top of page

Pemuda Tionghoa Pun Berjuang

Pasca proklamasi, semangat kemerdekaan mengisi setiap dada sebagian besar orang Indonesia. Termasuk pemuda-pemuda dari etnis Tionghoa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Dua anggota BPRT yang pro Republik di Surakarta. Foto: IPPHOS

  • 19 Feb 2018
  • 2 menit membaca

JIKA menghubungkan era perjuangan kemerdekaan dengan etnis Tionghoa, orang-orang kerap hanya mengingat Pao An Tui (Badan Pelindung Keselamatan). Organ keamanan masyarakat Tionghoa yang didirikan pada 28 Agustus 1947 tersebut memang memilih jalan berlawanan dengan pemerintah Republik dan secara tegas memihak Belanda.


“Orang-orang Tionghoa yang menjadi korban “masa bersiap” membentuk Pao An Tui dengan dalih untuk membela diri dari gangguan orang-orang Republik,” ujar Sulardi, penulis buku Pao An Tui 1947-1949, Tentara Cina Jakarta.


Namun tidak seluruh orang Tionghoa mengikuti jalan Pao An Tui. Di Surakarta, sekelompok pemuda Tionghoa mendirikan organ perjuangan pro Republik bernama BPRT (Barisan Pemberontak Rakjat Tionghoa) pada 4 Januari 1946. Dalam waktu yang sama pula di Pemalang, para pemuda Tionghoa membentuk LTI (Lasjkar Tionghoa Indonesia).


“Di Kudus orang-orang Tionghoa menyatu dengan orang-orang Jawa dalam suatu pasukan bernama Matjan Poetih…” ungkap Iwan Santosa, penulis buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia.


Peran orang-orang Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan, saat ini seolah ternafikan. Padahal laiknya pemuda-pemuda dari etnis lainnya di Indonesia, mereka pun memiliki andil dalam mempertahankan Indonesia merdeka.


Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga di Kampung Rawagede, Karawang. Di antara ratusan nisan korban Insiden Rawagede 1947, ada satu nama Tionghoa terselip di sana. Namanya: Tongwan. Siapa dia? Tak ada seorang pun yang tahu siapa dia saat ini kecuali dua mantan anggota Lasykar Hizbullah Rawagede bernama Telan (92) dan Kastal (93).


Menurut Telan, Tongwan adalah seorang anak muda Tionghoa yang bergabung dengan TRI (Tentara Republik Indonesia). “Bapaknya terkenal sebagai pedagang berhasil di Rawagede. Namanya Babah Engkim," ujar salah satu saksi Insiden Rawagede 1947 tersebut.


Berbeda dengan sang ayah yang memilih untuk "tutup mata" terhadap arus revolusi yang tengah mengalir deras saat itu, Tongwan memutuskan untuk memihak Republik setegas-tegasnya. Artinya dia menjalankan pilihannya bukan sebagai mata-mata atau simpatisan semata, tapi langsung turun sebagai bidak revolusi di palagan-palagan sekitar Karawang. Telan mengenang Tongwan sebagai pemuda periang dan supel. Kepada siapapun ia selalu berusaha bersikap ramah.


"Berbeda dengan orang-orang Cina umumnya, ia bergaul dekat dengan masyarakat," kata Telan.


Desember 1947 hari ke-9, saat subuh datang militer Belanda menyerbu Rawagede. Kastal ingat bagaimana ia melihat Tongwan yang betubuh agak pendek namun kekar itu keluar Markas TRI secara tergopoh-gopoh seraya mengokang karaben Jepangnya. Maksud hati ingin menyambut kedatangan tentara Belanda, namun keburu sebutir peluru menembus dadanya. Tongwan pun tersungkur di pinggir sungai dengan lumuran darah memenuhi seluruh tubuhnya.


Beberapa serdadu mendekatinya, lantas menendangnya sebelum melepaskan lagi tembakan berikutnya ke tubuh Tongwan. “Dia itu salah satu pejuang Rawagede yang sempat akan melakukan perlawanan, meskipun akhirnya terbunuh tentara Belanda,” kata Kastal.


Tongwan tentu bukan satu-satunya pemuda Tionghoa yang gugur di era perjuangan kemerdekaan. Ada banyak makam mereka di seluruh Indonesia yang menjadi saksi bisu bahwa gerakan pembebasan bukan soal etnis, agama atau warna kulit tapi soal keyakinan akan kemerdekaan yang diinginkan setiap manusia di mana pun berada.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Pada masa kolonial, aturan yang mengekang kebebasan berpendapat hanya diberlakukan di negeri jajahan. Tidak di negeri induknya.
Pada masa kolonial, aturan yang mengekang kebebasan berpendapat hanya diberlakukan di negeri jajahan. Tidak di negeri induknya.
Murid memang tak melulu mesti seiring sejalan dengan guru. Sudah sejak lama orang-orang mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Murid memang tak melulu mesti seiring sejalan dengan guru. Sudah sejak lama orang-orang mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
transparant.png
bottom of page