Masuk Daftar
My Getplus

Guru Menulis AR Baswedan

Punya andil dalam sejarah pers nasional, nama jurnalis-pejuang ini tak dikenal banyak orang.

Oleh: Nur Janti | 08 Nov 2017
Tokoh-tokoh PAI Surabaya: Hoesin Bafagieh, Said Jibran, Abu Bakar Shahab, dan Salim Ali Maskati, di Surabaya, Januari 1939. foto: repro buku Kumpulan Tulisan & Pemikiran Hoesin Bafagieh

SAMBIL membawa tulisannya supaya dimuat, AR Baswedan menemui Hoesin Bafagieh di kantor Majalah Zaman Baroe. Di hadapan Maskati, Bafagieh langsung menolak keinginan Baswedan. “Saya telah mengejeknya dengan kata-kata yang menghina, nyatakan bahwa karangannya belum bisa mendapat tempat di halaman Zaman Baroe dan ia perlu belajar kembali,” ujar Bafagieh dalam Aliran Baroe Tahun II No.6 Januari 1939.

Menurut Nabiel Karim Hayaze, penyusun buku Kumpulan Tulisan dan Pemikiran Hoesin Bafagieh, Hoesin jauh lebih senior dari Baswedan. “Ketika Baswedan mulai semangat menulis, Hoesinlah yang mengajarkan Baswedan menulis,” kata Nabiel dalam diskusi buku yang diselenggarakan di UI, Selasa, 7 November 2017. Nabiel melanjutkan, keturunan Arab yang aktif dalam pergerakan bukan hanya Baswedan meski dia yang paling dikenal.

Lahir dan tumbuh di Kampung Ampel, perkampungan Arab di Surabaya, Bafagieh tak mengungkung diri dalam bergaul. Dia berkawan baik dengan banyak pemuda pergerakan dengan beragam latarbelakang etnis. Selain hobi menulis, Bafagieh gemar berorganisasi.

Advertising
Advertising

Dia merupakan pendukung utama berdirinya Jam’iyyah at-Tahdhibiyah, organisasi pemuda keturunan Arab yang berupaya mengatasi perpecahan di kalangan mereka yang terus diwariskan golongan tua, yang berdiri di Surabaya pada 1 Agustus 1924.

“Saat itu muncullah di antara pemuda al-Irshad dan al-Rabitah yang bersemangat menentang generasi lebih tua, yang terus-menerus menjadi penghalang mereka untuk mencapai kemajuan. Beberapa pemuda dari al-Irshad dan al-Rabitah membuat semacam ‘persatuan’ yang telah melahirkan sebuah organisasi bernama ‘Bibliotheek Attahdibijah’ di Surabaya,” tulisnya sebagaimana disitir Natalie Mobini-Kesheh dalam The Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900-1942.

Bersama Salim Maskati, di Bibliotheeq At-Tahdibiyyah Bafagieh lalu mendirikan Zaman Baroe. Keduanya memimpin majalah berbahasa Melayu yang terbit rutin mulai Oktober 1926 hingga Maret 1928 itu. Di sana, Bafagieh menuangkan pemikirannya tentang penyebab perpecahan keturunan Arab di Hindia, solusi mengatasinya, dan ideologi nasionalismenya.

Setelah Zaman Baroe berhenti terbit, pada 1938 Bafagieh bersama Maskati mendirikan Aliran Baroe. Pendirian Aliran Baroe terinspirasi dari pemuda Tionghoa yang berjuang melalui dunia jurnalistik. Di Aliran Baroe, Bafagieh duduk dalam beragam posisi sekaligus, mulai penulis hingga penyandang dana.

Bafagieh merupakan pengkritik tajam pandangan para keturunan Arab di Hindia yang selalu menganggap diri superior serta tetap menjadikan Hadramaut sebagai tanah-air, bukan Indonesia. Dalam tulisan berjudul “Masyarakat Tionghoa dan Islam”, Aliran Baroe, Tahun I No. 4, November 1938, Bafagieh mengkritik golongan Islam fanatik dengan sorotan tajam terhadap praktik penggantian nama dan penghapusan tradisi Tionghoa pada orang Tionghoa yang menjadi muslim. Bafagieh juga mengkritik kefanatikan umat Islam yang mempertanyakan kualitas ibadah dan keislaman muslim Tionghoa.

“Seolah-olah Islam itu hak monopoli mereka, tidak boleh bangsa lain mengaku Islam, apabila belum diperiksa akan lahir-batinnya dan surat keterangannya,” tulis Bafagieh.

Kritik lain Bafagieh kepada keturunan Arab yakni terlalu gengsinya mereka untuk bekerja kasar. “Menganggap bahwa derajat kita tidak mengizinkan buat lakukan segala pekerjaan yang disangkanya merendahkan…anggapan merendahkan tidak semestinya diletakkan pada orang yang mempunyai pekerjaan pantas untuk penghidupannya.”

Menurut Bafagieh dalam “Arab Indonesia yang Melarat Harus Buka Matanya,” Insaf No. 5 Tahun ke-I, Mei 1937, orang-orang keturunan Arab menaruh rasa malunya di tempat yang tidak seharusnya. Mereka malu untuk bekerja sebagai tukang potong rambut atau tukang sol sepatu tetapi tidak malu untuk tidak bekerja.

Bafagieh kemudian menjadi anggota Partai Arab Indonesia (PAI), partai nasionalis keturunan Arab yang didirikan antara lain oleh AR Baswedan, cabang Surabaya. Nasionalisme mereka dibuktikan dengan deklarasi Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada 4 Oktober 1934.

Meski sering memuat tulisan-tulisan anggota Partai Arab Indonesia (PAI), ujar Hoesin Al-Attas, “Aliran Baroe bukan organ dari PAI, semata-mata hanya usaha dari Saudara Hoesin Bafagieh sendiri.” Bafagieh menjadikan Aliran Baroe medium penyiaran ide-ide berbangsa dan bertanah air PAI.

“Hoesin Bafagieh adalah tokoh pers. Sejarah gerakan tidak lepas dari sejarah pers. Karena di zaman itu banyak orang yang ingin pemikirannya dibaca orang, untuk memengaruhi orang,” kata Didik Pradjoko, dosen sejarah UI.

Selain aktif dalam jurnalistik, Bafagieh produktif menulis naskah tonil. Korban Adat, tonil pertama Bafagieh yang dipentaskan di Kongres kedua PAI, memuat pesan terselubung tentang Indonesia sebagai tanah air. Sementara Fatimah, kata Dr. Zeffry Al-Katiri, yang menulis pengantar dan moderator dalam diskusi buku Hosein Bafagieh, berisi kritikan Bafagieh terhadap dirinya sendiri dan budayanya tentang posisi perempuan dalam lingkungan keturunan Arab. Fatimah lalu dilarang pemerintah kolonial. Menurut Zeffry, apa yang dikritik Bafagieh beberapa puluh tahun lalu masih relevan hingga kini.

“Limapuluh tahun ayah saya mendobrak ini tapi hari ini orang Arab masih gitu-gitu saja,” kata Raihan Kamil, anak Bafagieh yang hadir dalam diskusi.

TAG

ARTIKEL TERKAIT

Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure Kisah Rektor UI yang Rangkap Jabatan Rivalitas Sadat-Qadafi Akibatkan Mesir-Libya Perang Empat Hari Iskandar Alisjahbana, Rektor yang Diteror Satgas Flu Spanyol di Hindia Belanda Kritik Soe Hok Gie kepada Rektor UI Setan Influenza Menyerang Hindia Belanda Pembatasan Kegiatan Masyarakat Masa Kompeni Pertama Kali Manusia Memakai Narkoba Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika