Masuk Daftar
My Getplus

Dahsyatnya Humor Gus Dur (Bagian 2)

Di hadapan pemimpin negara asing, Gus Dur tak sungkan melancarkan banyolannya yang berbobot. Jurus ampuh menangkal ancaman dari luar.

Oleh: Martin Sitompul | 18 Jun 2022
Gus Dur bersama Menteri Pertahanan Amerika Serikat William S. Cohen di Jakarta, 18 September 2000. Sumber: Wiki Common.

Meski memerintah dalam waktu singkat (1999-2001), Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, termasuk paling banyak melakukan perjalanan. Entah itu ke dalam maupun luar negeri. Dari keseringannya berkunjung itulah Gus Dur menciptakan lelucon tentang dirinya.

“Kalau Bung Karno itu negarawan. Pak Harto itu hartawan. Pak Habibie ilmuwan.”

“Kalau Gus Dur, apa Gus,?”

Advertising
Advertising

“Kalau saya wisatawan,” kata Gus Dur suatu ketika.

Lelucon itu dikisahkan Priyo Sambadha Wirowijoyo, mantan asisten pribadi Gus Dur di Sekretariat Negara Biro Pers dan Media, dalam webinar “Merawat Arsip Kepresidenan: Alih Media dari Lensa dan Suara K.H. Abdurahman Wahid 1999-2001” pada 17 Juni 2022. Acara yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu banyak menampilkan potret Gusdur bersama tokoh-tokoh dunia.   

Baca juga: Dahsyatnya Humor Gus Dur

Menurut Priyo, di masa kepresidenan Gus Dur potensi disintegrasi bangsa kuat sekali. Ancaman itu imbas dari kejatuhan Presiden Soeharto. Di sisi lain, faktor negara-negara asing yang punya kepentingan terhadap Indonesia turut diwaspadai. Itulah sebabnya mengapa Gus Dur banyak sekali mengadakan safari mancanegara.  

“Itu strategi beliau dalam menjaga integrasi bangsa. Sederhananya, ini negara-negara didekati supaya jangan ganggu Indonesia,” kata Priyo.   

Sambut Castro dengan Kulit Kacang

Pada tahun 2000, Gus Dur berkunjung ke Kuba dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok. Di sela-sela istirahat, Gus Dur tinggal di Hotel Melia Havana. Di sana Gus Dur tidak meninggalkan kebiasaannya, makan kacang kulit. Usai makan kacang, kulitnya dibuang saja di lantai.

Tiba-tiba, datanglah pasukan pengawal presiden. Tidak disangka-sangka, tanpa pemberitahuan, Presiden Fidel Castro menyambangi kamar hotel Gus Dur.

“Castro kan badannya tinggi besar. Jadi waktu masuk ke ruang tamu kamar Gus Dur, Castro itu injekin kulit kacang. Castro bingung kok ada kulit kacang,” ujar Priyo.

Baca juga: Sukarno dan Jenggot Fidel Castro

Ternyata Fidel Castro sengaja “mengejar” Gus Dur hanya untuk mendengarkan banyolannya. Setelah bertemu, keduanya pun saling guyon. Hampir sejam mereka bercengkrama dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, Gus Dur membuat Castro tertawa terbahak-bahak ketika mendengar lelucon tentang presiden-presiden Indonesia.  

“Presiden Indonesia itu gila semua,” kata Gus Dur

“Kenapa,” tanya Castro

“Yang pertama gila wanita, yang kedua gila harta, yang ketiga gila sama teknologi.”

“Kalau yang keempat?” ujar Castro

“Saya. Yang milih saya ini yang gila,” kata Gusdur sambil nyengir, yang diikuti dengan Fidel Castro ngakak.

“Itu guyonan tingkat tinggi level presiden,” kata Priyo.

Raja Fahd Kelihatannya Giginya

Dalam lawatannya ke Arab Saudi, Gus Dur lagi-lagi bikin heboh. Sebabnya, Gus Dur berhasil membuat orang nomor satu Arab Saudi, Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud, tertawa lepas. Bahkan, rakyat Arab Saudi jarang sekali melihat raja mereka mengumbar senyum.   

“Raja Fahd itu kan orang serius sekali. Terkesan pemurung. Bukan tipe orang yang mudah senyum,” kata Priyo.

Sekali waktu Gus Dur dan Raja Fahd mengadakan pertemuan bersama menteri masing-masing. Pada satu kesempatan, Gus Dur dan sang raja saling melempar guyon dalam bahasa Arab. Waktu Gus Dur sedang bercanda, Raja Fahd dan menteri-menterinya dibuat tertawa. Balik giliran Raja Fahd menyampaikan sesuatu yang lucu dengan panjang lebar. Namun, yang menyambut dengan gelak hanya Presiden Gus Dur dengan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab.

Baca juga: Gus Dur yang Poliglot

Kebanyakan menteri-menteri Gus Dur tidak memahami bahasa Arab. Secara singkat, Gus Dur kemudian menerjemahkan lelucon Raja Fahd kepada menteri-menterinya. Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak sampai membuat Raja Fahd terheran-heran.   

“Loh, itu cerita saya panjang, tapi yang mulia ceritakan ke menteri-menteri cuma pendek begitu. Yang mulia cerita apa ke menteri-menterinya?” ujar Raja Fahd.

Kepada Raja Fahd, Gus Dur mengatakan terjemahan yang disampaikannya kepada para menterinya. “Yang Mulia Raja Fahd sedang melucu, silahkan tertawa,” kata Gusdur. Mendengar itu, raja Fahd terpingkal-pingkal sampai giginya kelihatan.

Baca juga: Hubungan Gus Dur dan Yahudi

Setelah kejadian itu, hubungan diplomasi Indonesia dengan Arab Saudi makin dekat. Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi bahkan melaporkan pemberitaan media yang mengucapkan terimakasih kepada Presiden KH. Abdurrahman Wahid. “Rakyat Saudi Arabia bisa melihat giginya Raja Fahd,” demikian pemberitaan media.

Selalu Ditunggu Media

Gus Dur punya kebiasaan berpidato tanpa teks tapi ingatannya sangat tajam. Jadi, kata Priyo, apa yang hendak disampaikan Gus Dur ke publik, hanya dirinya dan Tuhan saja yang tau. Namun, hal ini pula yang selalu membuatnya tegang, apabila Gus Dur berbicara dengan wartawan, terlebih wartawan asing.  

“Selalu ada kejutan-kejutan dari Beliau. Dan itu sangat ditunggu oleh media. Entah itu ucapan atau pidato Gus Dur,” ujar Priyo.

Baca juga: Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur

Menurut Achmad Dedi Faozi, arsiparis ANRI, ada ribuan foto Gus Dur yang tersebar di luar negeri. Sebanyak 1032 nomor di Amerika Serikat, 256 nomor di Prancis, 267 nomor di Mesir, 825 nomor di India, 203 nomor di Australia. Foto-foto tersebut kini masuk khazanah arsip “Abdurrahman Wahid” koleksi ANRI, yang meliputi  7018 arsip foto, 296 kaset rekaman suara 6 kaset video yang dapat diakses masyarakat.

TAG

gus dur arsip

ARTIKEL TERKAIT

Tantangan Riset Sejarah di Era Milenial Pidato Sukarno Menuju Memori Dunia Membaca Sejarah Bangsa dari Arsip Sukarno Alkisah Kertas Tua dari Kastil Batavia Jenderal Ibrahim Adjie Tembak Mati Perampok Jenderal Polisi Divonis Mati Melacak Jejak Jepang di Indonesia Bripda Djani Dikorbankan Kini Bharada E Dulu Bripda Djani Alkisah Berghof dan Sarang Elang Hitler