Masuk Daftar
My Getplus

Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona

Setengah mati bangkit dari keterpurukan di Thomas Cup, Alan Budikusuma membuktikan hasil tak mengkhianati kerja keras. Jaya di Barcelona.

Oleh: Randy Wirayudha | 27 Sep 2020
Alan Budikusuma menyimpan memori getir dan manis di dua ajang prestisius: Thomas Cup dan Olimpiade. (Fernando Randy/Historia.id).

SETELAH Olimpiade Tokyo 2020, turnamen bulutangkis bergengsi Thomas dan Uber Cup tahun ini juga terpaksa diundur ke tahun 2021 gegara pandemi virus corona. Thomas dan Uber Cup 2020 sebelumnya dijadwalkan digelar di Aarhus, Denmark, 3-11 Oktober 2020. Pandemi membuat lima dari 16 negara pesertanya satu per satu mengundurkan diri. Dipelopori Thailand, Australia, China Taipei (Taiwan), Korea Selatan, dan Indonesia mengikuti. Induk bulutangkis dunia BWF pun pada 15 September 2020 memutuskan menunda turnamen dengan jadwal yang belum ditentukan.

Thomas Cup merupakan salah satu lambang supremasi bulutangkis internasional. Indonesia sebagai pengoleksi terbanyak sudah 18 tahun atau delapan edisi puasa gelar.

Kenyataan itu turut disayangkan legenda tunggal putra Alan Budikusuma. Pasalnya, Thomas Cup punya kenangan tersendiri di lemari ingatannya. Alan menjadi bagian dari pahit-getir perjuangan tim Indonesia dalam Thomas Cup 1992 di Kuala Lumpur.

Advertising
Advertising

Baca juga: Olimpiade Tokyo Punya Cerita

Arek Suroboyo Jagoan Tepok Bulu

Kisah Alan adalah bukti sahih memanen prestasi untuk negeri dari keringat dan air mata. Di tengah masih kencangnya isu diskriminasi rasial kala meniti karier di arena bulutangkis, pantang buat Alan yang ber-spirit “arek-arek Suroboyo” untuk patah arang.

Sifat tersebut sudah tinggal dalam diri pria bernama lahir Goei Ren Fang itu sejak memilih bulutangkis sebagai jalan hidupnya. Kesukaan Alan, yang lahir di Surabaya pada 29 Maret 1968, pada bulutangkis dimulai setelah dikenalkan olahraga tersebut oleh orangtuanya.

“Orangtua saya, Arya Wiratama dan Veronika, hobi bulutangkis. Dari usia enam tahun sering diajak mereka ke tempat latihan. Keduanya lumayanlah, sering jadi juara se-Jatim (Jawa Timur),” kata Alan mengenang, kepada Historia.

Baca juga: Cah Jogja di Pentas Bulutangkis Dunia

Alan Budikusuma semasa di PB Djarum dan Pelatnas PBSI. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia).

Dari main-main, Alan mulai menseriusi bulutangkis sejak duduk di bangku kelas III SD dengan masuk klub tempat kedua orangtuanya bernaung, Rajawali, kemudian Suryanaga. Namun saat pindah ke PB Djarum pada 1986, Alan baru mendapat suntikan motivasi besar lantaran bisa berlatih bersama salah satu idolanya, Liem Swie King.

“Dulu memang awalnya idola saya Pak Rudy Hartono. Tapi memang usia kita jauh ya. Kalau dengan Pak Liem sempat latihan bersama. Itu yang membuat saya lebih senang lagi ketika latihan. Dengan Pak Liem di Djarum dan Pelatnas (PBSI), saya belajar banyak tentang latihannya, cara memukul, smes, dari caranya melatih kekuatan fisik,” tambahnya.

Baca juga: MF Siregar Teknokrat Olahraga (Bagian I)

Di PB Djarum, Alan ditempa pelatih berwatak keras Anwari dan Johan Wahyudi. Setelah masuk Pelatnas PBSI, ia diasuh Tong Sinfu dan Rudy Hartono.

PBSI pada medio Januari 1990 menggulirkan proyek besar untuk Olimpiade Barcelona 1992. Musyawarah Nasional PBSI di Manado, 18 Desember 1989, memutuskan M.F. Siregar, kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, sebagai pimpinan proyek tersebut.

“Pak Siregar, saya minta bantuan Bapak untuk menjadi pimpinan proyek Olimpiade. You langsung pegang pasukan tempur,” kata Ketua PBSI Jenderal Try Sutrisno kepada Siregar, dikutip Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia.

Alan berkisah tentang kerasnya latihan di Pelatnas PBSI jelang Olimpiade 1992 (Foto: Dok. Historia)

Selain itu, PBSI juga memanggil pulang dua pelatih yang “mengasingkan diri”, Tong Sinfu dan Liang Tjiu Sia.

Alan jadi satu di antara “prajurit tempur” yang dimaksud. Di tunggal putra, Alan punya waktu dua tahun untuk mendaki peringkat delapan besar dunia. Tak hanya bersaing dengan para jagoan raket negara lain, Alan pun harus bersaing dengan empat kompatriot di Pelatnas: Joko Supriyanto, Ardy B. Wiranata, Hermawan Sutanto, dan Hariyanto Arbi.

Baca juga: Siapa Liang Tjiu Sia?

“Di zaman (kepemimpinan) Pak Siregar, semua dikumpulkan satu tim. Sebelumnya latihan di masing-masing klub. Pelatihnya juga satu orang bisa untuk ramai-ramai. Di zaman Pak Siregar sistemnya berubah, lebih fokus per sektor. Saya dilatih Pak Rudy (Hartono) dan Tong Sinfu. Dia sangat disiplin. Kalau datang latihan telat satu menit atau kelihatan kurang tidur, disuruh pulang. Banyak aturannya sama dia. Keras memang tapi terbukti yang dia latih berhasil semua,” sambung Alan.

Bangkit dari Kubur

Memasuki awal 1992, Alan bersama Ardy B. Wiranata dan Hermawan Sutanto sudah masuk peringkat delapan besar dunia, sehingga bisa turut dalam tim persiapan akhir untuk Olimpiade. Namun sebelum berangkat ke Barcelona pada Juli 1992, mereka  masih menyisakan satu ajang “pemanasan” lagi yang kalibernya bukan “kaleng-kaleng”, yakni Thomas Cup di Kuala Lumpur, 5-16 Mei 1992.

Di awal turnamen, tim Indonesia lolos Grup A sebagai runner-up. Indonesia hanya kalah sekali, dari China, 1-4. Di semifinal, Indonesia sukses mengalahkan Korea Selatan. Namun Indonesia mengalami antiklimaks di partai puncak saat berhadapan dengan tuan rumah, Malaysia.

Baca juga: Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

Tim Malaysia meraih gelar kelima Thomas Cup-nya usai menundukkan Indonesia di final. (New Sunday Times, 17 Mei 1992).

Alan menanggung beban sebagai pemetik poin. Sebab, di tunggal lain, Ardy kalah dari Rashid Sidek usai pertarungan sengit tiga set. Adapun tunggal lainnya, Joko Supriyanto, menang mudah atas Kwan Yoke Meng. Sementara pasangan Rudy Gunawan/Eddy Hartono menang dari Razif Sidek/Jalani Sidek dan pasangan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky kalah dari Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang.

Penentuan ada di pundak Alan yang meladeni Foo Kok Keong. Namun, Alan gagal mewujudkan harapan. Dia kalah dengan angka mencolok, 6-15 dan 12-15, walau di set kedua ia nyaris menang.

Baca juga: MF Siregar Teknokrat Olahraga (Bagian II – Habis)

“Foo Kok Keong tertinggal 6-9 di gim kedua, namun ajaibnya ia mendapat ‘second wind’ dan membalikkan keadaan setelah menyamakan skor 10-10 dan kemudian menang di angka 15-12. Malaysia mengubur tim Indonesia yang selalu jadi hantu atas kekalahan di tahun 1970. Pembalasan dendam yang manis,” demikian potongan berita suratkabar New Sunday Times, 17 Mei 1992.

“Saya pribadi merasa gagal karena ditargetkan PBSI mengambil satu poin tapi ternyata saya tidak bisa. Sempat seminggu saya tidak latihan. Stres, depresi. Sempat berpikir keras karena sebentar lagi Olimpiade,” ujar Alan.

Alan Budikusuma di Olimpiade 1992 Barcelona. (BWF).

Beruntung bagi “pasukan” Indonesia karena saat kembali ke tanah air, Try maupun Siregar bersikap bijak dalam merespon frustrasinya tim. Mengingat tak lama lagi Olimpiade, Siregar berusaha membangkitkan semangat Alan dkk.

“Olimpiade kurang dari 2,5 bulan tapi saya mainnya kayak gini. Performa saya kurang baik. Saya kecewa dan hampir putus asa. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana ini? Itu yang saya tanyakan pada diri saya. Tapi puji syukur, ada dukungan orangtua, Pak Siregar, dari Susy, bahwa kamu bisa. Karena tidak selalu semuanya pada hari itu main akan jelek terus. Yang penting bagaimana bangkit, latihan lebih giat dan fokus habis-habisan untuk Olimpiade,” imbuhnya.

Baca juga: Cinta Kasih Susy Susanti untuk Negeri

Wejangan dari Siregar membuat Alan menolak patah arang walau sebelumnya jadi sasaran kemarahan pelatih Rudy Hartono dan Indra Gunawan. “Keduanya marah besar pada Alan. Mereka menimpakan penyebab kekalahan tim Indonesia ke pundak pemuda kelahiran Surabaya tersebut. Siregar lalu berkata pada Alan yang masih syok: ‘Kamu harus latihan setengah mati. Datang lebih awal dan pulang paling akhir’,” tulis Brigitta dan Primastuti.

Selain melanjutkan program yang sedikit berbeda untuk Olimpiade, Alan dan Susy Susanti yang saat itu sudah menjalin asmara, berkomitmen untuk memprioritaskan diri di lapangan dan mengesampingkan urusan percintaan mereka. Alan pun harus mau menjalani pra-Olimpiade bersama Sarwendah Kusumawardhani.

Ardy Bernardus Wiranata, kompatriot Alan di final Olimpiade 1992 (Foto: pbdjarum.org)

Dari situ, Alan mulai paham bahwa pada Olimpiade 1992 ia hanya akan berstatus “underdog”. Andalan PBSI dijatuhkan ke pundak Ardy. Pasalnya Ardy tak diminta hal serupa untuk berangkat ke pra-Olimpiade. Siregar pun mengakui bahwa Alan tak masuk hitungan berpeluang meraih medali.

“Jujur saja, ketika itu saya sudah menargetkan yang membawa pulang medali ada pada Susy, Ardy, dan ganda putra Rudy Gunawan dan Eddy Hartono. Tapi saat masyarakat mulai menonjolkan Ardy, saya tidak memberi komentar,” aku Siregar.

Baca juga: Biopik Susy Susanti Tak Sedramatis Kisah Asli

Diposisikan bukan sebagai andalan justru membuat Alan bisa mengambil hikmahnya saat bertarung di Barcelona. Ia menjalani babak demi babak tanpa beban. Sedari babak pertama, nyaris tiada lawan yang sulit untuk disisihkannya di seksi 3 tunggal putra. Sementara, Ardy di seksi 2 maupun Hermawan di seksi 1 harus saling “bunuh” di semifinal.

Alan baru menemui lawan tangguh di semifinal, Thomas Stuer-Lauridsen. Meski begitu, Alan sukses menang dua set langsung atas andalan Denmark itu. Alan pun bersua Ardy sang andalan di final.

“Perasaan saya biasa saja dulu. Kita ketemu di final (dengan Ardy). Bagi saya semua teman-teman sama. Saya enggak berpikir untuk melihat sisi (kelemahan dan kekuatan) Ardy. Fokus diri sendiri saja,” kenang Alan.

Baca juga: Di Balik Pernikahan Pasangan Emas Olimpiade

Walau tak diunggulkan, Alan justru di luar dugaan meraih emas Olimpiade 1992. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia).

Di atas kertas, Ardy lebih diunggulkan karena juara dunia dan All England 1991. Namun di luar dugaan, Alanlah yang berdiri di podium tertinggi saat upacara penyerahan medali setelah menang dua set langsung, 15-12 dan 18-15.

Bagi Ardy, pengalaman itu jelas tak terlupakan. “Itu pengalaman yang paling pahit. Tapi jangan salah tanggap, saya juga bangga bisa menyumbang medali perak untuk Indonesia. Bagi saya tidak peduli siapa lawan saya, sesama pemain Indonesia atau negara lain. Waktu final Alan bermain lebih bagus dari saya. Kecewa itu pasti. Bohong kalau saya bilang tidak kecewa. Tapi saya tetap bangga mendapat perak buat Indonesia,” tutur Ardy yang sejak 1998 melanglang buana ke Amerika Serikat dan Kanada, via surat elektroniknya.

Baca juga: Ketika Rumah Susy Susanti Nyaris Dibakar

Kepahitan Ardi menjadi manis bagi Alan. Capaian manisnya merupakan buah dari proses mati-matiannya untuk bangkit pasca-Thomas Cup 1992. Menjelang Olimpiade, Alan saban hari mesti melakoni enam jam latihan di tangan pelatih “diktator” Tong Sinfu. Dia juga mesti mengenyampingkan ego pribadinya, pacaran dengan Susy, untuk fokus pada Olimpiade.

“Memang dari sisi masyarakat kan melihat Ardy performance-nya lebih baik. Saat itu saya posisinya underdog. Jadi pikiran saya, kalaupun kalah di final ya kalahnya sama teman sendiri. It’s okay. Saya enggak ada beban, rileks. Ternyata saat main saya lebih oke (hasilnya),” tandas Alan.

TAG

bulutangkis thomas cup olimpiade susy susanti alan budikusuma

ARTIKEL TERKAIT

Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi Perempuan Dobrak Patriarki Olimpiade Ganefo Mengganyang Olimpiade Aneka Cerita Menembak Sasaran di Olimpiade Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Richard Jewell dalam Kemelut Bom Olimpiade Indonesia dan Kejayaan All England Race, Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Era Nazi