Masuk Daftar
My Getplus

Piala Suratin Candradimuka Sepakbola Muda

Ramai disoroti, Jakarta International Stadium diusulkan diganti jadi Stadion Internasional Suratin. Nama tokoh yang sama pernah tenar digunakan untuk kejuaraan sepakbola muda.

Oleh: M.F. Mukthi | 13 Mei 2022
Jakarta International Stadium (Fernando Randy/Historia)

Jagat maya sedang diramaikan oleh isu tentang usulan untuk mengganti nama Jakarta International Stadium (JIS). Usulan itu berangkat dari “sentilan” mantan anggota Ombudsman Alvin Lie. Menurutnya, penamaan JIS tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan yang mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia untuk penamaan tempat-tempat publik.

“Undang-undang itu kan harus menjadi rujukan kita, terutama yang menyangkut pelayanan publik, ruang publik, administrasi pemerintahan apalagi stadion, bandara, dan tempat lainnya. Itu (stadion, red.) kan dibangun menggunakan APBN, APBD yang merupakan aset negara maupun aset daerah,” ujar Alvin sebagaimana diberitakan detik.com, 9 Mei 2022.

Senada dengan Alvin, sejarawan Asvi Warman Adam juga menyoroti hal yang sama. Lewat surat pembacanya di Kompas, 10 Mei 2022, Asvi bukan hanya menyoroti kesalahan penggunaan nama stadion menggunakan bahasa asing yang tidak sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2009 namun juga mengusulkan nama baru untuk stadion tersebut. Asvi mengusulkan Stadion Suratin atau Stadion Internasional Suratin untuk dipakai sebagai nama stadion baru tersebut.

Advertising
Advertising

“Kenapa Suratin? Ir Suratin adalah pendiri PSSI tahun 1930. Ia terpilih memimpin organisasi ini berturut-turut selama 11 tahun sampai Jepang menduduki Indonesia. Tidak ternilai jasanya merintis berdirinya organisasi persepakbolaan Indonesia sejak zaman penjajahan,” kata Asvi menjelaskan dalam tulisannya.

Apa yang diusulkan Asvi patut diapresiasi positif. Selain dapat memacu semangat memajukan persepakbolaan nasional sebagaimana diharapkan Asvi, pemilihan nama Suratin juga mencerminkan kebesaran jiwa kita sebagai bangsa. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawanannya,” kata pepatah.

Upaya menghormati Suratin pernah dilakukan PSSI di masa kepemimpinan Maulwi Saelan (1964-1967). Suratin dijadikan nama kejuaraan sepakbola remaja.

Ir Soeratin Sosrosoegondo

 Monumen Nan Tak Berwujud

Piala Suratin menjadi kompetisi rutin PSSI untuk usia 18 tahun ke bawah sejak 1966 –namun menurut Maulwi Saelan, Piala Suratin sebetulnya nama kejuaraan yunior untuk berbagai tingkat usia: “Mereka bilang umur 18, 23, dan semuanya, ini Suratin sebetulnya.”

Kejuaraan yang memperebutkan piala bergilir (Piala Suratin) ini lahir ketika PSSI di bawah Ketua Umum Maulwi Saelan (1964-1967). Saat itu Saelan sadar, pesepakbola senior seusianya tinggal sedikit dan sudah di penghujung karier. Dia sendiri sudah gantung sepatu. Sementara yunior-yunior yang bakal menggantikan mereka belum muncul. “Saya terus bilang, bikin Suratin Cup,” ujar Maulwi Saelan kepada Historia.

Dia menggodok konsep kompetisi itu bersama jajaranya. Setelah matang, dia membawanya ke Presiden Sukarno. Tak butuh waktu lama bagi PSSI untuk mendapat persetujuan presiden. Sukarno paham betul siapa Saelan; dialah yang menunjuk Saelan, wakil komandan resimen pengawal presiden Tjakrabirawa, sebagai ketua PSSI karena kecemerlangannya dalam mengolah kulit bundar. Saelan pula yang membawa nama harum timnas Indonesia ke pentas internasional ketika menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956.

Setelah presiden menyetujui ide Piala Suratin, kejuaraan tahunan itu pun diresmikan di Bogor pada 1966. Nama Soeratin dipilih sebagai penghargaan terhadap Ir. Soeratin Sosrosoegondo, ketua umum PSSI pertama, yang merintis sepakbola Indonesia sejak masa kolonial. Perhelatan pertama Piala Suratin berlangsung pada 1966. Persema Malang berhasil menjadi jawaranya. Setahun kemudian, giliran PSMS Medan.

Namun, baru dua kali berjalan Piala Suratin terpaksa berhenti. Prahara politik menjadi penyebabnya. Sukarno diturunkan dari jabatannya dan dikenai tahanan rumah. Saelan ditahan dan baru bebas pada 1970-an.

Jajaran pengurus PSSI pencetus Piala Suratin (ki-ka): Brigjen Pol. Abdurrahman (ketua), Kolonel CPM Maulwi Saelan (ketua umum), A. Wahab (ketua), Uteh Reza Yahya (ketua), Brigjen Gatot Suwagio (ketua), Prijo Sanjoto (sekretaris umum) Foto: Dok. pribadi Maulwi Saelan

Candradimuka

Setelah sempat terhenti, Piala Suratin dihelat kembali pada 1970 ketika kepemimpinan PSSI di bawah Kosasih Poerwanegara. Kali ini menjadi kejuaraan dua tahunan. Namun formatnya masih sama: kompetisi penuh. Persija Jakarta berhasil menjadi juara perhelatan pertama Piala Suratin di era Orde Baru.

Penyelenggaraan Piala Suratin menjadi program rutin PSSI. Jadwal, peraturan, pendanaan, dan perangkat lainnya dibuat direktorat khusus usia Suratin di dalam Badan Liga Amatir PSSI. Namun tanggungjawab kompetisi di daerah, termasuk pendanaan, diserahkan kepada pengurus provinsi (Pengprov) dan pengurus cabang (Pengcab). “Kami (PSSI) tidak mendanai, karena dananya ada di APBD,” ujar Eddi Elison, juru bicara PSSI era La Nyalla Mattalitti, kepada Historia beberapa tahun silam.

Ketika membuat jadwal kompetisi, Pengcab atau Pengprov menyesuaikan dengan jadwal sekolah. Pengcab dan pengprov pula yang meminta izin kepada para orangtua atau sekolah. Biasanya mereka memberikan izin. Selain membawa nama baik keluarga dan sekolah, “kan membawa nama daerah,” ujar Patar Tambunan, mantan pemain PSMS junior yang ikut mengantarkan Indonesia merebut medali emas sepakbola Sea Games 1987.

Pengcab di tiap daerah menggelar kompetisi masing-masing untuk mendapatkan juara yang akan dikirim ke kompetisi di tingkat provinsi. “Kalau di Medan, kami melakoninya di daerah Binjai, Sibolga, Rantauprapat, sampai Aceh,” ujar Ricky Yacob, kapten timnas Indonesia saat merebut medali emas Sea Games 1987. Pemenang di tingkat provinsi berhak maju ke putaran final, tingkat nasional.

Di Piala Suratin, tim-tim yang bertanding berasa dari klub Perserikatan. Jakarta diwakili Persija junior, Medan diwakili PSMS junior, dan sebagainya. Mereka bertarung di 16 besar. Delapan klub bertarung untuk mendapatkan tiket grand final. Putaran final biasanya digelar di Jakarta dan disiarkan langsung TVRI.

Ricky mendapat gemblengan dari kompetisi ini. Dia membela PSMS junior dan pernah menjuarai Piala Suratin pada 1980. Kala itu usianya 17 tahun. “Dari situ saya termasuk salah satu yang dipanggil untuk memperkuat PSSI junior waktu itu,” kenang Ricky. Karier Ricky terus menanjak setelah itu.

Ricky maupun Patar tak kesulitan membagi waktu. Toh latihan dilakukan sore hari. Mereka hanya akan kewalahan menjelang putaran final karena persiapan diintensifkan. “Tiga-empat bulan sebelumnya hingga menjelang keberangkatan ya tiap hari latihan,” kenang Patar, yang kemudian menjadi pemain inti Persija dan ikut mengantarkan Indonesia merebut medali emas Sea Games 1987 di Jakarta.

Status mereka pemain amatir yang tak bergaji. Mereka hanya mendapat uang saku dan uang transport. “Waktu itu nggak mikir itu (bayaran). Bisa membawa nama bond saja senang sekali,” kenang Patar, menyebut bond untuk klub. 

Hingga akhir 1980-an, perhelatan Piala Suratin berjalan lancar dan sangat meriah. PSSI menanganinya secara serius. Terlebih dari kompetisi inilah lahir bintang-bintang seperti Bob Hippy, Iswadi Idris, “si kancil” Abdul Kadir, Rony Pattinasarani, Sinyo Aliandoe, hingga generasi-generasi berikutnya seperti Herry Kiswanto, Ricky Yacob, Edi Harto, Marzuki Nyakmad, dan Patar Tambunan.

“Waktu itu Surartin turnamen sangat bergengsi,” ujar Ricky.

Pada 1991, Piala Suratin kembali dijadikan ajang kompetisi tahunan setelah sebelumnya dua tahunan. Perubahan lain, format kompetisi penuh diubah menjadi liga pada 2001 setelah Bogasari (PT Indofood Sukses Makmur) menjadi sponsor tunggal hingga 2005. Orang lalu mengenalnya sebagai Liga Bogasari. Piala Suratin pun perlahan tak terdengar. “Masih ada. Namun gaungnya nggak seramai dululah,” ujar Patar.

Liga Bogasari dihelat selama tiga bulan, bukan setahun penuh seperti liga profesional. Perhelatannya biasanya November-Januari. Putaran finalnya, “biasanya pas Haornas (Hari Olahraga Nasional – red.),” ujar Zainul Arif, pegawai swasta yang pernah memperkuat Persija Selatan dan Persijam (Jambi) di Liga Bogasari.

Namun, penyelenggaraan Piala Suratin memang bukan tanpa cela. “Main mata” atau pengaturan skor kerap menghinggapinya. Salah satunya, seperti dikisahkan mantan asisten manajer Persimura (Sumatra Selatan) Yoke S Endarto dalam Prediksi Statistik Pesta Bola 2010, ketika Piala Suratin 2008 di Musi Rawas. Skandal lain, bajak-membajak pemain. “Banyak. Itu mungkin ada kolusi. Pemain junior kan nggak periksa kontrak,” ujar Arif.

Setelah itu, nasib liga remaja menjadi tak jelas. Terlebih ketika pengelolaan sepakbola Indonesia mulai kisruh. Pengurus PSSI yang baru pun sempat kesulitan ketika akan kembali menggelar Piala Suratin. Selain tak adanya data dan laporan kompetisi ini yang dulu digelar, mereka mendapati trofi Piala Suratin hilang. “Kita pun bingung nggak tau di mana ini Piala Suratin sekarang,” ujar Eddi.

Toh, PSSI era La Nyalla Mattalitti bertekad tetap menggelarnya dengan format kejuaraan penuh untuk pembinaan pemain muda. Di tingkat usia 18 tahun ke bawah (U-18), PSSI kembali menghidupkan Piala Suratin (Suratin Cup). Pada 2017, Piala Suratin kembali dimodifikasi.

“Sejak tahun 2017, Piala Soeratin menggelar 2 kategori usia, yaitu di bawah 17 tahun (U-17) dan di bawah 15 tahun (U-15),” tulis PSSI di lamannya, pssi.org.

TAG

sepak bola maulwi saelan

ARTIKEL TERKAIT

Santiago Bernabéu "Bapak Real Madrid" Menendang Sejarah Sepakbola Vietnam Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara Kontroversi Ballon d’Or Watford, Klub Semenjana Kesayangan Elton John Utak-Atik Skor Bola di Belakang Layar Kisah Klopp dan Liverpool yang Klop Iniesta, Pahlawan dari La Masia Jimmy Greaves Sang Predator Gol Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan