Masuk Daftar
My Getplus

Petualangan George Kahin di Yogyakarta (1)

Setelah ditangkap dan diterbangkan ke Jakarta, Kahin kembali ke ibu kota RI yang sudah dikuasai militer Belanda. Di sana dia menjadi saksi betapa pemberitaan pihak Belanda hanya propaganda belaka.

Oleh: Hendi Johari | 06 Jan 2021
George McTurnan Kahin muda (Southeast Asia; A Testament)

Saat militer Belanda menginvasi Yogyakarta pada 19 Desember 1948, George Mc Turnan Kahin (jurnalis cum mahasiswa Amerika Serikat) melakukan protes keras kepada Kapten A.V. Vosveld dan Letnan J.A. Baker, dua perwira dari Tijger Brigade yang memimpin penawanan Haji Agus Salim dan beberapa tokoh republik di rumahnya.

Alih-alih ditanggapi, protes keras itu malah justru berujung kepada penangkapannya. Baker dan Vosveld menganggap orang Amerika itu terlalu banyak ikut campur urusan Belanda.

“Bakker menghardik lelaki muda itu untuk tutup mulut dan “menjadi anak yang manis” saja,” ungkap penulis sejarah Lambert Giebels dalam Soekarno: Biografi 1901—1950.

Advertising
Advertising

Kahin kemudian dibawa ke markas tentara Belanda. Beberapa jam kemudian, dia diterbangkan ke Batavia (Jakarta). Banyak kalangan menyebut pengusiran Kahin itu terkait dengan kekhawatiran pihak Belanda yang tak ingin “aksi koboy-koboyan” mereka di Yogyakarta diketahui dunia. Namun Kahin sendiri memiliki pendapat mengenai soal itu.

“Bisa jadi mereka juga menangkap saya karena tulisan-tulisan saya sebelumnya yang banyak mengecam tindakan Belanda di Indonesia,”ungkapnya dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim.

Baca juga: Cerita George Kahin Saat Ditangkap Belanda

Usai pengusiran itu, Kahin merasa lebih yakin jika Belanda tidak memiliki niat politik yang baik dengan Indonesia. Dia bertekad untuk menelusuri soal tersebut dengan kembali ke Yogyakarta. Hampir sebulan kemudian, lelaki Amerika itu berhasil mengantongi izin dari Regeerings Voorlchtings Dienst (Dinas Rahasia Tentara Kerajaan) untuk melakukan peliputan di Yogyakarta.

“Izin diberikan, sebab Kahin memiliki surat akreditasi sebagai wartawan Overseas News Agency…” ungkap Julius Pour dalam Doorstoot Naar Djokja:Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer.

Kahin kembali menginjakan kakinya di Lapangan Udara Maguwo pada 6 Januari 1949. Dia lantas menginap di Grand Hotel (sekarang Hotel Garuda) yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Stasiun Kereta Api Tugu. Sesungguhnya dia tidak memiliki waktu yang banyak. Pihak Belanda hanya memberikan izin peliputan sampai 10 Januari 1949.

Begitu sampai di dalam kota Yogyakarta, Kahin dan para jurnalis lainnya mendapatkan keterangan dari pihak humas militer Belanda bahwa sejak 19 Desember 1949, TNI dan apa yang dinamakan sebagai pejuang republik sudah menghilang dari muka bumi.  Mereka berhasil dihancurkan secara telak dan tak mungkin tumbuh kembali. Mendengar itu semua Kahin hanya tersenyum sinis. Dia yakin bahwa humas militer Belanda itu tengah memamerkan omong kosong gaya Holland semata dan mengira para jurnalis itu adalah sekumpulan manusia bodoh.

“…Dalam serangan hebat tanggal 29 Desember 1948, pasukan gerilya republik berhasil menyusup sejauh empat blok, menerobos masuk ke tengah kota. Mereka baru bisa dihalau sesudah berlangsung pertempuran sengit yang banyak memakan korban di kedua belah pihak,” ungkap Kahin.

Baca juga: Ketika George Kahin Disangka Orang Belanda

Selama di Yogyakarta, Kahin malah melihat betapa berbedanya situasi dengan apa yang dikatakan oleh pihak Belanda kepada dunia mengenai wilayah-wilayah yang telah “dibebaskan” oleh mereka itu. Bisa dikatakan Yogyakarta seperti kota mati nyaris tanpa kaum laki-laki (yang telah menyingkir untuk bergerilya). Tak ada uluran kerjasama sama sekali dari mereka.

Sikap tidak mau bekerjasama itu, kata Kahin, hampir dipastikan absolut. Ketika mewawancarai Mr. B.J. Muller, seorang pejabat Belanda urusan ekonomi di Yogayakarta, dia mendapat informasi bahwa dari sekira 400.000 penduduk Yogyakarta, hanya 6.000 orang saja yang mau bekerjasama dengan pihak Belanda.

“Bahkan dia jujur menyatakan keyakinannya bahwa orang-orang itu mau bekerja hanya karena adanya perintah dari Sultan Yogyakarta agar penduduk sipil tidak mengalami penderitaan yang terlalu berat,” ungkap Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia.

Baca juga: Dihabisi Seperti Anjing Gila

Yang paling dirasakan Kahin, para serdadu Belanda tidak pernah memperlihatkan sikap simpatik kepada rakyat Yogyakarta. Bahkan nyaris setiap hari, mereka melakukan patroli yang tak jarang hanya mengorbankan warga sipil semata dibandingkan dapat menangkap para gerilyawan.

“Mayoritas warga sipil yang dirawat di rumah sakit, jauh lebih banyak mereka yang menjadi korban tembakan setelah serangan Belanda, dibanding sebelum agresi,” ungkap Kahin.

Satya Graha (90), membenarkan apa yang dirasakan Kahin. Menurut mantan telik sandi republik itu, selama pendudukannya di Yogyakarta, tentara Belanda kerap mempraktekan aksi-aksi kejam. Sebagai contoh dia pernah melihat tetangganya sendiri ditembak dan mayatnya dibiarkan sampai membusuk berhari-hari di pekarangan rumah.

“Padahal saya tahu, dia bukan gerilyawan. Tapi karena suatu tuduhan, dia harus menerima nasib buruk seperti itu,” ungkap mantan wartawan kawakan di tahun 1960-an tersebut. (Bersambung)

TAG

george kahin yogyakarta operasi gagak

ARTIKEL TERKAIT

Pemilu di Wilayah Kesultanan Dukungan Paku Alam pada Republik Indonesia Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa Jaminan Keselamatan Rakyat saat Melakukan Perjalanan Peran Soeharto dan Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara Angkringan Punya Cerita Ketika Sukarno Mengecam Agresi Belanda Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa Ketika Sri Sultan Berterimakasih Kisah Sang Pematung Jenderal Soedirman di Usia Senja