Masuk Daftar
My Getplus

Arsip Pembunuhan JFK Dirilis, Kasus Tetap Masih Samar

Sudah puluhan ribu arsip dirilis sejak 2017, pembunuhan JFK belum juga menemukan titik terang.

Oleh: Randy Wirayudha | 23 Des 2021
Presiden Amerika Serikat ke-35, John Fitzgerald Kennedy yang kasus pembunuhan terhadapnya belum juga menemukan titik terang (jfklibrary.org)

KENDATI sempat tertunda, Badan arsip Amerika Serikat, National Archives and Records Administration (NARA), akhirnya merilis hampir 1.500 arsip tentang pembunuhan Presiden John Fitzgerald Kennedy (JFK) pada 15 Desember 2021. Langkah itu diambil berdasarkan memo Presiden Joe Biden pada 22 Oktober 2021.

Arsip dan dokumen yang dibuka untuk umum itu berasal dari badan intelijen CIA dan biro investigasi FBI. Arsip-arsip itu semestinya dibuka pada pada April 2018, namun Presiden Donald Trump memilih menundanya.

Arsip pembunuhan JFK mesti dibuka secara berangsur sejak Kongres mengeluarkan President John F. Kennedy Assasination Records Collection Act pada 1992. Arsip-arsip itu dibuka setelah melalui tinjauan Assasination Records Review Board (ARRB). Terlebih sejumlah sejarawan dan publik tak percaya pada laporan Komisi Warren bahwa pembunuhan terhadap JFK pada 22 November 1963 dilakukan hanya oleh eks-anggota Marinir Amerika Lee Harvey Oswald.

Advertising
Advertising

“Semua arsip pemerintah mengenai pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada akhirnya mesti dibuka agar publik mendapat informasi tentang sejarah di sekitar pembunuhan tersebut. Mayoritas arsip yang berkaitan dengan pembunuhan Presiden John F. Kennedy berusia hampir 30 tahun, dan hanya pada kasus-kasus tertentu memerlukan legitimasi untuk keberlanjutan perlindungan arsip-arsip tersebut,” ungkap Biden dalam potongan memo yang dirilis laman resmi Gedung Putih, 22 Oktober 2021.

Baca juga: Joe Biden dan Pemimpin Gagap

Presiden Joseph Robinette Biden Jr. (whitehouse.gov)

Meski undang-undang tentang koleksi arsip JFK itu sudah diloloskan kongres sejak 1992, NARA baru merilis 441 arsip FBI dan CIA pertama pada 24 Juli 2017. Itu diikuti oleh pembukaan berangsur-angsur 3.369 arsip lain, kendati pada beberapa bagian tetap ditutupi dengan alasan keamanan. Pada April 2018, dibuka lagi arsip sebanyak 2.891. Kemudian berangsur-angsur dirilis 676 arsip pada 3 November dan 13.213 lainnya pada 9 November 2018. Sebelum ditunda Trump, NARA sempat diizinkan merilis 10.744 arsip yang beberapa bagiannya disensor atas perintah Trump, dan 3.539 arsip secara penuh pada 15 Desember 2018.

Kendati puluhan ribu arsip sudah dirilis, publik, terutama sejumlah peneliti dan sejarawan, menganggap informasi sesungguhnya tentang pembunuhan JFK masih seujung kuku. Misteri tentang pembunuhan JFK masih dianggap samar karena nyaris tak ada hal baru dari puluhan ribu arsip yang sebelumnya dibuka. Terlebih dari puluhan ribu arsip itu, tak semuanya dibuka secara utuh. Masih ada sekitar 15 ribu potongan arsip dan dokumen yang masih ditahan pemerintah. Diperkirakan, Presiden Biden masih akan menundanya, paling cepat sampai Desember 2022.

“Selalu saja ‘lain waktu.’ Redaksional dan penghilangan beberapa bagian (dokumen) membuat semua yang dirilis berisi informasi minimal dan nyaris tak bernilai. Kurangnya transparansi dan fakta bahwa dokumen-dokumen ini diberikan setelah 58 tahun rasanya seperti kita mencabut semua gigi di mulut – itu alasannya mengapa kita punya banyak teori konspirasi,” kata Larry Sabato, sejarawan dan peneliti University of Virginia, kepada CNN, 16 Desember 2021.

Baca juga: Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK

Konvoi JFK & Ibu Negara Jacqueline Lee Kennedy Oasis didampingi Gubernur Texas John Bowden Conally Jr. beserta istri pada 22 November 1963 (Walt Cisco/Dallas Morning News, 24 November 1963)

Dugaan Keterlibatan Uni Soviet

Presiden JFK dibunuh saat sedang bersama ibu negara Jacqueline Kennedy berkonvoi di mobil beratap terbuka yang melintas di Dealey Plaza, Dallas, Texas pada pukul 12.30 siang, 22 November 1963. JFK ditembus timah panas dari senapan Carcano M91/38 yang berada di sebuah gedung dekat Dealey Plaza. Meski segera dilarikan ke Rumahsakit Parkland Memorial, nyawa JFK tak tertolong. Dia dinyatakan meninggal pada pukul 1 siang.

Tak sampai dua jam, Kepolisian Dallas berhasil menciduk Oswald. Tetapi saat proses pemindahan penahanan Oswald pada 24 November, Oswald ditembak mati di ruang bawah tanah markas Kepolisian Dallas oleh seorang pemilik klub malam, Jack Ruby. Meski Ruby ditangkap, ia pun dinyatakan tewas di dalam penjara pada 1967 sebelum bisa disidangkan.

Untuk menginvestigasinya, Presiden Lyndon B. Membentuk Komisi Warren pada 29 November 1963. Hasil investigasi komisi yakni, Oswald maupun Ruby bertindak sendirian.

Baca juga: Ketika Sukarno dan Kennedy Berdebat

Kolase detik-detik penembakan terhadap JFK yang juga melukai Gubernur Texas dan seorang warga (Wikipedia)

Hal itu membuat publik tak percaya laporan Komisi Warren. Teori-teori konspirasi pun bermunculan.

Itu diperkuat dengan sedikit informasi baru yang dirilis pada 15 Desember 2021 lalu. Antara lain arsip CIA bertanggal 24 November 1963, yang mengungkap Oswald bukan pelaku tunggal. Disebutkan bahwa Oswald telah membelot ke Uni Soviet sejak 1959. Setidaknya dua kali dia mencoba datang ke Kedutaan Besar Kuba dan Uni Soviet di Mexico City, Meksiko, pada 27 September dan 3 Oktober 1963.

“Dari tinjauan berkas-berkas agensi (CIA) terhadap Lee Harvey Oswald, menjadi jelas bahwa stasiun agensi lapangan, utamanya di Mexico City dan Miami, tidak lengah terhadap kemungkinan bahwa Oswald tidak bertindak sendirian,” demikian bunyi laporan tersebut.

Baca juga: Gurauan Sukarno untuk Kennedy dan Khrushchev

Lee Harvey Oswald, eks-Marinir Amerika yang disebutkan membunuh JFK atas tindakan sendiri (USMC/NARA)

Oswald juga disebutkan berkomunikasi dengan Konsul Soviet di Kuba Valery Kostikov dan Silvia Duran, pegawai Meksiko yang bekerja di Kedutaan Kuba. Diinformasikan pula tentang pengajuan visa Oswald sejak 1 Oktober untuk bisa terbang ke Odessa, Uni Soviet dengan transit di Kuba.

“Stasiun (agen CIA) Meksiko memang tak menemukan foto Oswald memasuki Kedutaan Soviet atau Kuba. Tetapi pencarian data dari operasi teknis mengungkapkan (sesuatu). Informasi (rekaman telepon) ini banyak didapat, meski namanya tak disebutkan, tetapi pakar kami yang mengawasi mengatakan suaranya sangat identik dengan suara Oswald,” sambung laporan CIA tersebut.

Baca juga: Ketika Soebandrio Diancam John F. Kennedy

Pengungkapan laporan itu menimbulkan kontradiksi terhadap pernyataan via telepon Direktur FBI J. Edgar Hoover kepada Presiden Johnson pada 23 November 1963. Mengutip Anthony Summers dalam Not in Your Lifetime, saat itu Presiden Johnson menanyakan kepada Hoover mengenai perkembangan penyelidikan tentang keberadaan Oswald di Kedutaan Soviet di Meksiko.

“Tidak. Kami punya rekaman dan foto seseorang di Kedutaan Soviet, menggunakan nama Oswald. Foto dan rekaman itu tidak sesuai dengan suara atau penampilan orang itu (Oswald, red.). Dengan kata lain, sepertinya ada orang kedua di Kedutaan Soviet saat itu,” jawab Hoover.

Oswald yang ditembak mati Jack Leon Ruby di rubanah Kepolisian Dallas (Dallas Times Herald, November 25 1963)

Laporan baru lain adalah arsip CIA bertanggal 5 Maret 1964. Arsip itu memperkuat latarbelakang Oswald sebagai pembelot. Dia berdiam di Minsk selama Oktober 1959-Juni 1962. Laporan itu menyebutkan daftar 19 orang yang pernah berhubungan dengan Oswald, dua di antaranya dari Kementerian Dalam Negeri Soviet: Demushkina dan Nikolay Arsenov.

Laporan CIA lain yang baru dirilis dan mengarahkan tudingannya terhadap dugaan keterlibatan Soviet, adalah laporan bertanggal 22 Mei 1964. Laporan itu menyebutkan, pada 15 Oktober 1962, seorang berkewarganegaraan Polandia yang mengaku jadi sopir di Kedutaan Soviet di Canberra, Australia, menelepon atase Angkatan Laut (AL) Amerika. Sopir yang tak mengungkap identitasnya itu mengatakan bahwa beberapa tokoh di negara-negara Eropa Timur menawarkan hadiah 100 ribu dolar untuk membunuh Presiden JFK. Orang-orang yang akan membunuh JFK itu, kata sang sopir, adalah orang-orang komunis di Inggris, Hong Kong, dan beberapa negara lain.

“CIA menerima salinan kabel (rekaman telepon) itu dari Departemen AL yang berasal dari atase AL di Canberra. Penelepon itu mengungkap dirinya sopir Polandia untuk Kedutaan Soviet. Individu ini membicarakan isu-isu intelijen, menyinggung kemungkinan pemerintah Soviet membiayai pembunuhan Presiden Kennedy. Sebagai catatan, CIA (pusat) tak mengetahui telepon tahun 1962 ini sebelumnya,” kata arsip yang dibuat Deputi Direktur Perencanaan CIA Richard Helms tersebut.

Baca juga: Rahasia Kennedy tentang Sukarno

Keberadaan Oswald di Minsk dalam kurun 1959-1962 (NARA)

Alasan kenapa CIA tak menerima info tersebut adalah karena telepon dari seorang yang mengaku sopir Polandia itu dianggap prank alias main-main. Terlebih agen-agen CIA di Canberra sebelumnya telah diyakinkan otoritas Australia bahwa sopir-sopir yang bekerja di Kedutaan Soviet semuanya warga negara Soviet. Tidak ada satupun yang berkewarganegaraan Polandia.

Selain dari dua informasi itu, tiada informasi baru dari 1.491 arsip yang dirilis NARA pada 15 Desember 2021. Sejumlah peneliti dan sejarawan pun menganggap pemerintah hanya setengah hati dan terus mengulur pengungkapan arsip-arsip lain yang lebih signifikan.

“Saya paham bukan tugas Arsip Nasional untuk membantu para periset, jurnalis, dan sejarawan menyelami rilisan-rilisan baru ini. Demi transparansi, mestinya pemerintahan Biden bisa meminta Arsip Nasional untuk menerbitkan setiap dokumen secara tandem dengan salinan dari rilisan sebelumnya dan versi dokumen suntingan yang sama. Jika begitu kita bisa langsung tahu mana dokumen yang telah disunting atau dirilis ke publik untuk pertamakalinya. Jika tidak, kita takkan bisa langsung bilang bahwa inilah berita (penting),” ujar jurnalis investigasi Gerald Posner kepada Politico, 15 Desember 2021.

Baca juga: Teori Kon(sapi)rasi

TAG

john f kennedy kennedy cia presiden amerika amerika-serikat

ARTIKEL TERKAIT

Duka Kuba di Laut Karibia Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika CIA, Tan Malaka, dan Kampret Wind River, Potret Kehidupan Pribumi Amerika Harriet "Musa" Pembebas Budak Ketika Nicolaas Jouwe Bertemu Presiden Kennedy Agen CIA dalam Operasi Habrink Duel Pertama Kapal Berpelat Besi Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK CIA dan Penelitian tentang Indonesia