Masuk Daftar
My Getplus

Gempa Besar bagi Bupati Cianjur

Bupati Cianjur diberhentikan setelah gempa besar. Ia melalaikan pekerjaannya dan lebih suka berburu dan menangkap ikan.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 22 Nov 2022
Bangunan rusak akibat gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin, 21 November 2022. (BPBD Kabupaten Cianjur).

Gempa tektonik berkekuatan magnitudo M5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, 21 November 2022 pukul 13.21 WIB. Gempa merusak ini mengakibatkan 162 orang meninggal, 326 orang luka berat dan ringan, lebih dari 2.345 rumah rusak berat, dan 13.400-an orang mengungsi.

Daryono, Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, mendata sejarah gempa besar yang merusak di Cianjur-Sukabumi telah terjadi sejak tahun 1844.

Ternyata, sekitar sepuluh tahun sebelumnya juga terjadi gempa besar yang mengguncang Cianjur. Setelah gempa besar ini, bupati Cianjur diberhentikan.

Advertising
Advertising

Raden Aria Adipati Prawiradireja I, bupati Cianjur ketujuh, turun takhta pada 1833 setelah menjabat selama 20 tahun sejak 1813. Ia menjabat bupati tidak sampai meninggal pada 1834. Sebagai penggantinya, ia menunjuk anak pertamanya, Raden Tumenggung Wiranagara. Namun, Residen Priangan, O.C. Holmberg de Beckfelt, tidak menyetujuinya karena Raden Tumenggung Wiranagara memiliki kebiasaan yang kurang baik.

Baca juga: Gempa Bumi Mengguncang Cianjur

“Raden Tumenggung Wiranagara terkenal suka berjudi, berburu, menangkap ikan seperti marak, lintar dan yang lainnya,” tulis Bayu Suryaningrat dalam Sajarah Cianjur Sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur. Marak adalah cara menangkap ikan dengan menyurutkan air, sementara lintar adalah cara menangkap ikan menggunakan jaring.

Karena perilakunya kurang baik, Holmberg bermaksud mengangkat bupati Limbangan menjadi bupati Cianjur. Namun, Adipati Prawiradireja I bersikeras, Holmberg pun mengalah. Akhirnya, Raden Tumenggung Wiranagara diangkat, namun hanya sebagai wakil (waarnemend atau acting) bupati, dengan perjanjian jika dia mampu bekerja dengan baik dalam waktu dua tahun, maka dia akan diangkat menjadi bupati yang layak dan diberi gelar Adipati.

Namun, menurut Bayu Suryaningrat, Raden Tumenggung Wiranagara tidak bisa lepas dari kelakuan buruknya. Pekerjaannya seharian hanya berburu dan menangkap ikan. Bahkan, pada suatu hari, ia meninggalkan daerah tanpa izin dan pada hari itu terjadi gempa besar, Gunung Gede meletus, dan sungai Cianjur digenangi lahar.

Baca juga: Terbunuhnya Bupati Cianjur Mitra Dagang VOC

Engkon Kertapati, peneliti Pusat Survei Geologi, dalam Aktivitas Gempabumi di Indonesia menyebut gempa yang merusak bangunan di Cianjur terjadi pada 10 Oktober 1834. Gempa besar kemudian terjadi lagi di Cianjur pada 15 Februari 1844.

“Pada tanggal 14 Oktober 1834 Raden Tumenggung Wiranagara diberhentikan dan dihukum oleh ayahnya, Adipati Prawiradireja I, karena dianggap melalaikan pekerjaannya dan tidak bertanggung jawab kepada rakyat,” tulis Bayu Suryaningrat.

Setelah diberhentikan, Raden Tumenggung Wiranagara menempati rumah yang berada di tonggoh (atas) pendopo. Sehingga, ia pun sering disebut Dalem Tonggoh. Bupati Cianjur kemudian dijabat oleh Raden Aria Adipati Kusumahningrat, adiknya beda ibu, yang menjabat dari tahun 1834 sampai meninggal pada 1862.*

TAG

gempa bumi cianjur

ARTIKEL TERKAIT

Perjuangan Kapten Harun Kabir Secuil Cerita Jenaka dari Cianjur Semasa Pendudukan Saudara Tua Gempa Merusak Keraton Bupati dan Masjid Agung Cianjur Ibu Kota Pindah dari Cianjur ke Bandung Gempa Bumi Mengguncang Cianjur Akhir Petualangan Haji Prawatasari Persekutuan Rahasia Prawatasari-Ki Mas Tanu Menak Pemberontak dari Jampang Manggung Sang Pembawa Peluru Sultan Jailolo Mencari Leluhur Hingga Cianjur