Masuk Daftar
My Getplus

Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan

Kisah rivalitas Roberto Durán dan Sugar Ray Leonard, dari saling hina jadi saling respek.

Oleh: Randy Wirayudha | 19 Jan 2021
Berseteru di atas ring, Roberto Durán Samaniego & "Sugar" Ray Charles Leonard bersahabat di luar ring (Sports Illustrated, 30 Juni 1980/wbcboxing.com)

TAHUN baru, resolusi baru. Bagi petinju Roberto Durán, resolusinya pada Januari 2002 adalah gantung sarung tinju. Keputusan itu diambil setelah ia nyaris tewas beberapa bulan sebelumnya dalam kecelakaan mobil. Kecelakaannya terjadi kala ia berperjalanan ke Argentina dalam rangka promosi rekaman musik salsanya pada Oktober 2001.

“Jadi, pada Januari 2002 saya pensiun. Saya tak menyesal meninggalkan tinju dengan keadaan seperti ini karena sebelum kecelakaan, saya tak pernah punya pikiran pensiun, bahkan beberapa bulan sejak saya kalah dari Héctor ‘Macho’ Camacho. Faktanya, kondisi saya yang baik saat melawan Camacho mungkin jadi faktor yang menyelamatkan saya dari kecelakaan maut,” tulisnya dalam, I Am Durán: The Autobiography of Roberto Durán.

Total sudah 119 pertarungan ia lakoni sepanjang 33 tahun kariernya dengan 103 kemenangan (70 KO) dan 16 kali kalah. Dua dari 16 kekalahannya didapat dari seteru abadinya, Sugar Ray Leonard.

Advertising
Advertising

Rivalitas Durán dan Leonard mendapat tempat tersendiri dalam sejarah tinju sebagaimana era Max Schmeling-Joe Louis di 1930-an, Muhammad Ali-Joe Frazier pada 1960-an, Mike Tyson-Evander Holyfield, dan Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr. Maka kisah mereka acap diabadikan dalam berbagai medium, termasuk layar lebar. Setidaknya sudah tiga film yang mengangkat kisah dua dari jajaran “Four Kings” (empat raja tinju: Durán, Leonard, Thomas Hearns, dan Marvin Hagler) pada era emas terakhir tinju 1980-an itu. Selain serial dokumenter ESPN berjudul 30 for 30: No Más (2013), ada drama biopik Hands of Stone (2016) dan dokumenter I Am Durán (2019).

Baca juga: Menanti Reuni Tyson vs Holyfield

Sugar Ray Leonard (kiri) & Roberto Durán menjalin persahabatan erat di masa senja. (sugarrayleonard.com).

Seperti para pendahulunya, pada akhirnya Durán dan Leonard menjelma dari lawan jadi kawan. Kala Leonard ikut dalam proyek serial dokumenter 30 for 30: No Más ke Panama, Durán saban malam menjemput Leonard dari hotel untuk makan malam bersama.

“Hal yang tak bisa dipercaya. Kami berkendara menjelajahi Panama dan semua orang yang melihat kami membunyikan klakson dan melambaikan tangan pada kami. Saya duduk di samping Roberto Durán di mobilnya dan saya berpikir: ‘Ini takkan terjadi 20, 30 tahun lalu.’ Kami adalah saingan yang saling membenci,” kata Leonard kepada Philly Voice, 26 Agustus 2016.

Perang Urat Syaraf

Saling benci yang dimaksud Leonard disulut oleh aksi-aksi provokatif Durán jelang duel pertama mereka, 20 Juni 1980 di Olympic Stadium, Montréal, Kanada. Pertarungan bertajuk “The Brawl in Montréal” itu memperebutkan gelar dunia kelas welter versi WBC.

Kedua petinju sama-sama tengah berada di masa puncak. Durán belum lama naik dari kelas ringan ke welter dengan catatan 71-1 (8-0 di kelas welter), sementara Leonard belum terkalahkan dalam 27 pertarungan sebelumnya, termasuk dalam beberapa laga mempertahankan gelar WBC yang didapatnya pada Desember 1979.

Durán punya ambisi untuk merobohkan Leonard sebagai simbol Amerika yang dibencinya sejak kecil. Sementara Leonard sang anak emas Amerika ingin membuktikan bahwa dia tak hanya petinju flamboyan yang sering nongol di beragam iklan, namun juga mampu berduel dengan petinju beringas seperti Durán.

Baca juga: Donald Trump di Sudut Ring Mike Tyson

Pertarungan besar itu dipropagandakan secara kolosal oleh promotor kondang Bob Arum dan Don King. Seperti diberitakan suratkabar The Washington Post, 10 Mei 1980, seluruh 75 ribu tiketnya, dengan kursi ringside alias di pinggir ring yang dibanderol 500 dolar, ludes terjual.

Leonard sebagai juara bertahan dalam kontraknya dibayar 8,5 juta dolar, sementara Durán sebagai penantang diganjar 1,5 juta dolar. Ketimpangan pendapatan ini jadi salah satu dari beragam faktor Durán menyulut provokasi.

Sugar Ray Leonard bersama istrinya, Juanita (kiri) dan pelatihnya, Angelo Dundee yang dihina Durán. (Majalah Jet, 10 Juli 1980/sugarrayleonard.com).

Dalam konferensi pers jelang laga, Leonard memberi komentar diplomatis, “Saya berada dalam kondisi hebat dan saya yakin Durán juga akan berada dalam kondisi yang sama. Pertarungan ini akan jadi pertarungan luar biasa.”

Namun Durán via penerjemah enggan memberi komentar senada. “Saya tak ingin banyak bicara seperti dia. Urusan saya hanya bertarung. Tapi saya rasa ini akan jadi kali pertama Leonard benar-benar harus bertarung seperti pria sesungguhnya,” ujarnya.

Baca juga: Ring Kehidupan Max Schmeling

Namun “ribut” Duran-Leonard tak hanya berlangsung di konferensi pers. Jurnalis Christian Guidice mengungkapkan dalam biografi Hands of Stone: The Life and Legend of Roberto Durán, ketika di hotel yang sama beberapa hari sebelum pertarungan, Durán berpapasan dengan Leonard yang tengah ditemani istrinya, Juanita, dan pelatihnya, Angelo Dundee. Leonard ingin tetap bersikap ramah dan mencoba menyapanya dengan senyum lebar. Alih-alih direspon dengan ramah pula, Durán justru melontarkan ejekan, cacian, dan sejumlah kata-kata hinaan.

“Durán datang menghampiri kami dan mulai memberi cacian kepada Ray dan Juanita. Katannya (Durán): ‘Saya akan membunuh suami Anda.’ Ray tak menduga Durán begitu kasar di depan istrinya. Padahal dia juga pria yang sudah berkeluarga,” kenang Dundee dikutip Guidice.

Roberto Durán vs Sugar Ray Leonard jilid I yang dimenangkan Durán. (wbcboxing.com).

Jauh setelah itu, Leonard baru sadar bahwa itu hanya trik dalam perang urat syaraf yang dilancarkan Durán untuk mengacaukan pikirannya di atas ring. Pasalnya ketika pertarungan berlangsung, Leonard benar-benar hanyut dalam emosinya untuk memberi perhitungan kepada Durán. Leonard tak bertarung sebagaimana biasanya dan tak mengindahkan segala strategi yang dilontarkan Dundee.

“Dia mengejek saya. Dia menghina dan mengutuk ibu, anak-anak, dan istri saya. Dia mengatakan hal-hal yang tak bisa saya percaya dan saya membiarkan hal itu merasuki pikiran saya,” aku Leonard.

Bukannya bertarung sesuai arahan pelatihnya untuk menjaga jarak dan mewaspadai pukulan keras Durán, Leonard justru terseret gaya bertarung Durán yang gemar jual-beli pukulan dari jarak dekat. Walau pertarungan 15 ronde berlangsung sengit, Leonard harus rela kehilangan gelarnya setelah juri memutuskan Durán menang angka.

No Más!

Sementara Leonard bertekad bangkit dari keterpurukan, Durán justru menjalani kesuksesannya dengan foya-foya. Nahas bagi Duran, tanpa persetujuannya, sang manajer Carlos Eleta dan Don King sepakat menghelat pertarungan ulang. Dalam deal itu, duel Durán vs Leonard II bertajuk “The Super Fight” akan digelar di Louisiana Superdome, New Orleans, Amerika Serikat, 25 November 1980.

Durán sama sekali tak siap secara fisik maupun mental untuk naik ring lagi dalam waktu lima bulan.

“Saya tidak siap untuk pertarungan itu. Saya tahu bahwa kelak akan ada rematch, namun saya tak menduga akan secepat itu. Berat badan saya naik drastis, hampir 190 pounds (86 kilogram, sementara batas kelas welter maksimal 154 pounds/70 kg, red.). Itu semua salah manajer (Carlos Eleta). Karena sangat sulit buat saya mengurangi berat badan secepat itu,” ungkap Durán.

Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather

Eleta berdalih kesepakatannya dengan Don King begitu cepat dibuat karena dia tak senang Durán kembali ke gaya hidup indisipliner dan berpesta saban malam. Baginya, kesepakatan itu demi kebaikan Durán sendiri. Apalagi kesepakatannya sangat menguntungkan Durán. Sang juara bertahan diganjar 8 juta dolar.

“Saya menyepakati perjanjian pertarungan ulang itu dalam tiga bulan karena dia mulai sering minum-minum hingga mabuk. Saya khawatir jika akhirnya dia bertarung lagi (dalam tenggat waktu lama), dia justru akan kehilangan reputasinya sebagai petinju unggulan,” aku Eleta kepada Guidice.

Sugar Ray Leonard membalas kekalahan di duel jilid II setelah momen "No Mas!" Roberto Durán. (wbcboxing.com).

Dalam duel Durán-Leonard jilid II itu, Leonard tak lagi terpengaruh apalagi termakan provokasi Duran. Leonard 100 persen fokus untuk kembali pada gaya bertarungnya: meloncat sana-sini, menghindar, dan bergerak bak berdansa seperti kupu-kupu seperti halnya Muhammad Ali.

“Sepanjang pertarungan saya bergerak dan terus bergerak. Dan voom! Saya mengenai kepalanya dengan jab. Voom! Saya menghantamnya lagi. Dia berusaha mendesak saya ke tali ring namun saya mengelak dan pow! Saya memukulnya lagi dengan telak,” kenang Leonard.

Sementara, kondisi fisik Duran tak 100 persen bugar akibat usaha keras menurunkan berat badan. Durán yang sama sekali tak siap bahkan mengalami keram perut saat pertandingan baru lima ronde. Ditambah gestur-gestur provokatif Leonard, Durán memilih berhenti bertarung di ronde kedelapan.

Baca juga: Tinju Kiri Ali di Jakarta

Saat itulah disebutkan Durán menyatakan “No Mas!” alias tak mau lagi bertarung kepada wasit Octavio Meyran. Hingga sekarang pernyataan itu jadi aib yang tak pernah hilang dari Durán, tak peduli berapa kali pun Durán menyanggahnya.

Dalam pembelaannya pada konferensi pers pasca-pertarungan, bukan “No Mas!” yang dikatakan Durán, melainkan “Ni Sigo, no sigo,” yang artinya saya tak bisa melanjutkan karena mengalami keram perut.

Leonard tak mendengar detail perkataan itu. Baginya bisa membuat Durán menyerah sudah cukup memuaskan hatinya. Gelar WBC kelas welter pun kembali ke pelukan Leonard setelah diputuskan ia menang TKO.

“Saya memaksanya menyerah. Untuk bisa membuat seorang petinju menyerah, lebih lagi seorang Roberto Durán, adalah hal yang lebih baik ketimbang membuatnya KO,” cetus Leonard.

Rekonsiliasi

Sejak saat itu, Durán dan Leonard tak pernah lagi bertatap muka hingga tiga tahun berikutnya. Durán sempat terpuruk dan butuh waktu lama untuk bangkit kala menang atas Davey Moore dalam perebutan kelas super welter versi WBA, 16 Juni 1983.

Tanpa dinyana, pascalaga itu Leonard mendatangi Durán dan memberi ucapan selamat. Momen itu mengubah perseteruan Durán dan Leonard menjadi persahabatan.

 

“Malam itu sungguh ajaib. Saya tak ingat berapa banyak yang datang dan mengucapkan selamat, namun yang saya kenang betul adalah Larry Holmes dan Muhammad Ali mendatangi saya. Bahkan teman dan musuh lama saya Sugar Ray Leonard juga datang dan memberikan selamat dengan memeluk saya. Dia bilang: ‘Saya ikut senang dengan kemenangan Anda,’” sambung Durán di otobiografinya.

Baca juga: Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

Persahabatan terjalin sejak 1983 meski kemudian kembali naik ring dalam duel jilid III pada 1989. (boxingrec.com/sugarrayleonard.com).

Kendati mulai berteman, bukan berarti keduanya tak pernah lagi adu otot di atas ring. Durán dan Leonard melakoni pertarungan terakhir mereka, untuk memperebutkan gelar menengah super versi WBC, di The Mirage, Las Vegas, Amerika, 7 Desember 1989. Pertarungannya tak sesengit jilid I atau II. Leonard kembali menang angka setelah melalui 12 ronde.

Di luar ring, keduanya tetap berteman dan makin dekat hingga mengakui saling respek dan saling sayang sebagai sahabat. Seiring bertambah usia, keduanya sudah bijak kala mengingat perseteruan pahit mereka, termasuk soal kontroversi “No Mas!”.

“Saya mencintai Roberto terlepas apapun yang terjadi dalam pertarungan ‘No Mas!’, entah dia benar-benar mengatakannya atau tidak, namun hal itu meninggalkan cela dalam warisannya. Tetapi saya dan Durán akan selalu saling menghormati. Sejak pertarungan ketiga kami selalu berhubungan. Di mana pun saya bertemu, kami saling mengungkapkan rasa cinta. Selalu jadi hal yang spesial setiap kali bersua dengannya,” tandas Leonard.

Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone

TAG

tinju panama

ARTIKEL TERKAIT

Chris John Antara Tinju dan Wushu Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian II – Habis) Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian I) Pencarian Islam Muhammad Ali Sudut Ring Leon Spinks Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika Ring Kehidupan Max Schmeling Menanti Reuni Tyson vs Holyfield Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson