Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Bule Nekat di Pesawat Garuda Woyla

Dua orang penumpang warga negara asing coba mengelabui pembajak. Satu berhasil, satu lagi kena terjang peluru.

Oleh: Martin Sitompul | 09 Feb 2023
Robert Wainwright, penumpang berkewarganegaraan Inggris yang menjadi sandera dalam pembajakan pesawat Garuda "Woyla" di Bangkok, Thailand. Dia tampak melambaikan tangan setelah berhasil kabur dari pintu darurat pesawat dan diamankan aparat polisi Thailand. Sumber: Suratkabar Bangkok Post, 30 Maret 1981.

Siang 29 Maret 1981 itu begitu terik di Bandara Don Mueang, Bangkok. Panasnya cukup untuk menembus jendela pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang sedang dibajak. Kendati demikian, para pembajak melarang kru pesawat menyalakan mesin pendingin udara. Alih-alih berbelas kasih, mereka mengintimidasi penumpang. Makan dan minum dibatasi. Begitupun akses ke toilet. Rasa gerah, lapar, dan dahaga menyiksa para penumpang yang disandera itu.

Begitulah keadaan di pesawat Garuda DC-9 “Woyla” memasuki hari kedua pembajakan. Dari 41 sandera terdapat enam penumpang warga negara asing. Tiga di antaranya warga Amerika serikat: Karl Schneider, Ralph Hunt, dan Raymond Heischman. Sementara itu, tiga penumpang warga negara asing lain ialah Robert Wainwright (Inggris), Hengky Siesen (Belanda), dan Hiromi Higa (Jepang).

Robert Wainwright (27 tahun), seperti disebut harian berbahasa Inggris terbitan Bangkok The Nation Review, merupakan perwakilan perusahaan Milchen Company di Jakarta. Dalam penerbangan Garuda “Woyla” dari Jakarta menuju Medan itu, dia duduk di kursi nomor 12, di sisi kanan kabin pesawat, persis di samping pintu keluar darurat. Posisi itu memberi celah bagi Wainwright untuk menyelamatkan diri.

Advertising
Advertising

“Sandera Inggris dalam pelarian dramatis,” demikian dilansir The Nation Review, 30 Maret 1981.

Terlecut Rasa Takut

Kesempatan itu tiba ketika semua pembajak sedang berada di bagian depan pesawat. Saat itu sebagian pembajak sibuk di ruangan kokpit bernegosiasi dengan utusan pemerintah Indonesia lewat saluran radio. Sebagian lainnya memantau pengisian bahan bakar. Luput dari amatan pembajak, Wainwright memutuskan kabur dari pintu keluar darurat. Diam-diam, dia melepaskan sabuk pengaman.

“Kemudian saya mendorong pintu terbuka, berguling ke sayap dan jatuh ke tanah dengan posisi merangkak, lalu berlari melintasi landasan,” kata Wainwright dalam Bangkok Post, 1 April 1981. “Pria berseragam dengan senapan mesin muncul di depan saya. Saya mengeluarkan dompet dan menunjukkan kartu identitas.”

Baca juga: Tentara Thailand Gebuki Sandera Pembajakan Pesawat Garuda Woyla

Wainwright, seperti diberitakan Pikiran Rakyat, 31 Maret 1981, berhasil keluar dari pesawat dan melarikan diri sekuat tenaganya. Pembajak mengetahui salah seorang sanderanya telah melarikan diri begitu pintu darurat terbuka. Namun, Wainwright luput dari bidikan tembakan pembajak karena berlari lurus membelakangi ekor pesawat. Dia berhasil mencapai tepi landasan hingga kemudian diamankan polisi Thailand.

Kepada Bangkok Post, Wainwright mengaku nekat melarikan diri karena terdorong rasa takut. Di dalam pesawat, dia mendengar pembajak berseru berkali-kali mau meledakkan pesawat. Tapi, Wainwright menyebut peran pembajak turut membantu pelariannya itu. Menurutnya, para pembajak tidak sengaja mengizinkannya tetap duduk di kursinya semula.

“Ia (Wainwright) mengatakan, setelah pesawat meninggalkan Penang menuju Bangkok, sebagian besar penumpang lainnya tergeser dari tempat duduk semula,” sebut Bangkok Post.

Baca juga: Kisah Nenek yang Dilepas Pembajak Pesawat Garuda Woyla

Dengan kata lain, Wainwright tidak dipindahkan sebagaimana penumpang lain. Di kursi nomor 12 itulah dia menemukan pintu darurat untuk keluar dari “penjara Woyla”. Peluang itu tidak dia sia-siakan sehingga mampu mengelabui para pembajak. Wainwright selamat tapi aksi pelariannya menjadi petaka bagi penumpang yang lain.     

Petaka di Woyla

Wainwright seperti dicatat Bambang Wiwoho dalam Operasi Woyla: Sebuah Dokumen Sejarah, kabur pukul 11.47 waktu Bangkok. Setelah itu, pembajak semakin beringas. Kecolongan satu sandera menumpahkan amarah mereka kepada sandera yang tersisa.   

Semua penumpang dipindahkan ke belakang menjauhi pintu-pintu pesawat. Pembajak memaksa mereka untuk mengencangkan sabuk pengaman. Dalam posisi duduk terkunci, para sandera dilarang berbicara satu sama lain. Mereka semakin dibikin sengsara dengan ditiadakannya makan siang.

 “Marahnya mereka bukan main, Pak. Orang Amerika yang ada di dekat situ dituduh ikut komplotan dengan orang Inggris itu, dia dipukul,” cerita seorang bekas sandra dalam Sinar Harapan, 4 April 1981

Baca juga: Cerita Korban Pembajakan Garuda Woyla

Banyak penumpang jatuh lemas karena udara di dalam pesawat tertutup dan pengap. Mesin pendingin udara tidak berfungsi akibat menipisnya bahan bakar. Apalagi suhu siang itu lagi terik-teriknya. Pesawat Garuda itu lebih mirip panci oven. Penumpang laki-laki sampai membuka baju mereka yang basah kuyup oleh keringat.

Para pembajak coba mengakali situasi dengan membuka jendela kokpit. Tapi itu tidak banyak membantu. Pintu servis di bagian depan sisi kanan juga dibuka untuk mengurangi panasnya udara dalam pesawat. Sebagai penguasa dalam pesawat, pembajak leluasa menghirup udara dari pintu servis secara bergantian. Namun, itu tidak berlaku bagi penumpang. Mereka sampai memohon-mohon supaya diperkenankan menghela udara terbuka. Lama permintaan itu baru dipenuhi, setelah pembajak melihat penumpang mulai sesak nafas.      

Ketika tiba gilirannya menghirup udara bebas, timbul niat kabur di benak Karl Schneider. Penumpang asal Amerika berusia 40 itu barangkali sudah tidak tahan lagi disandera. Dia berlari tiba-tiba ke pintu darurat saat pembajak mengawasi pengisian bahan bakar dan oli. Pelarian Schneider tidak berjalan semulus Wainwright.

“Ia meloncat tapi agak telat. Seorang pembajak menembak dan mengenai bahunya. Ia jatuh langsung ke landasan yang keras,” ulas Tempo, 4-11 April 1981.

Baca juga: Sebait Puisi dari Pembajak Pesawat Garuda Woyla

Schneider sempat bertabrakan dengan pembajak yang diketahui bernama Abu Sofyan. Tanpa permisi, Abu Sofyan melepaskan dua kali tembakan ke bahu Schneider. Puluhan menit lamanya Schneider dibiarkan terkapar berlumuran darah. Nyawanya tertolong setelah ambulans milik Angkatan Udara Thailand datang dan memboyongnya ke rumahsakit.

Insiden itu membuat pejabat Indonesia maupun otoritas maskapai Garuda di pusat krisis semakin tegang. Mereka jengkel sekaligus mengkhawatirkan keselamatan para sandera. Kalau pembajak kalap lalu meledakkan pesawat, maka negosiasi yang sudah diupayakan jadi percuma.

“Bule itu menyusahkan kita saja,” komentar salah seorang pejabat Indonesia yang namanya tidak disebutkan Sinar Harapan.

Baca juga: Benny Moerdani Menangani Pembajak Pesawat Garuda

Schneider mengalami luka berat. Tapi, dia lolos dari maut setelah operasinya berjalan lancar. Sementara itu, Wainwright, satu-satunya sandera yang berhasil kabur dengan selamat tidak mengalami cedera berarti. Dia kemudian menjadi informan bagi tim pengendali krisis.

Wainwright memberikan banyak keterangan mengenai apa yang terjadi selama pembajakan berlangsung. Mulai dari berapa jumlah pembajak, ciri-ciri pembajak, hingga mendeskripsikan titik-titik penting dalam pesawat. Mayoritas informasi itu berguna untuk persiapan operasi pembebasan yang dilakukan pada hari berikutnya.

TAG

pembajakan garuda woyla

ARTIKEL TERKAIT

Kurt Waldheim Mantan Nazi jadi Sekjen PBB Sengkarut Tragedi Sekjen PBB di Tengah Misi Perdamaian Raja Jacob Ponto Dibuang ke Cirebon Ali Alatas Calon Kuat Sekjen PBB Mempertanyakan Solusi Dua Negara Israel-Palestina Lobi Israel Menyandera Amerika? Tante Netje 54 Tahun Jadi Ratu Nafsu Berahi Merongrong Kamerad Stalin (Bagian II – Habis) Sentot Alibasah Prawirodirjo, Putera, Hansip Spion Wanita Nazi Dijatuhi Hukuman Mati