Masuk Daftar
My Getplus

Menjelang Proklamasi Tiba

Bagaimana para tokoh menggambarkan suasana detik-detik perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan pada 16 Agustus 1945.

Oleh: M. Fazil Pamungkas | 17 Agt 2021
Diorama Sukarno, Hatta, dan Subardjo di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Fernando Randy/Historia)

Kepanikan terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta dikabarkan menghilang dari kediamannya. Dua lakon utama yang tengah mempersiapkan proklamasi itu tetiba tidak diketahui rimbanya. Petunjuk mengarah kepada golongan muda yang memang beberapa waktu menekan Bung Karno dan Bung Hatta menyegerakan proklamasi. Ahmad Subardjo, ditemani Sudiro, segera menemui salah seorang tokoh golongan muda, Wikana.

Subardjo, sebagaimana disebutkan Suhartono dalam Kaigun Penentu Krisis Proklamasi, dikenal dekat dengan Wikana. Dia yakin kawannya itu akan mengatakan keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta kepadanya. Namun Wikana bersikukuh merahasiakan keberadaan mereka. Akhirnya, dengan “menggadaikan” namanya, Subardjo berjanji melaksanakan proklamasi begitu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Wikana pun akhirnya betus.

Baca juga: Berkunjung ke Rumah Penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

Advertising
Advertising

Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada, Subardjo langsung menjemput keduanya. Pada waktu yang bersamaan, Wikana bersama beberapa pemuda yang sengaja ditinggal di Jakarta melakukan persiapan penyelenggaraan proklamasi. Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.

“Rumah Laksamana Maeda yang dipakai untuk merumuskan teks proklamasi tersebut terjamin keamanannya selama rapat karena Laksamana Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang). Rumah tersebut merupakan extra territorial yang harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang),” tulis Sutan Remy Sjahdeini dalam Sejarah Hukum Indonesia.

Setiba di Jakarta, Sang Dwi Tunggal segera menyelesaikan segala urusan yang sempat tertunda, termasuk menemui perwakilan Jepang, Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, untuk menagih kemerdekaan yang mereka janjikan. Akan tetapi rupanya hanya kekecewaan yang mereka dapatkan. Jenderal Nishimura menolak memberikan kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta yang terlanjur murka segera beranjak dan meninggalkan tempat Nishimura. Mereka lalu bergerak ke rumah Maeda.

Baca juga: Maeda, Anak Samurai Jadi Perwira Angkatan Laut

Di tempat Maeda, telah berkumpul banyak sekali tokoh. Diceritakan Bung Hatta dalam otobiografinya, Memoir, hadir secara lengkap anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda, dan beberapa orang pemimpin pergerakan. Semuanya ada kira-kira 40-50 orang terkemuka. Di jalan juga banyak pemuda yang menonton atau menunggu hasil pembicaraan.

Melalui keterangan Subardjo, dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi, diketahui sejumlah tokoh penting hadir, di antaranya: Radjiman Wedyodiningrat, Supomo, Sam Ratulangi, Johannes Latuharhary, Iwa Kusuma Sumantri, dan lainnya. Dari pihak pemuda: Chairul Saleh, B.M. Diah, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan Maruto Nitimihardjo. Sisanya masih banyak lagi tokoh yang tidak terlalu dikenal oleh Subardjo.

Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Bung Karno dan Bung Hatta, bersama Subardjo, Sukarni dan Sayuti Melik, mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil menuju pekarangan di belakang rumah Maeda. Mereka duduk di sekitar meja berbentuk bundar dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas yang menandai lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka disepakati bahwa kalimat pertama teks tersebut diambil dari pembukaan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, isinya: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan

“Bahwa kalimat pendek dan sederhana ini telah dianggap cukup bagi suatu langkah yang menentukan dan mempunyai arti penting dalam sejarah dunia, yang mencerminkan keadaan yang dihadapkan kepada kami pada waktu itu, suatu keadaan yang dikuasai oleh ketegangan jiwa yang luar biasa,” tulis Subardjo.

Setelah bertukar pikiran sebentar, lima orang yang duduk di ruangan kecil itu menyetujui seluruh ide teks proklamasi sementara yang merupakan hasil tulis tangan Bung Karno. Sebelum dihadirkan ke tengah panitia persiapan, naskah proklamasi tersebut diketik oleh Sayuti Melik, ditemani wartawan B.M. Diah. Sambil menunggu naskah selesai diketik, tutur Subardjo, panitia kecil pergi ke ruang dapur untuk mengambil makanan dan minuman yang sebelumnya telah disiapkan tuan rumah. 

“Kami belum makan apa-apa sejak meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk bersahur, makan terakhir sebelum sembahyang Subuh,” ujar Subardjo.

Baca juga: Lima Hal Menarik Seputar Malam Perumusan Naskah Proklamasi

Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari, naskah selesai diketik Sayuti Melik. Seluruh panitia kecil pun beranjak kembali ke ruang besar di depan rumah. Suasana di sana semakin ramai. Orang-orang mulai berdatangan, mengerumuni rumah yang sekarang digunakan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Suasana riuh di ruang utama seketika hening saat Sukarno membuka sidang untuk membacakan rumusan naskah proklamasi. Tetapi ketegangan mulai muncul di antara anggota sidang ketika memasuki agenda pengesahan naskah. Menurut Adam Malik dalam Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, usul Sukarno supaya naskah Proklamasi ditandatangani besok siang dan diumumkan di depan anggota PPKI ditolak keras oleh Sukarni dan Chaerul Saleh.

Tokoh-tokoh dari golongan pemuda tidak ingin urusan kemerdekaan ini dicampuri oleh badan-badan berbau Jepang. Hatta lalu menyuarakan agar naskah Proklamasi ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir saat itu. “Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia Merdeka.”

Usul tersebut menimbulkan kegaduhan. Sukarni kembali melayangkan protesnya. Dia mengatakan jika mereka yang tidak menyumbang sedikit pun persiapan-persiapan proklamasi tidak berhak untuk menandatangani. Sukarni pun lalu mengusulkan agar naskah cukup disahkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia. Ucapan itu, imbuh Hatta, disambut oleh seluruh orang yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka yang berseri-seri.

Baca juga: Kisruh Penandatanganan Naskah Proklamasi

Sebelum menutup sidang, Sukarno meminta semua orang hadir dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur No. 56 sekitar pukul 10 pagi.

“Babak terakhir dari perjuangan besar itu, untuk mana aku telah mempersembahkan jiwa dan ragaku, sekarang telah selesai. Dan peristiwa itu tidak menimbulkan apa-apa. Aku tidak merasakan kegembiraan. Aku hanya letih. Sangat letih,” tutur Sukarno seperti diceritakan Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sekira pukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus, seluruh kegiatan malam perumusan naskah proklamasi di kediaman Maeda selesai dilakukan. Digambarkan Subardjo, sedikit demi sedikit peserta sidang mulai meninggalkan tempat pertemuan dalam keadaan sangat lelah. Subardjo pun berpamitan kepada Sukarno dan Hatta yang saat itu dilihatnya masih cukup segar. Mereka saling memberikan ucapan selamat satu sama lain atas apa yang telah dicapai. Meski ketiganya sadar bahwa itu bukanlah akhir, tetapi awal dari tugas kenegaraan yang berat di masa kemudian.

“Demikianlah berakhirnya suatu pertemuan malam yang tak terlupakan di tempat kediaman Laksamana Muda Jepang yang penuh keberanian,” ujar Subardjo.

TAG

proklamasi sukarno hatta laksamana maeda

ARTIKEL TERKAIT

Tujuh Cerita Ringan Sukarno Bung Hatta Sebagai Idola Lima Cerita Ringan Sukarno Konflik Sukarno dengan Adam Malik Jejak Nelson Mandela di Indonesia Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman Sukarno Sakit Ginjal Ende dan Perenungan Bung Karno Sukarno di Usia 29