam Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Menjelang siang, Leimena mengumumkan sidang kabinet selesai. Dalam perjalanan keluar, di dekat tangga barat Istana, empat orang jenderal bertemu membicarakan perkembangan situasi yang terjadi. Keempat orang jenderal tersebut, Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Urusan Veteran), Brigjen M. Jusuf (Menteri Perdagangan), Brigjen Amirmachmud (Panglima Kodam V Djaja), dan Mayjen Moersjid.

Baca juga: Moersjid, Jenderal yang Nyaris Menjadi Satpam

“Kecuali Moersjid, tiga jenderal setuju ajakan Jusuf untuk secepatnya ke Bogor, menyusul Bung Karno. (Mereka) berusaha menjelaskan kepada Presiden bahwa Angkatan Darat sama sekali tidak punya niat meninggalkan Bung Karno,” kata Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang.

Sebelum berangkat ke Bogor, Basuki, Amir, dan Jusuf mampir dulu ke kawasan Menteng. Mereka sowan ke rumah Soeharto untuk melaporkan niatan. Ketiga jenderal ini pada malam harinya pulang dari Bogor membawa Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Melalui surat sakti itulah terjadi peralihan kekuasaan dari Sukarno kepada Soeharto.

Baca juga: Supersemar dan Tafsir Soeharto

Kelak, di masa Orde Baru berkuasa, ketiga jenderal penjemput Supersemar menuai jabatan penting. Basuki Rachmat menjabat Menteri Dalam Negeri (1966–1969) dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Amirmachmud menjabat Menteri Dalam Negeri selama tiga periode (1969–1982). M. Jusuf menjadi Panglima ABRI periode 1978–1973.

Sementara itu, Moersjid yang enggan menggabungkan diri harus mengalami nelangsa. Selama empat tahun (1969--1973), Moersjid dipenjara tanpa proses pengadilan. Tidak diketahui dakwaan apa yang ditimpakan kepada Moersjid sebagai kesalahannya.

TAG

supersemar

ARTIKEL TERKAIT

Soeharto Rekayasa Penyerahan Supersemar Sukarno Akan Dihabisi di Luar Negeri Kisah Adjie dan Supersemar Surat Perintah yang Terlupakan Sukmawati Sukarnoputri: Supersemar Merupakan Tes Kesetiaan Kontroversi di Seputar Supersemar Supersemar dan Tafsir Soeharto Misi Pengusaha Sebelum Supersemar Sukarno Ditodong Senjata? Jenderal Ibrahim Adjie Tembak Mati Perampok