Masuk Daftar
My Getplus

Cerita Para Desersi Jepang

Ribuan eks tentara Jepang membelot ke kubu kaum Republik selama 1945-1949. Lebih banyak bermotif cinta?

Oleh: Hendi Johari | 03 Agt 2018
Hasegawa dan Aoki saat ditangkap militer Belanda di Garut. (Arsip Nasional Belanda).

ALKISAH pada pertengahan April 1946, Squadron Leader Frederick George Birchall dikabarkan hilang di perbatasan Sukabumi dan Bogor. Petugas AWCD (Australian War Crimes Detachment) yang tengah memburu para penjahat perang Jepang tersebut disinyalir telah tewas bersama tiga rekannya.

Menurut Priyatna Abdurrasyid, mereka kabarnya dibunuh oleh satu seksi TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) yang dipimpin seorang eks tentara Jepang. “Rupanya serdadu Jepang itu adalah bekas algojo kamp konsentrasi di wilayah Indonesia Timur yang tengah diburu oleh pihak Australia,” ujar eks pimpinan tim pencari tiga petugas AWCD dari pihak Republik Indonesia tersebut

Selama Perang Kemerdekaan (1945-1949) berlangsung di Indonesia, sekira 1500 eks tentara Jepang memutuskan untuk bergabung dengan gerakan pembebasan Indonesia. Mereka bahu membahu bersama para pejuang Republik melawan militer Belanda di Jawa dan Sumatera.

Advertising
Advertising

“Di Jepang, kami menyebut mereka sebagai zanryu nihon hei (serdadu yang memilih tinggal),” ungkap sejarawan Aiko Kurasawa kepada Historia. (Baca: Catatan Hitam Pendukung Kemerdekaan)

Putus Asa

Begitu tersebar berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, para serdadu Jepang di Indonesia nyaris seluruhnya merasa kecewa. Menurut Shigeru Ono (eks tentara Jepang yang membelot ke kubu Republik), mereka rata-rata tak menyangka negaranya yang dipimpin oleh seorang “keturunan dewa” bisa bertekuk lutut begitu saja. (BacaShigeru Ono, Pejuang Jepang Telah Berpulang)

“Pada akhirnya kami semua merasa putus asa, banyak kawan-kawan yang melakukan harakiri (bunuh diri dalam tradisi Jepang guna menunjukan kehormatan) dan malah ada juga yang menjadi gila,” ujar zanryu nihon hei terakhir di Indonesia itu.

Selain patah harapan, mereka pun merasa takut aksi balas dendam yang dilakukan pihak Sekutu, terutama kepada para serdadu yang terlibat langsung dalam penyiksaan tawanan kulit putih di berbagai kamp konsentrasi. Ancaman kematian menjadikan mereka pragmatis dan memilih berlindung di balik gerakan pembebasan Indonesia.

Hasegawa adalah salah satu serdadu Jepang yang diburu pihak Belanda dan Sekutu pasca Perang Dunia II. Menurut salah satu dokumen NEFIS (Dinas Intelijen Belanda) yang disimpan di Arsip Nasional Belanda, Hasegawa merupakan algojo sadis pada sebuah kamp konsentrasi di Flores.

Sadar posisinya diambang bahaya, Hasegawa yang kemudian tertangkap oleh suatu unit Lasykar BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) di Garut bernama PPP (Pasukan Pangeran Papak) kemudian memutuskan untuk bergabung dengan pihak yang menawannya. Dia kemudian merubah namanya menjadi lebih Indonesia: Aboebakar.

Petualangan Hasegawa di Garut berakhir pada awal Agustus 1948. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa keluaran Sejarah Kodam VI Siliwangi, Hasegawa tertangkap saat dia tengah mengikuti rapat rahasia bersama para pimpinan Brigade Tjitaroem yang dibentuk oleh Letnan Kolonel Soetoko di Kampung Parentas, termasuk kaki Gunung Dora (terletak di perbatasan Garut-Tasikmalaya).

“Dia dihukum mati beberapa hari setelah tertangkap,” ungkap Raden Ojo Soepardjo, eks anggota PPP, kepada Historia.

Karena Cinta

Namun menurut Aiko, motivasi terbesar para zanryu nihon hei bertahan di Indonesia adalah cinta. Bukan rahasia lagi jika selama bertugas di Indonesia banyak tentara Jepang yang menjalin hubungan cinta dengan perempuan-perempuan Indonesia.

“Mereka merasa berat untuk meninggalkan kekasihnya lantas memilih bertempur di pihak bangsa kekasihnya,” ujar peneliti sejarah dari Keio University tersebut.

Aiko tak menafikan ada memang kelompok kecil eks tentara Jepang yang bergabung dengan para pejuang Indonesia karena rasa simpati dan cintanya kepada Indonesia. Salah satu contoh dari kelompok ini adalah Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei. Keberpihakannya kepada Indonesia sudah terjadi sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta.

“Dia bahkan diangkat anak oleh ayah saya dan diberi nama Indonesia: Abdul Rachman karena sikapnya yang penuh kasih kepada bangsa Indonesia,” ujar Bibsy Soenharjo, salah satu putri Haji Agus Salim. (Baca: Ichiki Tatsuo, Kekecewaan Seorang Jepang)

Sejarah mencatat Abdul Rachman terlibat dalam penerjemahan buku-buku taktik dan strategi perang Jepang ke dalam bahasa Indonesia. Dalam bidang penerjemahan buku-buku pegangan intelijen jepang, dia pun pernah bekerjasama dengan Kolonel Zulkifli Lubis, orang yang dijuluki sebagai “bapak intel Indonesia”.

Pada 1948, dia ditugaskan oleh Kolonel Sungkono untuk mengumpulkan seluruh eks serdadu Jepang di Jawa Timur dan menghimpunnya dalam suatu kesatuan khusus. Maka pada 28 Juli 1948, berkumpullah 28 zanryu nihon hei di Wlingi dan mendeklarasikan berdirinya Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) di bawah koordinasi Brigade Surachmad.

Sebagai pimpinan, Sungkono mengangkat Mayor Arif (Tomegoro Yoshizumi), senior dari Abdul Rachman. Namun karena Mayor Arif kerap sakit-sakitan (kemudian meninggal pada 10 Agustus 1948), akhirnya pucuk pimpinan PGI diserahkan kepada Mayor Abdul Rachman. (Baca: Tomegoro Yoshizumi, Intel Negeri Sakura)

Sensei Ichiki akhirnya gugur dalam suatu pertempuran di wilayah selatan Malang pada awal Januari 1949,” ungkap Shigeru yang meninggal pada 2014.

Baca juga: 

Jepang Mencengkeram Pedesaan
Nasib Maeda Setelah Indonesia Merdeka
Maeda Pasang Badan Demi Kemerdekaan Indonesia

TAG

desersi jepang pembelot

ARTIKEL TERKAIT

Potret Sejarah Indonesia Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang Dulu Para Sersan Berserikat Sehimpun Riwayat Giyugun Masa Kecil Sesepuh Potlot Exhuma dan Sisi Lain Pendudukan Jepang di Korea Persahabatan Sersan KNIL Boenjamin dan dr. Soemarno Drama Mematikan di Laut Jawa dan Selat Sunda Pengemis dan Kapten Sanjoto