Masuk Daftar
My Getplus

Mayor Boyke Nainggolan vs Kolonel Djatikusumo

Pertentangan antara pemerintah pusat dan daerah di Medan terwujud dalam suatu medang perang. Seorang perwira Batak Toba sempat unggul sementara dari seorang perwira ningrat asal Solo.

Oleh: Martin Sitompul | 08 Jul 2020
Mayor Boyke Nainggolan dan Kolonel Djatikusumo. Sumber: buku "Kolonel Maludin Simbolon: Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa" (Boyke) dan Wiki (Djatikusumo).

Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution - Kepala Staf Angkatan Darat  (KSAD) – merasa jemawa. Operasi Tegas rancangannya berhasil menumpas kekuatan PRRI di Pekan Baru. Namun sayangnya, sorak sorai kemenangan belum sepenuhnya berpihak kepada Nasution. Kejutan segera terjadi di Medan.

“Pada 16 Maret 1958, jam 04.00, eks Mayor Nainggolan beserta Yon 131 pimpinan Mayor Henry Siregar yang telah dipengaruhinya, merebut kekuasaan di Medan,” tulis Makmun Salim dari Pusat Sejarah ABRI dalam Sedjarah Operasi-Operasi Gabungan Terhadap PRRI-Permesta.

Hari itu, kota Medan diacak-acak oleh Nainggolan. Bank-bank yang ada dikuras. Uang hasil rampasan itu digunakan Nainggolan sebagai pemikat bagi orang-orang yang mau ikut serta dalam aksinya.

Advertising
Advertising

Mayor Nainggolan (lengkapnya adalah Boyke Nainggolan) bukanlah perwira sembarangan. Menurut sejarawan Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, perwira Batak Toba itu dianggap sebagai salah seorang perwira tempur Angkatan Darat terbaik. Tindakan Nainggolan sendiri menguasai kota Medan semata-mata untuk mendukung pemberontakan daerah yang menuntut hak otonomi dari pemerintah pusat. Operasi militer tersebut diberi sandi “Sabang Merauke”.

Baca juga: 

Boyke Nainggolan, Tragedi Opsir Terbaik

Situasi ketika pasukan Nainggolan merebut kota Medan direkam oleh Hoegeng Iman Santoso yang waktu itu menjabat posisi kepala reserse kriminal Sumatra Utara. Hoegeng mengenang, pasukan Nainggolan pada pukul 03.30 mulai menghujani basis AURI di Polonia dengan tembakan-tembakan mortir. Hoegeng sendiri disebut-sebut sebagai “pejabat pusat” oleh pasukan Nainggolan dan masuk dalam daftar yang akan ditangkap. 

“Saya ndak tahu Mayor Boyke adalah PRRI. Belakangan saya tahu, kami diundang karena PRRI mau tahu siapa yang masih ada dan perlu diculik,” kata Hoegeng pada wartawati Tempo Leila S. Chudori pada 22 Agustus 1992 dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah.

Saat Medan dikuasai pasukan Nainggolan, Kolonel G.P.H. Djatikusumo – Deputi KSAD/ Koordinator Operasi Militer Sumatra - merupakan pejabat TNI Angkatan Darat tertinggi di kota itu. Pasalnya, Kolonel Maludin Simbolon - Panglima Kodam Bukit Barisan – telah lebih dahulu membelot kepada PRRI. Sementara itu, Kepala Staf Kodam Bukit Barisan Letkol Djamin Gintings yang masih loyal pada negara menyingkir ke Sibolangit Tanah Karo. Djatikusumo sendiri adalah perwira berdarah ningrat bergelar Gusti Pangeran Harjo Djatikusumo. Pangeran Solo itu merupakan putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X. 

Baca juga: 

Drama Malam Natalan: Kisah Penangkapan Simbolon

“Djatikusumo yang berada di kota terpaksa mengungsi ke Belawan mencari perlindungan pada ALRI,” kata Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto. Soegih Arto pada waktu itu menjabat komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB setara Kodim).   

Menurut Audrey Kahin, meskipun bersifat sementara, Operasi Sabang Merauke bisa dianggap sukses secara politis. Selain meningkatkan posisi tawar di hadapan pemerintah pusat, tindakan Nainggolan di Medan mengangkat semangat pimpinan PRRI di Sumatra Barat. Sebagai catatan, mental pasukan PRRI Sumatra Barat pimpinan Kolonel Ahmad Husein sempat runtuh kala mengalami kekalahan di Pekan Baru.

“Sjafruddin (Perdana Menteri versi PRRI) memuji Operasi Sabang Merauke untuk mencegah kocar-kacirnya kekuatan militer Husein di Sumatra Barat,” tulis Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926—1998 yang mengutip dokumen PRRI.

Baca juga: 

Operasi Bersama Gempur Sumatera

Pengakuan dari Sjafruddin Prawiranegara itu tertera dalam suratnya yang bertanggal 18 Mei 1958. Sjafruddin mengatakan bahwa pertahanan mereka di Sumatra Barat mungkin telah ambruk andai Medan tidak “meletus” pada 16 Maret 1958. Meletusnya Medan memberikan kesempatan bagi Kolonel Husein membangun kapal yang kuat di pantai barat Sumatra.

“Bagaimanapun sampai saat ini pengaruh mereka, walaupun tidak besar, masih terasa, pada semua bagian tentara dan polisi,” tulis Sjafruddin seperti dikutip Kahin.

Sementara itu, Di Jakarta, Nasution kembali putar akal untuk meredam pergolakan di Sumatra. Perwira menegah Batak Toba bernama Boyke Nainggolan yang membangkang itu telah membuat perhitungan serius baginya. Nasution pun segera menyusun siasat untuk menangkap Boyke Nainggolan maupun pentolan PRRI lainnya. (Bersambung).    

 

TAG

sejarah-tni boyke-nainggolan prri tokoh-batak

ARTIKEL TERKAIT

Arief Amin Dua Kali Turun Pangkat Peredaran Rupiah Palsu di Taiwan George Benson Kawan Yani Kisah Jenderal Gorontalo Juragan Besi Tua Asal Manado Bekas Menteri Masuk TNI Drama Tapol PRRI dan Tapol PKI dalam Penjara Petualangan Nawawi Yusman Sudah Komando Sebelum Sekolah Perwira Pesona Baret Merah dan Luhut Kecil