Masuk Daftar
My Getplus

Perempuan dalam Cengkraman Pergundikan

Nasib buruk perempuan-buruh perkebunan. Dipaksa menjadi gundik, penolakan hanya berujung hukuman.

Oleh: Nur Janti | 06 Sep 2018
Roebiam bersama kedua putrinya pada 1920. Kedua anaknya kemudian dibawa ke Belanda sementara Roebiam ditinggal sebatang kara. Sumber: Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.

KETIKA berkunjung ke sebuah perkebunan di Deli, Van den Brand anggota Raad van Justice, tak sengaja melihat hal mengerikan. Di rumah pemilik perkebunan, dia mendengar erangan perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran membuatnya mendatangi sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari gadis belia yang tengah disalib dalam kondisi telanjang bulat. Di bawah terik matahari siang bolong, alat kelamin gadis itu diolesi cabai Spanyol yang super pedas.

“Bagi saya hal ini sangat keterlaluan dan saya pun meneruskan perjalanan. Menurut yang saya dengar, sang gadis harus bertahan dalam keadaan demikian dari jam enam pagi sampai jam enam sore,” tulis Brand dalam laporannya, De Milioenen van Deli.

Gadis berusia 16 tahun yang disiksa itu merupakan buruh di perkebunan milik si penyiksa yang orang Belanda. Dia dihukum secara sadis lantaran memilih menjalin asmara dengan sesama buruh ketimbang menerima pinangan si tuan yang ingin menjadikannya nyai.

Advertising
Advertising

Di tangan orang-orang Eropa, para perempuan buruh menjadi korban kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Para buruh yang berparas cantik bahkan lebih banyak bernasib buruk lantaran mesti jadi pemuas nafsu tuan mereka. Brand menceritakan, seorang administratur perkebunan selalu memeriksa perempuan yang baru datang di dalam ruangannya. Dengan memeriksa buruh perempuan satu per satu, administratur itu lalu memilih yang paling cantik untuk dijadikan gundik. “Membicarakan hal itu lebih jauh membuat saya muak,” ujar Brand.

Praktik nista seperti itu jamak di lingkungan perkebunan semasa kolonial. Bila ada seorang buruh perempuan dipanggil seorang diri oleh penguasa atau pegawai Eropa di jam kerja, bisa dipastikan buruh itu harus melayani nafsu si tuan. Buruh perempuan tak punya kuasa apapun. Si tuan tak ubahnya melakukan pemerkosaan karena tanpa persetujuan si perempuan.

Si tuan tak peduli meski si perempuan sudah bersuami. Bagi para tuan kulit putih, kuli atau buruh pribumi tak pantas menyandang status pernikahan. Mereka selalu merendahkan perempuan dengan tidak pernah mengindahkan status perempuan yang mereka tiduri.

Perilaku melanggar batas dengan memanggil perempuan buruh yang bersuamikan seorang buruh kerap menimbulkan konflik. Para lelaki buruh dibantu rekan-rekan sesama buruh sering memberontak dengan menyerang pegawai Belanda karena merasa istrinya dilecehkan. Dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, Reegie Baay mencatat antara 1923-1925 ada sekira 70-an pemberontakan dari para buruh di Deli. Salah satu pemicunya, istri buruh direbut paksa oleh pegawai Belanda.

Akibat pemberontakan itu, seringkali suami yang membela istrinya harus meregang nyawa atau bila nyawanya selamat, dia harus meninggalkan perkebunan dan berpisah dengan pujaan hatinya lantaran diusir oleh pegawai Belanda. Sang istri tak bisa berbuat apapun lantaran tak punya hak bersuara apalagi hak untuk menentukan pilihan.

Setelah “dipilih” lelaki Belanda, si perempuan hidup sebagai nyai dan mendapat kenaikan status meski sebenarnya status nyai tak jelas dalam kehidupan sosial kolonial. Nyai lebih mirip kepala pelayan, bedanya dia juga harus menemani tidur tuannya. Tapi meski sampai kumpul ranjang, hubungan nyai-tuan tak romantis lantaran tak didasari saling cinta.

Status rendah para perempuan buruh, rasisme, dan superioritas lelaki Belanda membuat para nyai sering mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan. Selain menimpa gadis-buruh di awal tulisan, pengalaman pahit itu juga menimpa buruh-gadis migran asal Jawa sebagaimana dicatat oleh pegawai Departemen Hukum JTL Rhemrev.  Seorang pegawai perkebunan Belanda, tulis Rhemrev, baru saja mengurung seorang perempuan Jawa bernama Karimah di dalam kamarnya dan menyiksanya. “Kurang lebih enam bulan lalu, seorang perempuan dikurung di kamar dan dipukuli sampai berdarah,” tulis Rhemrev.

Kasus lain yang banyak ditemui, misalnya, lelaki Belanda yang mempunyai anak dari nyainya jatuh cinta pada perempuan Eropa. Sebelum menikah, calon istri Eropa ini mensyaratkan agar si nyai diusir dari rumah. Kadang sang anak juga ikut diusir, tapi ada juga kasus hanya ibunya saja yang dibuang dan si anak dibuat untuk melupakan ibunya dengan disekolahkan ke Belanda. Perpisahan dengan anak kandung kerap menggerus hati para nyai. Beberapa dari mereka berakhir depresi bahkan bunuh diri.

Hidup sebagai nyai sangat riskan untuk disiksa, dibuang begitu saja, atau diberikan pada lelaki Belanda lain sebagai “kado”. Banyak perempuan pribumi menganggap hukuman yang mereka terima sebagai penghinaan besar. Ketimbang mesti menanggung malu, mereka memilih bunuh diri.

Hukuman-hukuman kejam yang mereka terima sebetulnya oleh lelaki Belanda dimaksudkan untuk melegitimasi kekuasaan sekaligus keunggulan kulit putih dan tentu saja kejantanan mereka. Mereka mempermalukan perempuan lewat penelanjangan dan menyerang alat kelamin. Hal itu erat kaitannya dengan budaya patriarkis perkebunan Deli di mana ada citra yang seolah harus dipenuhi para lelaki Belanda seperti jantan, heteroseksual, dan tidak memperlakukan perempuan pribumi dengan lembut.

Namun, tak semua perempuan pribumi pasrah menerima hal itu. Banyak dari mereka melawan dengan cara amat halus dan tersembunyi, seperti yang dilakukan seorang nyai yang ditulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis. Ketika mengetahui tuan Belandanya hendak kembali ke negaranya dengan membawa-serta anaknya, si nyai menysun siasat. Di depan si Tuan, nyai itu bersikap seperti biasa, penurut, untuk memenuhi citra perempuan Jawa dalam alam pikir orang Belanda. Namun diam-diam, si nyai menambahkan lugut bambu ke dalam makanan si tuan. Lugut itulah yang mengganggu pencernaan si tuan sampai menimbulkan penyakit yang mengakibatkan kematian perlahan sebelum sempat kembali ke Belanda.

“Si istri tidak akan tampak kesal atau marah. Bentuk kesedihan dan penyesalannya adalah diam seribu bahasa,” tulis Dorleans. Para lelaki Belanda pikir, mereka cukup kuat untuk terus menguasai hidup nyainya dan membuangnya begitu saja tanpa ada perlawanan. Nyatanya, tidak Tuan.

TAG

perempuan perkebunan pergundikan perbudakan nyai Kekerasan-terhadap-perempuan

ARTIKEL TERKAIT

Tante Netje 54 Tahun Jadi Ratu Peringatan Hari Perempuan Sedunia di Indonesia Era Masa Lalu Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine Akhir Perlawanan Dandara Mr. Laili Rusad, Duta Besar Wanita Indonesia Pertama Suami Istri Pejuang Kemanusiaan Jejak Para Pelukis Perempuan Emmy Saelan Martir Perempuan dari Makassar Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan Akhir Pelarian Seorang Gundik