Masuk Daftar
My Getplus

Sepakbola di Tanah Buangan

Kaum buangan di Digul menggelar pertandingan sepakbola untuk menyambut atau melepas tahanan.

Oleh: Andri Setiawan | 18 Feb 2020
Kesebelasan Sinar Perdamaian dan KSVD berfoto sebelum pertandingan. Perpisahan dengan Sayuti Melik (kanan bawah, berbaring). (Repro Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul).

Sepakbola memang olahraga sejuta umat. Dengan sebuah bola dan tanah lapang, orang-orang sudah bisa bermain sepakbola. Tak terkecuali para tahanan politik di Tanah Merah Boven Digul, Papua. Sepakbola jadi andalan untuk memecah kesunyian kamp dan mengisi waktu luang.

Sepakbola di Tanah Merah bermula ketika kaum buangan membentuk organisasi kesenian dan olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSVD). KSVD dipimpin oleh buangan asal Bandung, Wiranta yang kemudian digantikan oleh Sabariman.

KSDV seringkali mengadakan pertandingan. Selain sebagai olahraga, sepakbola juga sebagai hiburan. Tak butuh waktu lama, sepakbola menjadi olahraga favorit kaum buangan. Setelah KSVD, muncul kesebelasan-kesebelasan lain, seperti Sinar Perdamaian dan SH (Sport for Health).

Advertising
Advertising

Baca juga: Menikah di Tanah Merah

“Olahraga sepak bola terhitung yang paling menarik penduduk Digul tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Setelah terbuka beberapa kampung, maka kumpulan sepakbola bertambah jumlahnya,” tulis Sunaryo Mangunadikusumo dkk. dalam Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul.

Pertandingan persahabatan juga diadakan untuk menyambut rombongan tahanan baru maupun ketika ada tahanan yang dipulangkan ke kampung halaman. Misalnya ketika rombongan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir tiba pada 1935.

“Seminggu setelah kami tiba, sebagai pendatang baru kami menerima penghormatan dari teman-teman penghuni lama dengan mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola. Kami dari PNI berjumlah tujuh orang, ditambah teman-teman dari Partindo dan PSII,” kenang Mohammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks Digulis.

Kesebelasan rombongan 1935 ini berisi orang-orang pergerakan yang namanya cukup terkenal. Hatta menjadi bek kanan, Sutan Sjahrir menempati posisi gelandang kiri, sedangkan Bondan menjadi pengapit kiri. Gawang dijaga oleh Murwoto, bek kiri Burhanuddin, poros Maskun, gelandang kanan H. Nurdin, penyerang Muhidin Nasution, pengapit kanan Suka, kanan luar H. Jalaludin Thaib, dan kiri luar Datuk Singo Marajo.

Baca juga: Bung Hatta yang Sulit Ditembus

“Kesebelasan yang tersusun hanya secara kebetulan saja ini terhitung kuat dan dapat mengalahkan beberapa kesebelasan di Tanah Merah. Kekalahan 1-0 hanya oleh SH yaitu kesebelasan yang terkuat waktu itu,” tulis Sunaryo dkk.

Kesebelasan SH berisi pemain-pemain yang tangguh. Beberapa dari mereka adalah anak-anak yang dibesarkan di Tanah Merah. Dua yang terkenal adalah Suparno dan Sendang yang kira-kira berumur 15-16 tahun.

Suparno dan Sendang seringkali lepas dari penjagaan. Hatta sebagai bek kanan yang tangguh pun seringkali dengan mudah diterobos dengan lari kencang. Hatta tertinggal jauh karena kehabisan napas, sementara bek kiri Burhanuddin juga tidak sempat menghalangi serangan cepat mereka.

Baca juga: Tri Ramidjo, Kecil di Digul Muda di Buru

“Satu kali tendangan keras dari Suparno menuju gawang dan Murwoto tidak dapat menyelamatkan gawangnya. Kemasukan gol itu pada babak kedua dan sampai permainan berakhir kesebelasan 1935 tidak dapat membalas,” tulis Sunaryo dkk.

Pertandingan lain yang cukup meriah diadakan ketika Sayuti Melik hendak dipulangkan ke Jawa. Pertandingan persahabatan kali itu mempertemukan kesebelasan Sinar Perdamaian dengan KSDV. Hampir seluruh penduduk kampung menonton sepakbola perpisahan Sayuti Melik itu.

Pertandingan sepakbola di Tanah Merah, menurut Bondan, ternyata juga memperlihatkan konflik di antara kaum buangan. Tepatnya, pertentangan antara werkwilliger dan naturalist.

Baca juga: Sontani, Pelopor Pelarian dari Kamp Boven Digul

Werkwilliger adalah istilah untuk tahanan yang memiliki kesempatan untuk dipulangkan karena loyal terhadap pemerintah. Sementara naturalist adalah mereka yang tidak mau bekerja untuk pemerintah.  Kelompok werkwilliger memiliki lapangan sepak bola sendiri di Kampung C. Sedangkan lapangan bola kelompok naturalist berada di Kampung B.

“Adanya dua lapangan sepak bola membuktikan bahwa dulunya pernah terjadi konflik mental politik antara kedua golongan itu. Tetapi, kami tidak membedakan dua golongan itu dalam pergaulan, tidak membenci kepada mereka yang menjadi werkwilliger meskipun kami mengambil sikap naturalist,” kata Bondan.

Menurut Bondan, konflik dan istilah-istilah itu sengaja dibuat oleh pemerintah kolonial. Politik adu domba digunakan untuk melemahkan semangat perjuangan orang-orang buangan.

TAG

sepakbola boven digul

ARTIKEL TERKAIT

Dua Kaki Andreas Brehme Petualangan Tim Kanguru Piala Asia Tanpa Israel Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Ingar-Bingar Boxing Day Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki Bill Shankly dalam Kenangan Samoa Amerika Mengusir Hantu 31 Gol Tanpa Balas