top of page

Priyatna Abdurrasyid, Jaksa Pemberani Pemberantas Korupsi

Priyatna Abdurrasyid sudah memerangi korupsi sejak era 1950-an. Tak pernah takut walau harus menangkap jenderal dan menteri sekalipun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Priyatna Abdurrasjid saat diwawancara Historia di kantornya, di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 2012. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

23 Mei 2015
2 menit membaca

Diperbarui: 9 Jul

DUA tahun lalu lelaki kelahiran Bandung 5 Desember 1929 itu berseloroh, melontarkan kekesalannya pada situasi sekarang. Dia mengeluhkan banyak orang yang memilih diam saat menyaksikan kejahatan yang terjadi di sekitarnya, terutama pada korupsi.


“Orang sekarang kebanyakan takut. Mau ini takut, mau itu takut,” ujar Priyatna Abdurrasyid ketika menerima Historia di kediamannya, bilangan Pondok Indah, Jakarta dua tahun silam.


Akibatnya, kata Priyatna, banyak orang cenderung diam terhadap kesalahan atau kejahatan yang dilihatnya. Langsung atau tidak, hal itu ikut membesarkan keadaan buruk hingga seperti sekarang. Korupsi dan perilaku korup bisa sampai membudaya seperti kini akibat banyaknya orang yang diam. Para pejabat yang seharusnya menjadi penindak, justru kongkalikong supaya kecipratan hasil curian yang mereka bilang rezeki.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Dengan bantuan Uni Soviet, Indonesia pernah hampir memiliki Institut Oceanografi di Ambon. Ditelantarkan Orde Baru.
Dengan bantuan Uni Soviet, Indonesia pernah hampir memiliki Institut Oceanografi di Ambon. Ditelantarkan Orde Baru.
Lewat pendekatan budaya, Abdul Rasjid, delegasi Srilanka dalam KIAA melancarkan diplomasinya yang membuat para delegasi lainnya berderai tawa. Dia juga sosok di balik gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan yang melekat pada Bung Karno.
Lewat pendekatan budaya, Abdul Rasjid, delegasi Srilanka dalam KIAA melancarkan diplomasinya yang membuat para delegasi lainnya berderai tawa. Dia juga sosok di balik gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan yang melekat pada Bung Karno.
transparant.png
bottom of page