Masuk Daftar
My Getplus

Elizabeth Latief dan Semangat Kartini

Kisah legenda bulutangkis yang menemukan spirit Kartini pada sosok ibunya. Segudang prestasi diraihnya.

Oleh: Randy Wirayudha | 22 Apr 2021
Lay Siauw Tje alias Elizabeth Latief kala memenangi Konica Cup 1987 di Singapura. (nas.gov.sg).

NAMANYA memang tak setenar Susy Susanti. Namun jika bicara semangat juang, Elizabeth Latief boleh diadu. Lema “menyerah” tak pernah ada dalam kamusnya kala membela merah putih bersenjatakan raket. Tak ayal budayawan Udaya Halim menjuluki perempuan yang akrab dipanggil Itje itu sebagai salah satu Kartini Tionghoa modern.

Mengutip Baktiku Bagi Indonesia karya jurnalis Broto Happy, Itje yang turun di pentas bulutangkis nasional dan internasional mulai 1983 punya segudang prestasi mentereng. Lima medali emas SEA Games 1983, 1985, dan 1987 baik di nomor individu maupun beregu putri berhasil dibawanya pulang. Lalu sekeping medali emas Kejuaraan Asia 1987 dan Konica Cup (kini Singapore Open) 1987 serta perannya ikut membawa tim Indonesia jadi runner-up Piala Uber 1986, melengkapi.

Namun, siapa nyana srikandi bulutangkis kelahiran 27 Maret 1963 itu bukan berasal dari keluarga bulutangkis. Dalam Webinar yang dihelat Museum Benteng Heritage bertajuk “Asal Oesoel Badminton” pada Rabu (21/4/2021) malam, Itje mengatakan bahwa dia mengenal bulutangkis justru dari pembantu atau asisten rumah tangganya (ART) saat usia sekolah dasar.

Advertising
Advertising

“Dulu saya sebenarnya belajar bulutangkis dari pembantu saya yang kebetulan mainnya bagus. Saya suka main di kebun belakang rumah saya. Lapangannya tanah liat, garisnya juga dari bambu. Mungkin karena ada bakat ya, jadi waktu ada pertandingan (antar) RT saya menang,” kenang Itje.

Baca juga: Yuni Kartika dari Arena ke Layar Kaca

Namun, bakat itu tinggallah sebatas bakat karena Itje tak mengasahnya. Hingga ketika sudah masuk SMA, Itje belum berpikir untuk menseriusi olahraga tepok bulu. Keseriusannya baru tumbuh begitu seorang temannya mengajaknya masuk klub TG16.

“Saya lebih senang voli sebenarnya. Latihan di klub pun belum intensif. Dua tahun kemudian (kelas III SMA) baru ketemu satu pelatih di klub mendatangi saya, Pak Hadi Nasri namanya. Beliau dulu pengurus PBSI juga,” tambah srikandi yang punya nama Tionghoa Lay Siauw Tje tersebut.

Spirit Kartini dari Sosok Mama

Di bawah asuhan Hadi Nasri itulah Itje mendapat tempaan latihan fisik yang berat. Hadi menggenjot fisik Itje karena merasa bakatnya akan sia-sia tanpa ditopang stamina dan ketahanan fisik yang tangguh.

“Dia bilang sebenarnya saya ada bakat. Lalu diajak latihan fisik intensif setiap pagi. Pertama-tama saya ingat betul diajak ke Istora (Senayan). Saya pikir latihannya di dalam lapangan. Nyatanya saya disuruh lari keliling mengikuti dia yang bawa motor. Satu jam latihan saya sampai nangis karena merasa kok latihannya berat amat,” lanjut Itje.

Baca juga: Lius Pongoh dan Hadiah Juara untuk Mama

Itje sampai pada titik ingin mengibarkan bendera putih. Namun Hadi mengingatkan bahwa jika ingin serius dan menang di pertandingan, ketahanan fisik sangat penting perannya. Itje kemudian ingat pada sosok ibunya sebagai sosok orangtua tunggal yang sehari pun tak pernah menyerah dalam membesarkan kelima anaknya.

“Saya melihat semangat juang mama saya karena dari kecil kami sudah ditinggal papa yang meninggal di umur 37 tahun. Jadi mama saya itu yang banting tulang buat anak-anaknya dan kita lihat figur mama adalah Kartini masa itu buat kami. Dia benar-benar kerja keras dan enggak pernah mengeluh,” sambung Itje yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara itu.

Keputusan Itje menolak menyerah ternyata tak keliru. Setelah jadi juara se-Jakarta Barat dan memenangi Kejurda DKI Jakarta 1981 di nomor tunggal putri, jalan Itje masuk sekolah atlet SMA Ragunan jadi mulus. Dari sana dia lanjut masuk Pelatnas PBSI. Debutnya membela panji merah-putih dilakoninya di Piala Uber 1984.

Baca juga: Minarni, Nona Manis Jagoan Bulutangkis

Di Pelatnas PBSI, Itje berkembang pesat di bawah asuhan Minarni Soedarjanto dan kemudian Liang Tjiu Sia. Dua pelatih itu berperan besar membentuk mental dan karakternya di atas lapangan.

“Mbak Minarni saya akui orangnya lebih keibuan ya. Kalau Liang Tjiu Sia keras. Dia juga yang kemudian ikut melatih Susy (Susanti). Mbak Minarni kalau kita mengeluh kelelahan, dia membolehkan kita mengurangi latihan. Tapi kalau Liang Tjiu Sia, (digenjot) terus dia,” sambung Itje.

Tempaan Minarni dan Liang Tjiu Sia tak sia-sia. Itje acap jadi rival kuat Ivana Lie dibanding sesama pebulutangis Indonesia lain. Berulangkali keduanya saling balas di tiap nomor individu yang mempertemukan keduanya. Jelang akhir kariernya, Itje kerap jadi batu sandungan bagi juniornya, Susy Susanti.

Baca juga: Siapa Liang Tjiu Sia?

Di mancanegara, Itje punya rival sengit dari China, Han Aiping. Puncak rivalitasnya terjadi di Piala Uber 1986 di Jakarta, 22 April-4 Mei. Itje dkk. yang tak diperhitungkan justru membuat kejutan dengan lolos penyisihan Grup B hingga mencapai babak final berkat dorongan semangat dari momen Hari Kartini.

“Semangat perjuangan Ibu Kartini berjaya membakar kegigihan setiap pemain wanita Piala Uber Indonesia apabila mereka mencatatkan keputusan mengejutkan 3-2 atas pasukan pilihan, Korea Selatan, semalam (penyisihan Grup B). Elizabeth (Latief) yang kelihatan lebih bermaya dibandingkan fizikalnya di Piala Uber 1984 lalu, telah mengerahkan segalanya untuk menundukkan pemain terbaik dunia itu (Hwang Hye-young) 12-9, 7-11 dan 11-5 dalam masa 44 minit,” tulis suratkabar Berita Harian edisi 28 April 1986.

Di partai puncak, Indonesia bertemu China. Itje kembali diturunkan sebagai tunggal kedua menghadapi Han Aiping. Partai pertama dimainkan Ivana Lie yang meladeni Ling Liwei. Manajer tim Indonesia, Tirto Utomo, berharap banyak agar Piala Uber yang terakhir kali direbut pada 1975 bisa kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

“Kami hanya mau dunia jangan melupakan pasukan wanita Indonesia. Karena hanya dengan kemenangan ini bisa meningkatkan minat atas usaha mendapatkan pemain-pemain junior lain. Kami tidak mau pemain-pemain wanita dianggap masih tidur lagi. Oleh karena itu semangat perjuangan mereka adalah tinggi untuk merasakan kembali kemenangan 1975 ketika Indonesia menjuarai Piala Uber buat kali pertama,” ujar Tirto kepada Berita Harian, 3 Mei 1986.

Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat

Tetapi apa mau dikata. Itje dkk. kembali harus gigit jari kalah 2-3 dari China. Walau di dua nomor ganda putri (pasangan Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati dan Imelda Wiguno/Rosiana Tendean) bisa menang, tiga nomor tunggal semua poin diborong China. Itje saat itu kalah 1-11 dan 3-11 dari Han Aiping.

“Memang kalau di Piala Uber itu rasanya menurut saya lebih berat ya. Tapi yang berkesannya di tim semua susah dan senang kita tanggung bersama,” ungkap Itje.

Manisnya Pembalasan Dendam

Latihan ekstra keras kembali dilakoni pebulutangkis berpostur 165 cm itu setelah pergantian tahun. Hasilnya Itje sanggup memukul balik Han Aiping di semifinal Konica Cup di Singapura, 18-22 Februari 1987. Walau kemudian menang di final atas Gu Jiaming, bagi Itje yang paling memuaskan adalah kemenangan atas Han Aiping lewat laga sengit tiga set: 11-7, 7-11, dan 11-2. Manisnya revans makin terasa lantaran Itje sekaligus menghentikan rekor kemenangan 16 bulan berturut-turut Han Aiping.

“Saya bermain untuk menang. Kadang berhasil dan kadang juga tidak. Tetapi saya tidak mau kalah sebelum bertanding. Saya cukup beruntung. Kondisi panas di lapangan menguntungkan saya dan membantu saya mengalahkan Aiping dan Jiaming karena mereka datang dari negeri dengan iklim dingin. Saya berpegangan pada stamina. Saya percaya diri memanfaatkan keuntungan itu,” ujar Itje, dikutip The Strait Times, 24 Februari 1987.

Baca juga: Ivana Lie, Srikandi yang Tak Diakui

Spirit pantang menyerah diperlihatkan lagi oleh Itje di SEA Games 1987 Jakarta. Meski sempat diterpa cedera, Itje tetap angkat raket. Hasilnya, dua medali emas (tunggal putri individu dan beregu putri) berhasil dikalunginya.

“Di SEA Games 1987 itu di semifinal saya melawan pemain Thailand dan kemudian di poin terakhir saya jatuh. Walau tetap menang, saya bilang pada Susy kalo besok (final) saya enggak bisa main karena keseleo. Terus datang yang namanya Pak Gunawan dari tim medis. Dia bilang: ‘Sudah, saya tusuk jarum saja pasti nanti sore kamu bisa main.’ Ternyata benar, bisa langsung main,” kata Itje dalam webinar.

Baca juga: Uber Cup Demi Ibu Pertiwi

Setelah Konica Cup dan Asian Games, Itje berniat gantung raket. Akan tetapi itu dia urungkan karena bujukan Minarni agar Itje ikut tim Piala Uber 1988 ke Kuala Lumpur. Itje sepakat. Tim Indonesia berangkat namun kembali gagal juara (posisi ketiga).

“Tahun 1987 sebenarnya ingin mundur walau baru kesampaian tahun 1988. Mbak Minarni yang minta saya bertahan satu tahun lagi untuk ikut Uber Cup 1988. Padahal sejak Konica Cup saya sudah mulai cedera lutut dan merasa enggak bisa maksimal lagi. Sudah berobat ke mana-mana, kata dokter kalaupun dioperasi enggak akan bertambah baik. Tapi Mbak Minarni minta saya sebagai senior untuk membimbing adik-adik junior,” terang Itje.

Setelah gantung raket pada 1988, Itje tak lagi bersentuhan dengan dunia bulutangkis. Itje bersama salah satu kakaknya fokus merintis bisnis di bidang periklanan lewat PT Octis. Lantas sejak 2004 ia dan Susy Susanti bekerjasama dengan membuka Fontana Sport Massage and Reflexology.

“Itu ceritanya dari kita main (bulutangkis) sama-sama di Kelapa Gading. Susy bilang bahwa di situ dia sering melihat orang pada keseleo tapi enggak tahu mau pada ke mana. Kalau kita tahu karena kan kita atlet ya. Terus dibilang, kenapa kita enggak buka ya? Lalu kita coba buka dan mulai dengan menyewa satu ruko di Kelapa Gading. Dari situlah kita bisnis bareng yang kemudian jalannya bagus,” pungkas Itje yang sesekali bermain bulutangkis demi menjaga kesehatan.

Baca juga: Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber

TAG

bulutangkis kartini

ARTIKEL TERKAIT

Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Patung Kartini Pemberian Jepang Indonesia dan Kejayaan All England Mimpi Merdeka Raden Ajeng Kaida Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona Kawin-Cerai di Ganda Campuran Kartini dan Sekolah Bidan Benarkah R.A. Kartini Dipengaruhi Freemason?