Masuk Daftar
My Getplus

Akhir Hayat Sang Penyelamat

Kiper terbaik Inggris meninggal dengan tenang dalam tidurnya.

Oleh: Randy Wirayudha | 17 Feb 2019
Aksi Gordon Banks saat menyelamatkan sundulan Pele di Piala Dunia 1970 (Foto: fifa.com)

SEPAKBOLA Inggris tengah berduka. Satu legenda sohornya, Gordon Banks, mengembuskan nafas terakhir dengan damai dalam tidurnya di kediamannya, Stoke-on-Trent, Selasa 12 Februari 2019 malam waktu setempat (Rabu, 13 Februari 2019 WIB) dalam usia 81 tahun. Banks menderita kanker ginjal sejak 2015.

Kabar kematian kiper Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966 itu menuai banyak ucapan belasungkawa. Tidak hanya dari para legenda hidup, klub, FA (Induk Sepakbola Inggris) dan para pemain yang masih aktif, induk organisasi sepakbola Jerman DFB turut mengucapkan belasungkawa. “Seorang lawan yang tangguh dan pribadi yang sangat baik. Beristirahatlah dengan tenang, Gordon Banks,” cuit DFB di akun Twitter resminya, @DFB_Team_EN pada Selasa, 12 Februari 2019.

Edson Arantes do Nascimento alias Pelé, legenda hidup sepakbola asal Brasil, turut terpukul mendengar kematian kiper terbaik Inggris sepanjang sejarah itu. Pelé mulai menjalin persahabatan dengan Banks pasca-sang kiper melakukan penyelamatan fenomenal dengan menggagalkan sundulan Pelé di Piala Dunia 1970.

Advertising
Advertising

“Bagi banyak orang, memori tentang Banks ditentukan oleh penyelamatan dari peluang saya di 1970. Saya mengerti alasannya. Penyelamatan itu salah satu yang terbaik dari yang pernah saya lihat sepanjang karier saya…Saya mencetak begitu banyak gol, tapi kebanyakan orang, saat mereka bertemu saya, selalu menanyakan tentang penyelamatan itu…Jadi saya senang dia menyelamatkan sundulan saya karena itu jadi awal persahabatan kami yang sangat saya banggakan. Beristirahatlah dengan tenang, sobat. Ya, Anda adalah seorang kiper yang punya sihir. Anda adalah manusia yang sangat baik,” tulis Pelé dalam akun Facebook resminya, Selasa 12 Februari 2019.

Baca juga: Tendangan dari Bauru

Penyelamatan fenomenal itu terjadi pada partai kedua Grup C, 7 Juni 1970 di Estadio Jalisco, Guadalajara, Meksiko. Dalam satu momen di interval pertama, Jairzinho ngacir dari sisi kiri pertahanan Inggris dan mengirim umpan lambung ke tengah kotak penalti. Pelé langsung meloncat untuk menyambut crossing itu dan menanduk bola hingga memantul lebih dulu sebelum mengarah ke sudut kanan gawang Banks.

“Saya sudah berteriak ‘Gol!’ sebagai reaksi,” ujar Pelé dikutip Les Scott dalam Banksy: My Autobiograpy. Tapi betapa terkejutnya Pelé lantaran dengan cepat Banks terbang ke kanan dan menepis saat bola baru sepersekian detik memantul dekat garis gawang. Bola pun gagal bersarang dan hanya menghasilkan tendangan sudut.

“Saya pikir harusnya itu gol,” cetus Pelé seketika usai sundulannya kandas. “Saya pun sempat berpikir begitu,” jawab Banks. “Anda mulai menua, Banksy. Biasanya bisa ditangkap, kan,” kata bek Inggris Bobby Moore menimpali dalam obrolan singkat. Sayang di laga itu Inggris akhirnya kalah setelah Jairzinho mencetak gol semata wayang di menit 59.

Dari Buruh Serabutan ke Pentas Dunia

Banks lahir di Abbeydale, Sheffield, 30 Desember 1937 dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Di usia 15 tahun, Banks harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga dengan menjadi buruh di perusahaan batubara lokal. Setelah itu, tulis Les Scott dalam autobiografi Banks terbitan 2002 itu, Banks jadi buruh bangunan di Catcliffe menyambi jadi kiper klub amatir Millspaugh.

Titik balik hidupnya bermula saat Banks ditawari trial oleh pemandu bakat Chesterfield pada Maret 1953. Banks tak menyia-nyiakannya dan tampil impresif hingga mendapat kontrak paruh waktu dengan gaji tiga poundsterling sepekan pada Juli di tahun yang sama. Dari situlah namanya mulai dikenal hingga dibeli Leicester City pada 1959, Stoke City pada 1967, sampai pensiun bersama Fort Lauderdale Strikers pada 1978.

Performa apiknya saat bersama Leicester menjadi bekal Banks masuk Timnas Inggris U-23 pada 1961 dan timnas senior dua tahun berselang. Karier emasnya dicetak pada Piala Dunia 1966, di mana Banks dkk memenangi trofi Piala Dunia untuk kali pertama yang hingga kini masih jadi satu-satunya kenangan paling manis buat Negeri Ratu Elizabeth II.

Di Piala Dunia berikutnya, nama Banks kian melangit setelah melakukan penyelamatan terhadap sundulan Pelé. FIFA sampai menyebut aksi itu sebagai aksi penyelamatan terbaik sepanjang sejarah. International Federation of Football History and Statistics menempatkannya sebagai kiper terbaik kedua Abad ke-20 setelah Lev Yashin.

Baca juga: Raja Diraja Pengawal Mistar Dunia

Bila Banks tak keracunan makanan, bisa jadi Inggris mampu mempertahankan gelar di Piala Dunia Meksiko 1970. Namun nahas, jelang perempatfinal kontra Jerman Barat, kondisi Banks mengharuskan pelatih Alf Ramsey mencadangkannya. “Peter Bonetti menggantikan Gordon yang masih sakit di perempatfinal yang sarat drama dan membuat sakit hati,” tulis Jim Morris dalam Gordon Banks: A Biography.

Inggris seolah “dikerjai” dan soal ini masih jadi misteri sampai sekarang. Banks menderita keram perut, diare, dan keringat dingin mengucur terus-menerus tak lama setelah minum bir bersama rekan-rekan setimnya. Anehnya, hanya Banks yang keracunan. “Saya tak ingat jika tutup botol yang disajikan sudah terbuka atau tidak. Yang pasti, setengah jam kemudian saya merasakan nyeri pada perut saya,” ungkap Banks dalam biografinya.

Selain itu, Inggris juga “dikerjai” sebelum menjalani laga perempatfinal di Léon, sekitar 200 kilometer dari Guadalajara yang jadi basis tim Inggris. Sedianya, tim Inggris ingin pakai pesawat ke venue, tapi panitia mengatakan landasan bandara di Léon tak cukup memadai buat pesawat tim. Padahal, pesawat tim Jerman bisa mendarat di Léon.

Banks dkk. terpaksa mengarungi perjalanan darat Guadalajara-Léon dengan bus tanpa AC selama lima jam. Tanpa banks di bawah mistar, Inggris akhirnya kalah 2-3 dari Jerman Barat di Estadio Nou Camp, Léon, 14 Juni 1970.

Ironisnya, nasib Banks setelah pensiun pada 1972 tak begitu cemerlang. Dari 1977-1980, Banks secara serabutan melatih klub-klub kecil Liga Inggris seperti Port Vale hingga Telford United. Pada 1980 di Telford United, Banks vakum lantaran menjalani operasi. Tapi saat kembali ke klub, Banks malah dipecat. Manajemen klub hanya bersedia menampung Banks sebagai penjual kupon undian.

Banks memutuskan pergi dari klub itu tak lama kemudian. “Saya sakit hati…tidak mau lagi berada di dalam manajemen klub,” ujarnya saat diwawancara BBC, 24 Agustus 2010. Banks lantas memilih berbisnis dengan membuka hotel kecil di Leicester. Sayang, bisnisnya mandek dan bangkrut. Perekonomiannya baru bisa perlahan bangkit setelah dibantu Leicester City, bekas klub Banks yang prihatin kepadanya.

Pada 2001, pria yang pernah ditawari posisi presiden kehormatan seumur hidup oleh Stoke City itu mengambil satu keputusan tersulit dalam hidupnya. Banks melelang medali emas Piala Dunia 1966 di Rumah Lelang Christie’s dan laku seharga 124.750 pounds. Keputusan itu diambil setelah Banks berpikir masak-masak tak ingin medalinya jadi biang rebutan warisan ketiga anaknya kelak jika dia meninggal.  

TAG

Obituari Sepakbola Piala-Dunia

ARTIKEL TERKAIT

Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Purnawirawan Jenderal Pendiri Arema Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola Adieu, Jean-Luc Godard! Ratu Elizabeth II yang Dihujat dan Dicinta Jenderal Keuangan Soeharto Berpulang Ada Apa dengan Sepakbola India? Masa Kecil Si Lebah Kecil Eddy Gombloh Kawan Tentara Jejak Nelson Mandela di Indonesia