Masuk Daftar
My Getplus

Perjuangan Mirabal Bersaudari untuk Hak Asasi

Kediktatoran lalim Rafael Trujillo di Republik Dominika mendorong tiga bersaudari Mirabal melawan. Perjuangan mereka dijadikan PBB International Day for the Elimination of Violence against Women.

Oleh: M.F. Mukthi | 26 Nov 2021
Mausoleum Mirabal Bersaudari di halaman Mirabal Museum, Salcedo, Rep. Dominica. (The Singularity/commons.wikimedia.org)

Hujan lebat mengiringi perjalanan pulang kakak-beradik Patria Mercedes Mirabal (1924-1960), Minerva Argentina Mirabal (1927-1960), dan Maria Teresa Mirabal (1935-1960) pada 25 November 1960. Mereka habis menjenguk Manuel “Manolo” Tavarez Justo, suami Minerva, dan Pedro A. Gonzales, suami Patria, yang masih dipenjara oleh diktator Republik Dominika Rafael Leonidas Trujillo di Penjara San Felipe, Puerto Plata.

Dalam perjalanan pulang menuju Salcedo, tempat asal mereka, itu mereka disetop sekelompok orang di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Para penyetop ternyata merupakan polisi rahasia yang ditugaskan langsung oleh Presiden Trujillo yang terkenal korup dan anti-kritik. Kendati tak mengetahui alasan penyetopan itu, Mirabal Bersaudari mungkin menyadari penyetopan itu terkait dengan aktivitas politik mereka. Mirabal Bersaudari merupakan penentang rezim Trujillo terpopuler.

Mereka merupakan anak pasangan Enrique Mirabal Fernandez dan Mercedes Reyes. Enrique merupakan pengusaha lokal di Salcedo yang bidang usahanya meliputi perkebunan kopi, pabrik pengolahan kopi dan beras, pergudangan, peternakan, dan toko daging. Kekayaan Enrique membuat keempat putrinya, termasuk Belgica Adela Mirabal Reyes (anak kedua, biasa dipanggil Dede), bisa bersekolah di El Colegio de la Imaculada di kota La Vega hingga tingkat menengah atas. Sekolah Katolik itu merupakan salah satu sekolah asrama swasta paling bergengsi di Dominika.

Advertising
Advertising

Minerva menjadi anak yang paling menonjol di antara saudari-saudarinya. Dia amat suka membaca.

“Minerva yang lahir pada 12 Maret menunjukkan tanda-tanda kecerdasan luar biasa sejak usia sangat dini. Pada saat baru berusia tujuh tahun, dia bisa membacakan sajak-sajak penyair Prancis. Dia juga pada usia 12 tahun, dikirim ke Sekolah Menengah Katolik Inmaculada Conception bersama saudarinya Patria dan Dede. Seperti saudarinya Patria, dia juga menghargai dan menikmati seni terutama karya Pablo Picasso, kecintaan utamanya adalah menulis dan membaca puisi dan menyukai Juan Pablo Neruda,” demikian The Real Dominican Republic ( menuliskannya dalam “Who Were the Mirabal Sisters?” yang didokumentasikan web.archive.org, 17 Desember 2013.

Ketertarikan Minerva pada politik dimulai di sekolah menengah atas. Itu dilatarbelakangi oleh pengalaman pahit teman-temannya. Sejumlah temannya mengaku punya kerabat yang ditangkap, disiksa, bahkan dibunuh oleh aparat rezim Trujillo. Pengalaman itu mendorong Minerva terjun ke dunia politik dengan menjadi aktivis anti-Trujillo bawah tanah. Minerva menjadi orang pertama di antara saudari-saudarinya yang terjun ke politik. 

Pengetahuan Minerva akan bobroknya rezim Trujillo membuatnya tak hanya mengandalkan bacaan untuk mendapat informasi yang lebih baik. Siaran radio-radio “ilegal” dari luar negeri juga dijadikannya bagian dari keseharian.

“Sejak awal, Minerva menunjukkan semangat patriotik, keyakinan, dan kepemimpinan yang paling kuat. Dia adalah seorang pembaca rakus yang memverifikasi validitas berita yang diterbitkan di suratkabar-suratkabar lokal dengan mendengarkan stasiun-stasiun radio dari Kuba dan Venezuela, yang dia rasa memberikan perspektif lebih baik tentang politik,” tulis Serafin Mendez-Mendez, Gail Cueto, dan Neysa Rodriguez Deynes dalam Notable Caribbeans and Caribbean Americans: A Biographical Dictionary.

Aktivitas politik itu mengakibatkan Minerva menjadi tahanan rumah bersama ibunya pada Oktober 1942, sementara ayahnya dipenjara. Perkaranya dimulai ketika keluarga Mirabal menghadiri pesta yang diadakan Trujillo di San Cristobal untuk mengenang penemuan Benua Amerika oleh Christophorus Columbus. Hujan mulai turun ketika pesta luar-ruang itu baru dimulai. Enrique langsung memanfaatkannya untuk mengajak anggota keluarganya pulang. Di luar dugaan mereka, hal itu membuat Trujillo marah.

“Aturan etiket khusus Trujillo tidak mengizinkan siapapun meninggalkan kegiatannya tanpa izinnya atau sebelum kepergiannya. Hari berikutnya, dalam tindakan yang diulang berkali-kali, Enrique Mirabal dipenjara dan istrinya serta Minerva ditahan di sebuah hotel lokal sebagai tahanan rumah. Salah satu syarat untuk pembebasan Minerva adalah dia harus menulis surat permintaan maaf kepada diktator, yang tidak pernah dia lakukan,” sambung Serafin, Gail, dan Neysa.

Ketidakmauan Minerva menulis surat permintaan maaf membuatnya harus menjalani interogasi setelah dipindah ke Benteng Ozama. Minerva diinterogasi tentang aktivitas politiknya langsung oleh dua orang kepercayaan Trujillo paling ganas.

“Minerva dituduh komunis dan interogatornya adalah dua orang Trujillo paling ganas, bernama Fausto Caaman Medina dan Manuel de Moya,” tulis The Real Dominican Republic.

Kendati terus dipaksa untuk menulis surat permintaan maaf, Minerva menolak. Dia tetap ditahan. Namun karena keluarga Mirabal cukup dihormati, Trujillo yang amat butuh citra positif publik akhirnya membebaskan mereka.

Kendati secara politis amat berseberangan, Minerva tetaplah gadis berpenampilan menarik. Trujillo “Si Bandot Tua” amat terobsesi mendapatkan Minerva sebagaimana dia terobsesi pada gadis-gadis lain sebelumnya. Trujillo dikenal suka membangun rumah di seluruh negeri untuk ditempati gadis-gadis simpanannya.

“Pemerintahan Trujillo sangat buruk bagi perempuan. Dia akan mengirim ‘Beauty Scout’ ke seluruh negeri untuk menemukan perempuan dan mengundang mereka ke pestanya atau, jika gagal, menculik mereka,” kata Hannah Jewell dalam 100 Nasty Women of History: Brilliant, Badass and Completely Fearless Women Everyone Should Know.

Trujillo ingin memperlakukan Minerva sebagaimana gadis-gadis lain yang telah didapatnya. Pada suatu hari di tahun 1949, Trujillo mengundang Minerva dan saudari-saudarinya ke pesta yang dihelatnya. Di pesta yang dihadiri Mirabal bersaudari itu Trujillo melamar Minerva. Namun, lamaran itu bertepuk sebelah tangan. Trujillo amat marah. Segala upaya kemudian dilakukannya untuk mendapatkan Minerva.

“Di lain waktu, ketika Minerva dan ibunya menginap di sebuah hotel, mereka dikunci di kamar mereka dan diberitahu bahwa mereka tidak akan diizinkan keluar sampai Minerva setuju untuk tidur dengan Trujillo,” sambung Hannah Jewell.

Kebencian Minerva terhadap Trujillo pun kian menggelora. Terlebih keluarganya silih berganti keluar-masuk penjara. Perlawanannya pun kian kencang. Akibatnya, dia menjadi musuh rezim. Ditambah soal makalahnya untuk tugas akhir kuliahnya yang berisi saran agar ada perubahan hukum dalam pemerintahan, Minerva terpaksa kehilangan kuliahnya pada 1952. Dia memilih dikeluarkan dari kampus ketimbang tetap kuliah namun harus memenuhi persyaratan dari Trujillo berupa berpidato dengan isi memuji-muji Trujillo.

Kendati menganggur, aktivitas politik Minerva tetap berlanjut. Dia bahkan acap ke Santo Domingo untuk menemui rekan-rekanya sesama aktivis anti-Trujillo.

Kiprah politik Minerva amat mempengaruhi Maria adiknya. Berbeda dari Patria yang mulai terjun ke dunia politik setelah melihat pembantaian yang dilakukan anak buah Trujillo di sebuah kegiatan keagamaan, Maria terjun ke politik setelah tinggal di rumah Minerva. Ketiga bersaudari itu lalu bersatu dengan para aktivis anti-Trujillo lain di berbagai kota terus menyuarakan ideologi yang mempromosikan kebebasan, kesetaraan, pendidikan, serta kebebasan memilih dan berkehendak.

Mirabal Bersaudari, yang dijuluki “Kupu-Kupu”, pada akhirnya menjadi idola kelas menengah dan bawah rakyat Dominika. Banyak orang, kata Susan K. Opt dan Mark A. Gring dalam The Rhetoric of Social Intervention: An Introduction, menghentikan mereka ketika bertemu di jalan, gereja, atau toko hanya untuk berterima kasih karena berani melawan hierarki sosial-politik di Dominika yang dipuncaki Trujillo. Mereka mendoakan agar Mirabal Bersaudari baik-baik.

“Intervensi Mirabal Bersaudari membentuk bagaimana orang lain melihat peran mereka dalam sistem sosial. Semakin banyak orang mulai menyadari bahwa mereka dapat menukar kehidupan yang mereka miliki dengan interpretasi Mirabal Bersaudari untuk mencapai negara yang lebih baik melalui perdamaian, kebebasan, kesetaraan, pendidikan, dan sebagainya,” tulis Susan dan Mark.

Mirabal Bersaudari memainkan peran penting dalam Gerakan 14 Juni 1959 yang dikepalai Manolo, suami Minerva. Gerakan tersebut menjadwalkan hari itu sebagai hari-H Luperon Invasion, operasi pengiriman para anggota Dominican Liberation Movement (DLM) ke kota-kota Constanza, Estero Hondo, dan Maimon di bawah komando Enrique Jimenez Moya. DLM terdiri dari eksil-eksil Dominika yang didatangkan untuk invasi tersebut.

Namun, invasi itu mati sebelum lahir karena rezim Trujillo sudah menciumnya. Akibatnya, lebih dari 100 anggota Gerakan 14 Juni ditangkap aparat dan kebanyakan ditahan di Penjara “angker” La Cuarenta untuk kemudian disiksa dan dibunuh. Setelah Manolo dan Minerva, keluarga Mirabal berikutnya yang ditahan adalah Maria dan Leandro, diikuti Pedro A. Gonzales. Hanya Patria yang tidak ditahan, kendati suami dan anaknya ikut ditahan. Selain ditahan, keluarga Mirabal mesti rela dimiskinkan rezim Trujillo dengan penyitaan tanah, mobil, dan rumah mereka.

Toh, tindakan Trujillo tidak menciutkan nyali Patria dan saudari-saudarinya yang ditahan. “Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam rezim yang korup dan tiran ini, kita harus melawannya, dan saya bersedia menyerahkan segalanya, termasuk hidup saya jika perlu,” demikian kalimat terpopuler Patria.

Sebagaimana Mirabal Bersaudari, nyali para pemuda dan rakyat kebanyakan juga semakin tersulut dengan sikap kejam yang dilakukan aparat Trujillo. Perlawanan terhadap rezim terus berlangsung. Gereja Katolik bahkan ikut bergabung.

“Iklim politik saat ini berubah dan semakin banyak kaum muda kelas menengah Dominika mulai menentang Trujillo dan rezimnya yang ditakuti,” tulis The Real Dominican Republic.

Perlawanan terhadap Trujillo semakin besar setelah negara-negara di kawasan Karibia dan Amerika mulai memberi perhatian dan dukungan. Negara-negara di kawasan bahkan mengirim utusan-utusan mereka untuk melihat realitas di Dominika yang banyak kehilangan nyawa rakyatnya akibat tindakan kejam Trujillo. Venezuela dan Amerika Serikat yang tadinya merupakan sekutu Dominika berbalik menjadi lawan. Kuba di bawah Fidel Castro menjadi penyokong utama gerakan perlawanan terhadap Trujillo.

“Saya katakan bahwa dari setiap seratus pemuda [Dominika] yang berusia lima belas tahun pada 1956, sembilan puluh sembilan akan bermimpi menjadi Fidel Castro,” kata Juan Bosch, lawan politik Trujillo, dikutip Alex von Tunzelmann dalam Red Heat: Conspiracy, Murder and the Cold War in the Caribbean.

Dukungan Castro membuat Trujillo berang. Dia segera menugaskan Johhny Abbes Garcia, orang kepercayaannya. “Trujillo memberi tugas kepada Abbes untuk menyingkirkan Fidel,” sambung Tunzelmann.

Namun, Trujillo tidak pernah berhasil menundukkan Casrto. Sebaliknya, tekanan negara-negara lain membuatnya harus melunak. Minerva dan Maria tidak pernah disiksa lagi sejak itu. Padahal, sebelumnya Trujillo amat kejam terhadap tahanannya. Mirabal Bersaudari “kenyang” mengalaminya.

“Anak buah Trujillo menyiksa saya di dalam La 40. Mereka menahan saya dan menusuk saya dengan tongkat listrik. Saya berteriak dan rasa sakitnya sangat buruk. Semua penjaga malu pada diri mereka sendiri. Aku berjalan keluar sendirian,” kata Maria dalam diary-nya tanggal 11 April 1960.

Tekanan negara lain pula yang membuat Trujillo membebaskan Minerva dan Maria pada 8 Agustus 1960. Alhasil, dari keluarga Mirabal yang tersisa di penjara hanya suami-suami mereka: Manolo dan Pedro di La Cuarenta lalu dipindah ke Penjara San Felipe, sedangkan Leandro di Penjara La Victoria di Santo Domingo. Mirabal Bersaudari juga diberi hak menjenguk suami-suami mereka kendati amat jarang dan terbatas durasinya.

Kesempatan itu dimanfaatkan Mirabal Bersaudari untuk menengok Pedro dan Manolo di Puerto Plata. Dalam perjalanan pulang usai menjenguk pada 25 November 1960 itulah mereka dihentikan oleh sekelompok polisi rahasia di tengah perjalanan antara Puerto Plata dan Santiago De Los Caballeros. Setelah dipaksa keluar dari mobil di tengah hujan lebat yang turun malam itu, mereka digiring ke pinggir jurang.

“Setelah menghentikan mereka, kami membawa mereka ke tempat di dekat jurang di mana saya memerintahkan Rojas untuk mengambil beberapa tongkat dan mengambil salah satu gadis, dia mematuhi perintah dan mengambil salah satunya, yang memiliki rambut kepang panjang, itu adalah Maria. Alfonso Cruz mengambil yang tertinggi, yaitu Minerva, dan Malleta mengambil pengemudi, Rufino de la Cruz. Saya perintahkan masing-masing untuk pergi ke kebun tebu di pinggir jalan, masing-masing dipisahkan agar para korban tidak merasakan eksekusi satu sama lain, saya perintahkan Perez Terrero untuk tetap di tempat dan melihat apakah ada orang datang yang bisa mengetahui situasi. Itulah kebenaran situasinya,” ujar Ciriaco de la Rosa, pemimpin polisi rahasia yang ditugaskan langsung Trujillo itu, dikutip The Real Dominican Republic (.

Mirabal Bersaudari dan sopir Rufino lalu dipukuli kemudian dicekik hingga tewas malam itu juga. Jasad mereka lalu dimasukkan ke dalam mobil yang digunakan sebelumnya. Mobil itu kemudian didorong ke dalam jurang sehingga kematian mereka terkesan alami akibat kecelakaan.

Namun, publik yang marah tetap meyakini kematian mereka dilakukan olah orang-orang suruhan Trujillo. Kematian mereka, yang pada 1999 dijadikan Majelis Umum PBB sebagai International Day for the Elimination of Violence against Women, membawa Trujillo memasuki masa akhir kekuasaannya.

“Pembunuhan Mirabal Bersaudari membuat marah mayoritas penduduk dan dianggap sebagai salah satu peristiwa yang membantu mendorong sentimen anti-Trujillo yang menyebabkan pembunuhannya enam bulan kemudian,” tulis Serafin, Gail, dan Neysa.

TAG

sejarah dunia

ARTIKEL TERKAIT

Berbagai Ekspresi Bung Karno Dalam Fotografi Sukarno Sakit Ginjal Sultan Hamengkubuwono IX dan Alimin Dahsyatnya Humor Gus Dur (Bagian 2) Kesaksian Tiga Eks Tapol 1965 Stigma PKI Masih Membayangi Ende dan Perenungan Bung Karno Ketika Merdeka Datang ke Australia Parlemen Belanda Gelar Debat Kekerasan Era Perang Kemerdekaan Indonesia Massa Melinggis Kedubes Inggris