Masuk Daftar
My Getplus

Kekerasan Rasial Tulsa 1921

Bermula dari tuduhan serangan perempuan kulit putih oleh lelaki kulit hitam, penduduk Afro-Amerika di Tulsa mengalami kekerasan rasial struktural.

Oleh: Nur Janti | 05 Jun 2020
Greenwood terbakar dalam peristiwa Tulsa Race Massacre 1921. (Sumber: Tulsa History).

DICK Rowland, pemuda berkulit hitam, masuk ke dalam lift Gedung Drexel di Third and Main, Tulsa, Oklahoma. Di lift itu sudah ada Sarah Pages, perempuan kulit putih yang merupakan operator lift. Sejurus kemudian, Rowland meraih lengan Sarah yang membuatnya terkejut dan berteriak.

"Ketika dia meraih lenganku, aku menjerit dan dia melarikan diri,” kata Sarah seperti dikabarkan Tulsa Daily World 2 Juni 1921 dalam artikel "Story of Attack on Woman Denied".

Pertemuan Rowland dan Sarah itu menjadi awal rangkaian peristiwa yang kini disebut Pembantaian Ras di Tulsa (Tulsa Race Massacre).

Advertising
Advertising

Insiden Sarah-Rowland di dalam lift terjadi pada pada Senin pagi, 30 Mei 1921. Polisi Tulsa menangkap Rowland keesokan harinya untuk dimintai keterangan. Rowland kemudian didakwa menyerang perempuan dan kasusnya dibawa ke pengadilan.

Baca juga: 

Rasisme di Titik Nol

 

Kabar begitu cepat berembus. Lewat artikel berjudul “Nab Negro for Attacking Girl in Elevator”, koran The Tulsa Tribune edisi 31 Mei 1921 siang mengabarkan insiden Sarah-Rowland sebagai serangan lelaki kulit hitam pada perempuan kulit putih. The Tulsa Tribune bahkan mengeluarkan editorial “To Lynch Negro Tonight”.

Padahal, seperti dikabarkan Tulsa Daily World yang mengutip keterangan Kepala Detektif di Departemen Kepolisian Tulsa James Patton, satu-satunya serangan yang dilakukan Rowland terhadap Sarah ialah meraih lengannya. Detektif Patton juga menerima keterangan yang sama dari Rowland.

Berita penuh bumbu yang dimuat Tulsa Tribune membangkitkan sentimen rasial orang kulit putih. Orang kulit hitam khawatir akan adanya penjatuhan hukuman mati tanpa pengadilan. Insiden ini memicu konfrontasi antara orang kulit hitam dan putih.

Baca juga: 

Rasisme dalam Film Sejarah

Sejarawan Rachael Hill dalam “Tulsa Massacre 1921”, dimuat dalam San Francisco State University History Student Journal, Volume XVIII, menyebut orang kulit hitam Tulsa punya banyak alasan untuk percaya bahwa Rowland akan dihukum mati setelah ditangkap. Dalam Laporan Akhir-nya, Komisi Oklahoma mencatat adanya rasisme yang kuat dan kekerasan pada kulit hitam yang dianggap lazim atau disetujui secara sosial.

Di awal abad ke-20, orang kulit hitam Amerika kerap menyaksikan kaumnya dihukuman mati tanpa pengadilan. Kondisi ini terus terjadi dan dianggap sebagai "hukum tidak tertulis" yang memungkinkan untuk membunuh orang tanpa tuduhan di bawah sumpah, tanpa diadili oleh juri, tanpa kesempatan untuk membela diri, dan tanpa hak mengajukan banding.

Sepanjang tahun 1921, ada 59 orang Afro-Amerika yang dijatuhi hukuman gantung. Dua dekade sebelumnya, lebih dari tiga ribu orang kulit hitam Amerika dihukum mati. Pada 1919, tercatat ada 75 hukuman mati tanpa pengadilan.

Baca juga: 

Rasis Tak Kunjung Habis

Sepanjang musim panas di tahun yang sama, kekerasan rasial meletus. Ada lebih dari 25 konflik bersenjata di seluruh negara bagian dan semua aksi kekerasan massa terhadap orang Afro-Amerika dipimpin orang kulit putih. Insiden-insiden tersebut dipicu rasialisme yang mengakar. Maka ketika Rowland diperiksa, komunitas Afro-Amerika langsung khawatir akan ada nyawa kulit hitam melayang karena tuduhan palsu.

Kekhawatiran itu mendorong dua kelompok massa (kulit hitam dan putih) berkumpul di sekitar gedung pengadilan ketika Rowland diadili. Beberapa di antaranya membawa senjata meski aparat kepolisian berjaga di sekitar gedung pengadilan.

Meski tuduhan itu kemudian dibatalkan karena janggal sejak awal, menjelang petang, kericuhan mulai terjadi ketika sebuah tembakan dilepaskan. Orang Afro-Amerika yang kalah jumlah kemudian mundur ke Distrik Greenwood yang dikenal sebagai Black Wall Street, sebuah daerah kulit hitam yang makmur. Kerusuhan pun terjadi sepanjang Selasa malam. Pemerintah setempat gagal mengambil tindakan untuk mengendalikan situasi.

"Jika fakta-fakta dalam pemberitaan sesuai dengan yang diceritakan polisi, saya tidak berpikir akan ada kerusuhan apa pun," kata Kepala Detektif Patton.

Sejak tengah malam 1 Juni 1921 hingga dini hari, Greenwood dijarah dan dibakar oleh perusuh kulit putih. Mereka menembaki penduduk Afro-Amerika, membakar rumah-rumah dan toko, bahkan fasilitas umum seperti gereja, sekolah, rumahsakit dan perpustakaan di distrik Greenwood.

Sebagaimana diinformasikan Tulsa History, para pejabat sipil ikut berpartisipasi dalam kekerasan ini dengan memberikan senjata api, amuisi, bahkan pesawat pribadi pada pria-pria kulit putih. Beberapa dari mereka bahkan secara langsung ikut dalam aksi kekerasan rasial itu.

Baca juga: 

Feminis Rasis

 

Menjelang fajar, Greenwood, Tulsa hancur. Gubernur Robertson menyatakan darurat militer pada 1 Juni pukul 11:30. Selain mengirim petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api, pemerintah juga mengirim pasukan Garda Nasional ke Tulsa. Penangkapan massal dilakukan pada hampir semua penduduk kulit hitam Greenwood. Lebih dari enam ribu orang kulit hitam ditahan di Convention Hall dan Fairgrounds selama delapan hari.

Mereka kemudian dipindah ke bagian lain kota. Sementara, pencurian, perusakan, dan perampasan harta benda pribadi orang kulit hitam yang tertinggal di rumah dan tempat bisnis terus terjadi. Tulsa History memperkirakan ada 100-300 orang terbunuh selama pembantaian.

Kekerasan berakhir setelah 24 jam. Tiga puluh lima blok kota luluh lantak. Lebih dari 800 orang dirawat karena cedera.

Pada 3 Juni 1921, status darurat militer Tulsa dicabut pukul 17:00. Jaksa Agung Amerika Serikat Daugherty memerintahkan penyelidikan atas kerusuhan tersebut. Gubernur Oklahoma Robertson langsung meneruskannya kepada Jaksa Agung Oklahoma Freeling untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti.

Namun, tak satu pun dari pelaku tindak kriminal itu dituntut atau dihukum baik oleh pemerintah kota, kabupaten, negara bagian, atau federal. Bahkan setelah pemulihan ketertiban, orang-orang kulit hitam yang ditangkap hanya bisa dibebaskan atas jaminan dari orang kulit putih.

Baca juga: 

Presiden Soeharto Becanda di Papua

 

Meski pada akhirnya jumlah populasi Afrio-Amerika di Tulsa turun, mereka yang tersisa berjuang sekuat tenaga untuk melindungi rumah, bisnis, dan komunitasnya. Pemerintah tak ikut andil dalam pemulihan. Semua diserahkan pada korban, yakni penduduk Afro-Amerika. Para pejabat publik bahkan terkesan menghalangi upaya pemulihan para korban dengan menolak beberapa tawaran bantuan dari luar.

Bantuan signifikan yang diterima para korban datang dari Palang Merah Amerika pimpinan Maurice Willows, yang tetap di Tulsa selama beberapa bulan setelah pembantaian itu. Warga kulit putih yang simpatik juga membantu memberikan tempat tinggal kepada para korban yang kehilangan rumah. Suratkabar Chicago Tribune juga menyalurkan bantuan $1000 pada para korban untuk membantu pemulihan para tunawisma pembantaian.

Malam pertumpahan darah dan penghancuran 1921 di Greenwood disebut Rachael sebagai penindasan struktural. Peristiwa ini juga dikenal sebagai kekerasan rasial terburuk dalam sejarah Amerika.

TAG

amerika serikat afrika

ARTIKEL TERKAIT

Jejak Nelson Mandela di Indonesia Anomali Kamerun yang Menggegerkan Dunia Kala Afrika Diserang Belalang Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika Fasilitas "Plus-plus" dalam Konferensi Asia Afrika Ketika Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika Konferensi Asia Afrika di Mata Pelajar Indonesia Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair Ali Sastroamidjojo, Diplomat yang Terlupa