Masuk Daftar
My Getplus

Saatnya Belajar dari Sepakbola Jepang

Jepang bisa jadi adidaya tak lepas dari belajar ke Indonesia. Mengapa Indonesia tak mau meniru meski harus berguru pada murid?

Oleh: Randy Wirayudha | 31 Okt 2018
Timnas Indonesia U-19 Terpaksa Mengakui Kedigdayaan Jepang U-19 di Perempatfinal AFC Cup U-19 (Foto: pssi.org)

TODD Rivaldo Ferre dkk. tertunduk lesu. Asa Timnas Indonesia U-19 untuk melangkah lebih jauh di turnamen AFC Cup U-19 2018 tertutup sudah. Langit seolah ikut menangis lewat derasnya guyuran hujan. Sekira 70 ribu suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno jadi saksi kekalahan 0-2 Timnas Indonesia U-19 dari Jepang U-19 di babak perempatfinal, Minggu malam, 28 Oktober 2018.

Tim besutan Indra Sjafri gagal menyempurnakan peringatan Sumpah Pemuda ke-90. Ekspektasi publik kembali mentok. Padahal sebelumnya menyeruak harapan besar untuk minimal sampai ke semifinal. Pasalnya, empat semifinalis akan otomatis ikut Piala Dunia U-20 di Polandia 23 Mei-15 Juni 2019 mendatang.

Toh, Coach Indra Sjafri tak menyesal dengan hasil itu. Dalam konferensi persnya usai laga, dia justru bangga. “Saya yakin level sepakbola Indonesai dengan Jepang dan negara-negara lain sudah kompetitif,” katanya.

Advertising
Advertising

Pandangan berbeda justru datang dari pengamat sepakbola dan pembinaan usia dini Timo Scheunemann. “Soal itu saya enggak setuju walau maksudnya coach Indra itu baik, dia mengangkat harapan. Karena memang coach Indra kan kelebihannya di motivasi dalam hal mental dan ingin menunjukkan kalau kita enggak kalah,” ujar Timo saat dihubungi Historia.

Menurut mantan pelatih, eks-Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI, dan penulis buku Dasar-Dasar Sepakbola Modern, 14 Ciri Sepakbola Modern dan Kurikulum Dasar Sepakbola untuk Pembinaan Usia Dini itu secara objektif kemampuan, pengetahuan taktik, keputusan dalam bermain (Indonesia, red.) masih kentara tertinggal jauh dari Jepang.

“Di level junior, pencapaian ini sebenarnya sudah luar biasa. Tapi memang lebih karena faktor coach Indra yang bisa mengangkat nasionalisme, kepercayaan diri, hingga pemain yang mentalnya selama ini sudah kalah sebelum berperang itu dibenahi. Jadi mereka modal semangat, modal tak kalah sebelum bertanding,” lanjut Coach Timo.

Berguru pada Murid

Tampil di pentas terbesar sejagat kategori usia di bawah 20 tahun sejatinya pernah dicicipi timnas Indonesia di Piala Dunia Junior di Jepang tahun 1979. Kendati pulang dari Jepang dengan hasil remuk redam, setidaknya nama Indonesia pernah tercantum sebagai salah satu tim junior terbaik dunia.

Kekalahan itu plus kekalahan dari Jepang pekan lalu sudah semestinya jadi bahan pembelajaran. Kalau perlu, Indonesia balik berguru pada Jepang selaku salah satu raksasa Asia saat ini.

Baca juga: Perjuangan Timnas Garuda Muda mengulang sejarah Asian Games

Balik berguru? Ya, pada 1991 Jepang pernah berguru ke Indonesia saat membenahi liganya yang saat itu masih semi-profesional. “Semi profesional karena pemain klub, misal Matsushita (maksudnya Gamba Osaka, red.), ya pemainnya diambil dari pegawai Matsushita, bukan orang luar yang memang dikontak karena skill-nya,” ujar Ricky Yacob, pemain legendaris yang jadi pemain Indonesia pertama yang dikontrak klub Jepang, kepada Historia lima tahun silam.

Jepang mempelajari betul Galatama (Liga Sepakbola Utama), kompetisi profesional Indonesia yang lahir pada 1979. “Itu awalnya melihat dan mendapatkan konsep (liga) bahwa yang paling bagus model Galatama. Jadi tim-timnya bukan terkait dengan instansi pemerintah tapi dengan perusahaan besar. Tapi justru setelah itu di Indonesia malah terkait dengan pemerintahannya seperti itu. Karena banyak skandal suap juga di Galatama. Namun bukannya dicari solusinya, malah akarnya dicabut (Galatama bubar),” sambung Timo.

Baca juga: Strategi manajer Timnas Indonesia menangkal suap di SEA Games 1991

Jepang pada akhirnya bukan sekadar mampu membuat liga profesional namun  mengembangkannya lebih jauh sehingga laku dijual. Soal pendidikan pelatih dan pembentukan sejumlah akademi di bawah klub-klub profesionalnya juga menjadi inti pembenahan oleh JFA (Federasi Sepakbola Jepang) itu.

Hasilnya, pada 1993 Jepang sudah punya kompetisi pro, J-League. Sejumlah pemain Jepang kemudian dilirik klub top Eropa. Kazuyoshi Miura mempelopori “eksodus” pesepakbola profesional Jepang ke liga Eropa ketika dia dikontrak klub Serie A Genoa. Namun, bintangnya tak seterang Hidetoshi Nakata yang mengikuti jejaknya beberapa tahun kemudian dengan klub Perugia.

Kazuyoshi Miura, pelopor pemain Jepang di Eropa. (themillenial.it).

Di perantauan, mental para pemain Jepang ditempa dan itu terbawa saat mereka pulang untuk membela Timnas Jepang. Hasilnya, sejak 1995 Jepang tak pernah absen masuk Piala Dunia Yunior dan sejak 1998 juga senantiasa lolos ke Piala Dunia.

Kemauan Jepang belajar dan melewati fase-fase pembelajaran itu mestinya ditiru Indonesia. Sayang, hal itu justru hilang dari persepakbolaan Indonesia tiga dekade belakangan.

“Kalau memang dikatakan (Indonesia) tidak tertinggal, tentu akan terlihat di timnas senior. Tapi nyatanya kita masih tertinggal jauh. Enggak bisa mengejar kalau pendidikan pelatih tidak digencarkan, kemudian akademi-akademi yang ada sudah diperbaiki dan diseriusi lagi, tidak hanya sekadar memenuhi persyaratan,” tambah Timo.

Senada dengan Timo, Ricky mengatakan salah satu prasyarat yang harus dilalui untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia adalah kompetisi tingkat junior. “Yang di bawah ini mesti dibenahi dulu, disediakan wadah kompetisi. Di situ kita bisa lihat mana anak yang benar-benar bagus sehingga kita punya database. Jadi enggak terjadi lagi PSSI mau cari pemain usia sekian, 800 orang mesti diseleksi selama tiga hari. Bagaimana menyeleksinya?” ujar Ricky.

Baca juga: Gara-gara perkara aneh Ricky Yacob terdepak dari Timnas Indonesia

Beruntung, belakangan PSSI memulai lagi fase-fase itu secara bertahap. Kompetisi usia muda yang berafiliasi dengan klub sudah mulai bergulir, terutama di kategori U-16 dan U-19.

“Terakhir saya lihat Tim U-16 Bhayangkara FC melawan PSMS dan itu permulaan yang positif. Tapi yang saya harapkan pembinaan skala ini dijalankan profesional. Jangan melihat investasi akademi sebagai beban, hanya karena menjalankan regulasi, itu yang repot,” ujar Timo.

Pembinaan di akademi memang bukan investasi yang “basah”. Namun, itu harus dilalui jika ingin persepakbolaan Indonesia maju. Hasil dari proses panjang itu bisa dilihat dalam prestasi Jepang, China, dan India yang mulai seirus membangun pembinaan pemain usia mudanya.

“Mesti dilakukan secara profesional demi Indonesia juga. Karena timnas itu hasil liga profesional yang bagus. Liga yang bagus bahan bakunya ya dari akademi. Kita enggak bisa selalu bicara tentang duit seperti di Eropa,” tutup Timo.

TAG

Sepakbola Timnas Timnas-U19 AFC-Cup Timnas-Indonesia Timo-Scheunemann Ricky-Yacobi Galatama

ARTIKEL TERKAIT

Kala Menteri Merangkap Ketua Umum PSSI Pelé adalah Sepakbola, Sepakbola adalah Pelé Murka, Afrika Boikot Piala Dunia Singa Atlas Mengaum di Pentas Sepakbola Para Pionir Wasit Perempuan Awal Mula Wasit Meniup Peluit dalam Pertandingan Sepakbola Lima Penjegal Raksasa Piala Dunia Maroko dan Piala Dunia FIFA Uncovered dan Tikus-Tikus Berdasi Pejabat Sepakbola Sepakbola Jepang dan Indonesia