KETIKA kali pertama diluncurkan pada 2 Februari 2007, film Letters from Iwo Jima mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika Serikat (AS). Antusiasme itu semakin terlihat manakala setelah penayangan perdana tersebut banyak orang AS dan Jepang yang mengajukan izin untuk mengunjungi Pulau Iwo Jima. Demikian keterangan yang dilansir IMDb.com, situs mengenai konten film, televisi dan selebritas paling otoritatif dan populer di dunia.
Letters from Iwo Jima berkisah tentang pertempuran antara para prajurit Jepang dengan tentara AS di Pulau Iwo Jima pada Februari-Maret 1945. Namun berbeda dengan film padanannya, Flags of Our Fathers, film kolosal yang dikeluarkan Hollywood itu lebih melihat peristiwa tersebut dari sisi Jepang.
Dalam sejarah Perang Dunia II, pertempuran Iwo Jima memang merupakan bentrok paling alot di Pasifik. Menurut Mark Khan dalam The Battle of Iwo Jima: Raising the Flag, February—March 1945, itu sejenis perang tanding yang jatuhnya korban di kedua belah pihak nyaris sama besarnya.
R.S. Boender, orang Indonesia yang terlibat dalam Perang Pasifik (di pihak AS) mengakui bahwa dibandingkan palagan lainnya, pertempuran di Iwo Jima adalah yang tersulit. Mau tidak mau, militer AS harus mengakui kebrilyanan taktik perang Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi.
Baca juga: Orang Indonesia di Palagan Pasifik
“Dia menciptakan medan bertangga dari beton yang tak bisa ditembus oleh kendaraan lapis baja, kecuali oleh jumlah pasukan yang berganda dengan semangat perang habis-habisan…” ungkap Boender dalam otobiografi-nya, Terhempas Prahara ke Pasifik (disusun oleh Hanna Rambe).
Iwo Jima merupakan pulau kecil. Luasnya hanya 8 mil persegi. Kendati demikian, dalam pertarungan AS vs Jepang di Pasifik, pulau tersebut memiliki arti yang sangat penting karena merupakan pintu gerbang menuju Tokyo.
Saipan memang telah dikuasai oleh pasukan AS Desember 1944. Namun untuk melakukan operasi pemboman ke Tokyo, jarak Saipan-Tokyo masihlah terlalu jauh yakni sekira 1.200 mil. Dalam jarak sejauh itu, pesawat pemburu tidak akan berdaya melindungi pesawat pembom B-29, kecuali “para pemburu” itu dilepas dari sebuah kapal induk yang berlayar lebih dekat ke daratan Jepang.
“Kekurangan ini akan hilang sama sekali, kalau Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan juga berada dalam pengawasan Sekutu,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik.
Baca juga: Teror Banzai di Saipan
Karena perhitungan itu pula, militer AS pada akhirnya memutuskan untuk menguasai Iwo Jima. Mereka kemudian mengirimkan tim intelijen dari laut dan udara untuk mengamati medan pulau yang pantainya berpasir hitam tersebut. Hasil pengamatan itu menyimpulkan bahwa Iwo Jima bisa dikuasai dalam lima hari.
Sementara itu pihak Jepang sendiri sangat paham jika Iwo Jima memang layak dipertahankan. Menurut salah satu eks staf Kuribayashi bernama Mayor Horie, ketika prajurit-prajurit AS mendarat di Saipan pada 15 Juni 1944, Jepang mulai memperkuat kedudukannya di Iwo Jima.
Lima belas hari kemudian, Daihonei (markas besar Kekaisaran) mengangkat Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi sebagai komandan Divisi ke-109, langsung di bawah kendali Tokyo. Hingga 1 Februari 1945, ada sekira 23.000 pasukan Jepang di Iwo Jima. Namun demikian, persedian logistik untuk mereka sangatlah minim.
“Ada persediaan beras untuk 70 hari dan makanan lain untuk 60 hari,” ungkap Horrie seperti dikutip oleh Walter Karig dan kawan-kawan dalam Battle Report (V).
Baca juga: Midway, Adu Kekuatan Dua Armada
Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena di Iwo Jima, ketersediaan air layak minum sangatlah kurang. Bahkan untuk menghemat persediaan air bersih yang ada, untuk keseharian sebelum pertempuran terjadi, mereka terpaksa mengkonsumsi air hujan. Dengan kondisi seperti itu, wajar apabila kondisi fisik para prajurit Divisi ke-109 hampir 20% tidak memenuhi syarat untuk pergi bertempur.
“Banyak yang sakit typhus…” ungkap Horrie.
Situasi itu menyebabkan sebagian perwira diam-diam menjadi pesimis akan memenangi peperangan. Mereka berpikir, jika Jepang tidak memiliki lagi armada laut dan udara, maka kemungkinan besar AS akan menguasai Iwo Jima hanya dalam waktu sebulan. Maka muncullah ide gila itu: Iwo Jima lebih baik ditenggelamkan saja.
Ide itu ditentang habis oleh Kuribayashi. Dia berpendapat bahwa untuk menenggelamkan Iwo Jima diperlukan banyak bahan peledak yang sejatinya justru diperlukan guna melawan serbuan tentara AS. Maka keluarlah ketentuan dari sang jenderal yang menetapkan tiap serdadu Jepang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri. Mereka harus bertempur semaksimal mungkin dan merusak musuh sebanyak mungkin.
“Kami bermaksud membuat lubang di bawah tanah sepanjang 18.000 meter…” ujar Horrie.
Rencana itu pun dimulai sejak Desember 1944. Sayang, ketika para marinir AS mulai berdatangan ke Iwo Jima, terowongan bawah tanah itu baru selesai 5.000 meter saja! (Bersambung)