- 14 Des 2018
- 5 menit membaca
Diperbarui: 16 Agu 2025
SUDAH hampir pukul 22.00. Lalu lintas di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, mulai lengang. Sebelas lelaki menyeberang jalan ke jalur hijau. Seorang di antaranya W.S. Rendra, sastrawan sohor. Kemudian mereka duduk di jalur hijau. Beberapa memejamkan mata, mulutnya komat-kamit merapal do’a, dan tangan menengadah ke atas.
Malam itu, 15 Agustus 1970, Rendra dan sepuluh temannya bertirakat. Simbol perlawanan terhadap korupsi. Tapi tirakat tak berlangsung lama. Sebuah jip Polisi Militer mendekati mereka. Petugas keluar dari jip, lalu memerintahkan kerumunan di jalur hijau bubar. Petugas juga menanyakan siapa pemimpin tirakat.
Rendra berdiri dan berdialog sebentar dengan petugas. Dia bilang tidak ada pemimpin tirakat. Tiap orang datang atas keinginan dan kesadarannya sendiri. Petugas melihat Rendra tampak paling tua di antara kerumunan. Mereka menggiringnya masuk ke dalam jip.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















