Masuk Daftar
My Getplus

Sebelas Pesepakbola Dunia di Layar Perak (Bagian I)

Setidaknya ada sebelas pemain dunia yang pernah menjajal akting. Berikut lima di antaranya.

Oleh: Randy Wirayudha | 07 Apr 2019
Shahrukh Khan bersua idolanya Mesut Özil di Emirates Stadium, di mana bintang Bollywood itu pernah berkarier amatir dalam sepakbola (Foto: mesutozil.com)

RAUT muka Shahrukh Khan begitu sumringah. Senyum tersungging di bibirnya saat aktor kawakan Bollywood itu foto bareng playmaker Arsenal Mesut Özil, salah satu pesepakbola yang diidolakannya. Momen itu melengkapi kebahagiaannya setelah menyaksikan sendiri di Emirates Stadium Özil dkk. menang 2-0 atas Newcastle United di matchday ke-32 Premier League, Senin (1/4/2019).

Shahrukh Khan datang ke Emirates Stadium atas undangan Özil. Selepas laga, foto bersama plus hadiah jersey bernomor punggung 10 Arsenal milik Özil pun jadi “oleh-oleh” terbaiknya. Shahrukh Khan tak lupa mengundang balik Özil dan pacarnya, Amine Gülşe, untuk mengunjungi negerinya “Sebuah malam yang menyenangkan selamat @Arsenal. Terima kasih @MesutOzil1088 & Amine Gülşe untuk keramahannya. Sampai ketemu di India,” kicaunya di akun Twitter-nya, @iamsrk, 1 April 2019.

Bukan rahasia bahwa Shahrukh Khan menggilai sepakbola. Pada 2016, dia sempat dirumorkan berniat membeli sebuah klub di Kalkuta. Sebelum terjun jadi aktor pun, dia pernah merumput walau hanya sebagai amatiran antar-sekolah. Saat bersekolah di St. Columba’s, Shahrukh rutin bermain sampai terkena cedera punggung yang mengakhiri kiprahnya.

Advertising
Advertising

Baca juga: 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian I)

Shahrukh Khan tentu bukan satu-satunya figur yang banting setir dari lapangan ke dunia hiburan. Setidaknya ada sebelas sosok mantan pesepakbola profesional dunia yang beralih jadi aktor film komersil. Sebagian benar-benar meninggalkan sepakbola, sementara beberapa di antaranya hanya sekadar cameo. Berikut kesebelas figur itu:

Pelé

Legenda hidup asal Brasil bernama asli Edson Arantes do Nascimento itu diakui sebagai pesepakbola terbaik sepanjang masa. Tapi selain bersinar di lapangan, striker kelahiran 23 Oktober 1940 itu pernah tampil impresif dalam sebuah film bertajuk Escape to Victory (1981). Tak hanya diramaikan para aktor Hollywood, film itu juga turut dibintangi beberapa pesepakbola, antara lain: Bobby Moore (Inggris), Osvaldo Ardiles (Argentina), Kazimierz Deyna (Polandia), Paul van Himst (Belgia), dan Hallvar Thoresen (Norwegia).

Film garapan sutradara John Huston yang berkisah tentang para tahanan perang Jerman-Nazi dalam Perang Dunia II yang bertanding melawan tim Jerman. Pelé berperan sebagai Kopral Luis Fernandez, tahanan perang Sekutu (British West Indian) asal Trinidad, yang turut berlaga.

Itu bukan satu-satunya penampilan Pelé di layar lebar. Ia sekilas tampil sekilas di film bertema sepakbola lain: A Minor Miracle (1983), Hotshot (1987) dan Pele: Birth of a Legend sebagai cameo.

Baca juga: Tendangan dari Bauru

“Sebetulnya pada suatu momen makan siang di New York, sutradara Steven Spielberg pernah mengajak saya membuat film tentang saya bermain bola di bulan. Jujur saya tak paham akan idenya, mungkin dia mengira saya adalah Marcos Cesar Pontes, figur dari Baurú lain yang menjadi orang Brasil pertama di luar angkasa. Tapi pada akhirnya saya tampil di film Hollywood besar yang juga diperankan Sylvester Stallone dan Michael Caine, saya tampil sebagai pemain sepakbola,” ujarnya dalam Pelé: Why Soccer Matters.

Carlo Ancelotti

Bersama Zinedine Zidane dan Bob Paisley, Ancelotti merupakan pelatih dengan gelar terbanyak Liga Champions (tiga gelar). Pria kelahiran Reggiolo, Italia, 10 Juni 1959 itu sebelumnya malang melintang sebagai pemain di Parma, AS Roma, dan AC Milan, serta timnas Italia.

Di luar lapangan, pria berjuluk ”Don Carletto” itu sangat menggemari film-film bertema mafia Italia semacam The Godfather. Aktor Al Pacino dan Robert De Niro adalah idolanya.

Tapi sejatinya, Ancelotti tak hanya menggemari film tapi juga pernah main di film garapan sineas Terence Hill bertajuk Don Camillo (1983). Film komedi itu berkisah tentang pendeta Don Camillo yang berfriksi dengan seorang walikota komunis, termasuk dalam persaingan sepakbola. Jan Tilman Schwab dalam Fussball im Film: Lexikon des Fussballfilms, Volume 2 menulis, Ancelotti tampil sebagai salah satu pemain tim lawan (Tim Devils) yang meladeni tim besutan Don Camillo (Tim Angels).

Baca juga: 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian II – Habis)

Selain Ancelotti, film ini juga diramaikan pesepakbola lain seperti Roberto Boninsegna, Roberto Pruzzo, dan Luciano Spinosi. “Sebuah pengalaman menarik. Terence Hill pribadi yang hebat. Sayangnya saya belum pernah bertemu dia lagi setelah film itu selesai produksi,” kenang Ancelotti, dikutip sport1.de, 13 Januari 2017.  Bertahun-tahun setelah itu pasca-Ancelotti menjadi pelatih, ia nongol lagi meski sekadar cameo di film sains-fiksi Star Trek Beyond (2016).

Paul Breitner

Di Jerman, namanya masuk dalam jajaran “dewa” sepakbola laiknya Franz Beckenbauer. Pria asli Bavaria kelahiran 5 September 1951 itu tak hanya bergelimang gelar di level klub (Bayern Munich dan Real Madrid), namun juga jawara Piala Eropa (1972) dan Piala Dunia (1974) bersama timnas Jerman Barat. Perangai dan gaya rambutnya yang nyentrik membuatnya mudah nyambi di dunia hiburan.

Baca juga: Ingin Seperti Beckenbauer

Menukil laman DFF (Deutsches Filminstitut and Filmmuseum) filmportal.de,  Breitner setidaknya pernah mentas di tiga film. Adalah Potato Fritz (1975), film bertema western garapan sutradara Peter Schamoni, yang menjadi debutnya di layar perak. Ia tampil sebagai peran pembantu memerankan serdadu Amerika Sersan Stark. Breitner lantas ikut bermain dalam film Der Zappler (1982) meski hanya sebagai cameo sosok pesepakbola yang diidolakan oleh tokoh utama, bocah bernama Stefan.

Film ketiganya, Kunyonga: Mord in Afrika (1986), dilakoni Breitner setelah ia gantung sepatu. Di film action-petualangan garapan sutradara Hubert Frank itu, Breitner berperan sebagai pengacara bernama Bäsgen yang turut mencari dan menyelamatkan seorang anak seorang bos industri yang diculik di Afrika.

Ally McCoist

Dunia broadcasting lazim jadi “alam” pesepakbola selepas pensiun. Ally McCoist salah satunya. Eks bintang timnas Skotlandia bernama lengkap Alistair Murdoch McCoist itu acap tampil di program-program olahraga BBC, ITV Sport hingga ESPN. Namun pada satu momen, pria kelahiran 24 September 1962 itu turut nyemplung ke dunia akting sebagai salah satu pemeran utama dalam film drama sepakbola A Shot at Glory (2000).

Sebagaimana dirangkum Stephen Glynn dalam The British Football Film, McCoist berperan sebagai Jackie McQuillan, pemain gaek yang dibeli klub Kilnockie FC yang dilatih Gordon McCloud (diperankan aktor kawakan Robert Duvall). Selain McCoist, film ini juga diramaikan beberapa pesepakbola lain sebagai aktor pendukung seperti Owen Coyle, Andy Smith, Ian McCall, dan Didier Agathe.

Ian Wright

Momen pensiun pada 2000 bukan akhir dari segalanya bagi Ian Wright. Eks bintang Arsenal dan timnas Inggris itu justru hampir menjajal segala hal di luar lapangan untuk mengisi kesibukannya. Selain menjadi presenter olahraga, Ian terlibat dalam program-program televisi, menjadi penyiar radio, membintangi sejumlah iklan, menciptakan lagu “Do the Right Thing” hingga membintangi film Gun of the Black Sun (2011).

Sebagaimana dilansir Radio Times, 30 Juni 2011, legenda kelahiran 3 November 1962 itu berperan sebagai Duke, seorang gangster asal Inggris. Film bertema action-fantasi itu berpusar pada sebuah pistol Luger keramat yang konon merupakan warisan petinggi Nazi-SS, Heinrich Himmler. “Saat saya tawarkan untuk terlibat, dia langsung terima. Dia selalu latihan tanpa kenal lelah untuk keperluan produksi. Dialog-dialog yang dilakukannya selalu sempurna,” puji sang penulis naskah Gary Douglas.

TAG

Film Sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Jatuh Bangun Como 1907 Comeback ke Serie A Bata Selain Pabrik Sepatu Empat Hal Tentang Sepakbola Meneer Belanda Pengawal Mistar Indonesia Serba-serbi Aturan Offside dalam Sepakbola Satu Episode Tim Garuda di Olimpiade Ibu dan Kakek Jenifer Jill Rossoblù Jawara dari Masa Lalu Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang Lima Jersey Sepakbola Kontroversial