Masuk Daftar
My Getplus

Hoegeng, Polisi Anti Suap

Bertahan untuk tetap bersih di tengah kepungan praktik suap dan perilaku menjilat. Namanya kemudian abadi sebagai polisi jujur.

Oleh: Martin Sitompul | 23 Jun 2020
Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso dan istri. (IPPHOS/Perpusnas RI).

Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso tahu betul bagaimana kentalnya tradisi menjilat di kalangan pejabat Orde Baru. Demi bercokol dalam lingkaran kekuasaan, mereka berusaha menarik simpatik Presiden Soeharto sekalipun dengan cara memalukan. Lapangan golf biasanya menjadi arena dimana praktik menyanjung dan melobi itu dilancarkan.

Dalam suatu wawancara dengan George Junus Aditjodro, wartawan Tempo pada akhir 1970, terkuaklah kejengkelan Hoegeng. Dia mengungkapkan tentang seorang pejabat kabinet yang suka menjalankan aksi tersebut. Namanya, Maraden Pangabean, Menhankam/Pangab.

Panggabean rela membeli stik golf paling mahal untuk menjadi rekan main golf Soeharto. Namun, saat permainan dia kerap mengalah atau pura-pura tak mampu melawan Soeharto. Saat itulah Panggabean mengeluarkan  jurusnya: memuji-muji permainan golf Soeharto.

Advertising
Advertising

“Ini diceritakan oleh Hoegeng, dengan meniru logat Batak Panggabean yang sangat kental,” kata Aditjondro dalam testimoni buku Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa yang ditulis Aris Santoso, dkk.

Baca juga: Perintah Receh Jenderal Panggabean

Hoegeng sendiri mengecam tradisi permainan golf di kalangan pejabat. “Saya tidak bermain golf bukan karena antigolf tetapi karena itu permainan mahal. Harga stik golf sangat mahal dan saya tidak punya uang. Saya juga tak bersedia meminta-minta,” kata Hoegeng dalam Tempo, 22 Agustus 1992.

Seorang menteri pernah mengeluhkan sikap Hoegeng yang tidak mau main golf. Padahal, hampir semua pejabat telah menjajal olahraga mewah ini. Hoegeng pun dijanjikan akan diberikan seperangkat alat main golf cuma-cuma. Tapi Hoegeng dengan tegas menolaknya.

“Wah, saya ndak mau dibelikan stik golf. Nanti saya beban utang budi,” demikian kata Hoegeng.  

Disogok Tionghoa Medan

Sifat lurus Hoegeng telah terbentuk sejak kariernya di kepolisian masih di jenjang bawah. Harga diri Hoegeng sebagai pejabat negara pernah diuji tatkala dirinya ditugaskan di Medan. Pada 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kadit Reskrim Kantor Polisi Propinsi Sumatra Utara.

“Saya ditakdirkan bertugas di wilayah kerja yang dimitoskan sebagai wilayah ‘test case’ yang berat di Indonesia itu,” kenang Hoegeng dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan yang disusun Abrar Yusra dan Ramadhan K.H.

Wilayah Sumatra Utara saat itu tergolong rawan. Tindakan kriminal seperti penyelundupan, korupsi dan perjudian sedang marak-maraknya. Untuk membereskan itulah Jaksa Agung Soeprapto menugaskan Hoegeng dan segera disetujui oleh Kepala Kepolisian Negara Soekanto.

Baca juga: Jenderal Polisi (Purn) Awaloedin Djamin: Soekanto Bapak Polisi Kita

Kolega Hoegeng di kepolisian memperingatkannya agar berhati-hati. Di Medan, telah menjadi rahasia umum kalau pejabat negara dapat dibeli oleh kelompok pengusaha Tionghoa yang menjalankan bisnis gelap. Bisnis itu bisa menggeliat karena ada backing dari oknum tentara atau kepolisian.  Hoegeng sempat memikirkan kesiapannya namun pada akhirnya dia mantap berangkat ke Medan.  Lagi pula, Hoegeng selalu ingat pesan ayahnya untuk selalu menjaga nama baik.   

Baru saja berlabuh di Pelabuhan Belawan, Hoegeng langsung disambut dengan acara “Selamat Datang yang Unik”. Seorang Tionghoa bertubuh gemuk menghampiri dirinya ketika hendak menuju tempat penginapan sementara. Hoegeng lupa siapa namanya namun orang Tionghoa itu memperkenalkan dirinya sebagai “Ketua Panitia Selamat Datang”.

Dengan ramah, Ketua Panitia menyatakan kegembiraan atas pengangkatan Hoegeng sebagai pejabat baru di Medan. Selanjutnya, jurus pamungkas pun dikerahkan. Dia menawarkan rumah dan mobil untuk membantu Hoegeng bertugas. Hoegeng mengucapkan terimakasih namun menolak pemberian itu. Orang Tionghoa itu pun hanya bisa melongo dan segera pamitan.

Baca juga: Persekutuan Jenderal dan Pengusaha

Dua bulan kemudian, orang yang sama “mengerjai” rumah dinas Hoegeng, di Jalan Rivai 26. Ketika Hoegeng akan menempati rumah itu, dia dikejutkan dengan kiriman perabotan rumah tangga yang serba mahal. Barang-barang itu antara lain: piano, lemari, meja dan kursi tamu, bufet, meja makan, kulkas, tape rekorder, dipan-dipan jati, dan entah apalagi.     

Sogokan itu benar-benar membuat Hoegeng marah. “Cina tukang suap itu memang badung,” kata Hoegeng. Dia mengultimatum orang yang pernah menyambutnya di Belawan dulu agar mengeluarkan barang itu dari rumah dinas. Hingga waktu yang ditentukan, barang sogokan itu belum juga diambil. Hoegeng pun habis kesabaran. Dia memerintahkan anggota kepolisian yang membantu kuli mengeluarkan perabotan mewah itu dan meletakkannya di pinggir jalan begitu saja.

Menurut Hoegeng, seluruh pendapatannya sebagai polisi barangkali tidak dapat membeli barang-barang itu. Memutuskan untuk membuang barang-barang pemberian itu agak disayangkan juga oleh Hoegeng. “Akan tetapi itu lebih baik ketimbang saya melanggar amanah almarhum ayah saya dan mengkhianati sumpah jabatan sebagai penegak hukum di Republik ini,” kenang Hoegeng dalam otobiografinya.

Disikut Sesama Pejabat

Menurut Aris Santoso, dkk, selama Hoegeng memimpin reskrim, tidak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian di Sumatra Utara yang berhasil dibongkar. Kasus-kasus yang ditangani banyak sekali. Frekuensinya tidak terhitung lagi. Benar-benar daerah rawan hukum.

“Dalam banyak kasus, senantiasa tertangkap juga beberapa orang Cina yang terlibat dalam sindikat perjudian. Sekali gebrak, bisa ditangkap dua atau tiga orang,” tulis Aris Santoso, dkk. Acap kali Hoegeng menangkap basah anggota tentara atau polisi yang menjadi backing usaha ilegal seperti itu selama operasi.

Baca juga: Dari Bugel Menjadi Hoegeng

Selepas tugas di Medan, karier Hoegeng terus melesat. Berturut-turut Hoegeng menjabat Kepala Jawatan Imigrasi (kini Dierjen Imigrasi) dan Menteri Iuran Negara (kini Dirjen Pajak). Pada 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kapolri menggantikan Soetjipto Joedihardjo. Di masa puncak kariernya inilah Hoegeng kembali mengalami ujian terberat sebagai abdi negara.

Dua kasus menggemparkan terjadi di masa kepemimpinan Hoegeng. Pada 1969, Hoegeng berhasil membongkar penyelundupan mobil mewah yang dilakukan kelompok Robby Tjahyadi. Robby Tjahyadi sendiri dikenal sebagai penyelundup kelas kakap yang punya koneksi dengan pejabat teras dalam pemerintahan.

Setahun berselang, Hoegeng juga turun tangan menguak kasus pemerkosaan gadis bernama Sumarijem alis Sum Kuning yang melibatkan anak pembesar sebagai tersangka. Anehnya, tidak lama kemudian, pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan dengan alasan peremajaan. Adapun pengganti Hoegeng ialah Mohamad Hasan yang merupakan senior Hoegeng.

Baca juga: Hoegeng Pernah Keluar dari Kepolisian

Banyak yang mengaitkan pencopotan Hoegeng dengan terbongkarnya kasus Robby Tjahyadi dan kegigihannya menguak kasus Sum Kuning. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Hoegeng tidak disukai sesama pejabat.  Ketika menghadap Presiden Soeharto, Hoegeng ditawarkan tugas baru: “didubeskan” ke Belgia.

Seperti dituturkan kepada Ramadhan K.H dan Abrar Yusra, Hoegeng menolak halus tawaran jadi dubes, dengan mengatakan, “Tugas apapun di Indonesia akan saya terima. Tapi Soeharto seakan menutup kesempatan bagi Hoegeng dengan jawaban, “di Indonesia sudah tidak ada lowongan lagi buat Mas Hoegeng.”

 “Kalau begitu, saya keluar saja,” ujar Hoegeng. Mendengar itu, Soeharto terdiam.   

Usulan menggeser Hoegeng dari jabatan Kapolri ke Belgia datang dari Menhankam/Pangab Jenderal Maraden Panggabean. Menurut Aditjondro, anekdot soal kelakuan Panggabean di lapangan golf itu bisa jadi mencerminkan ketegangan antara Hoegeng dan Panggabean.

“Yang jelas, kedua tokoh itu punya sikap yang diametral berbeda dalam soal korupsi, yang meliputi sikap terhadap nepotisme,” tulis Aditjondro.

TAG

polisi hoegeng

ARTIKEL TERKAIT

Komandan Polisi Istimewa Digebuki Anggota Laskar Naga Terbang Kisah Polisi Kombatan di Balik Panggung Sejarah Kapolri Pertama Itu Bernama Soekanto Soedarsono "Kudeta 3 Juli": Dari Komisaris ke Komisaris Lagi Kapolri Diselamatkan Mobil Mogok Insiden Hoegeng dan Robby Tjahjadi di Cendana 8 Bea Cukai Loloskan Mobil Selundupan Robby Tjahjadi Slamet Sarojo, Polisi Jadi Pengusaha Bapaknya Indro Warkop Jenderal Intel Pembersihan Polisi pada Masa Lalu