Masuk Daftar
My Getplus

Mantiri Dikira Menteri

Mantiri dua kali dikira menteri karena namanya. Perwira AURI ini pernah nekat menghadapi pesawat Belanda.

Oleh: Petrik Matanasi | 10 Okt 2022
R.I. Mantiri di antara para perintis perwira penerbang AURI dalam suatu latihan di Lapangan Terbang Maguwo (kini Adisutjipto) tahun 1946. (Istimewa).

Belum lama berdiri, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) langsung bekerja. Dengan pesawat mereka, AURI harus wira-wiri ke berbagai tempat. Termasuk menjelang Perundingan Linggarjati, yang mana AURI mengirimkan Komodor Muda Abdul Halim Perdanakusuma, Opsir Muda Udara II Muhammad Sujono, dan Opsir Muda Udara III R.I. Mantiri.

Mereka berangkat dari Yogyakarta yang sedang menjadi ibu kota Republik Indonesia. Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel. Mereka kemudian mengirim telegram ke Yogyakarta dengan mencantumkan nama pendek mereka bertiga. Tak lama datang wartawan yang ingin mewawancarai tentang pergantian kabinet. Mereka bertiga bingung. Pergantian kabinet tentu urusan Presiden Sukarno atau Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Mereka pun menyelidiki. Ternyata nama-nama pendek mereka ditulis sebagai: Perdana Menteri Sujono. Perdana dari Halim Perdanakusuma, Menteri dari Mantiri, dan Sujono dari Muhammad Sujono. Begitu cerita lucu tentang sejarah AURI yang dicatat majalah Angkasa No. 1 Tahun XXV, 1975.

Advertising
Advertising

Baca juga: Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis

Di lain waktu, Mantiri mengalami kejadian lucu lagi terkait namanya. Waktu itu, dia menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Campur Darat di Tulung Agung, Jawa Timur. Dalam perjalanan ke Campur Darat dari Yogyakarta, rombongan Mantiri selalu mendapat sambutan istimewa dari para lurah. Mereka disuguhi ayam dan kambing, menu lezat dan mewah di zaman perang yang sulit. Tak hanya suguhan makanan, tenaga sukarela juga disediakan untuk membawa barang-barang rombongan.

Rombongan AURI itu mendapat sambutan istimewa karena kurir yang mendahului mereka mengatakan kepada lurah-lurah yang dilaluinya bahwa “Bapak Menteri” dari Angkatan Udara akan melewati desa mereka. Ternyata yang datang “Mantiri” bukan “Menteri”.

Dua kali nama Mantiri terbaca atau dikira sebagai Menteri. Mantiri sendiri adalah marga Minahasa. Dalam bahasa lokal di daerah asalnya, Mantiri diartikan sebagai pembuat benda halus. Jadi, Mantiri jelas bukan Menteri apalagi Mantri. Mantiri yang ini adalah Opsir Muda Udara III atau setara pembantu letnan.

Baca juga: Penerjunan Pertama Indonesia

Mantiri, disebut Angkasa, juga seorang perwira AURI yang ikut menghadapi blokade udara Belanda. Suatu kali, ketika naik pesawat amfibi Catalina menuju Singapura, pesawat mereka berpapasan dengan pesawat Belanda. Mantiri nekat membuka pintu kokpit pesawat dan mengayun-ayunkan samurai ke arah pesawat musuh. Pesawat Belanda kemudian menghilang mungkin mengira samurai itu senapan mesin 12,7 yang menakutkan.

Ketika berpangkat Kapten pada Oktober 1947, Mantiri menjadi saksi kekonyolan Belanda. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Belanda mengklaim banyak daerah yang dikuasainya. Namun, sebuah pesawat Belanda yang membawa rombongan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk meninjau wilayah yang dikuasai Belanda terpaksa mendarat di daerah yang dikuasai Republik Indonesia yaitu di Pameungpeuk, Garut. Buku Album Perjuangan Kemerdekaan, 1945–1950 dari Negara Kesatuan ke Negara Kesatuan menyebut ketika pesawat Belanda itu mendarat, Letnan Mantiri sedang berada di sana.

Baca juga: Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda

Tidak banyak data tentang Mantiri. Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 menyebut Mantiri pernah belajar di Vliegschool (Sekolah Penerbang) kolonial di Kalijati pada 1941, lalu pada 28 Oktober 1941 ditugaskan sebagai Milisi Pribumi pada Depot Batalion KNIL 1 di Bandung. Pada 9 Januari 1942, dia naik pangkat menjadi Kopral Milisi.

Setelah Indonesia merdeka, Mantiri ikut serta berada di pihak Republik. Dia belajar terbang lagi kepada Komodor Muda Agustinus Adisutjipto hingga punya kemampuan terbang. Mantiri sempat menjadi perwira logistik AURI. Setelah Agresi Militer Belanda II, dia menjadi anggota Staf AURI di Jawa Timur.

Baca juga: Tragedi Kematian Magellan

Setelah 1950, Kapten Penerbang Mantiri menjadi Komandan Pangkalan Udara Mandai. Sebelumnya, dia menjadi Inspektur Penerbangan Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS). Koran Java Bode, 29 April 1950, menyebut Mantiri sudah berada di Makassar dan menyebut bahwa lapangan terbang itu masih cukup layak kondisinya. Java Bode, 2 Mei 1950, juga menyebut Mantiri pernah ikut melakukan kunjungan dengan pesawat yang kendarainya.

Kapten Mantiri rupanya pecinta sejarah. Koran Het Nieuwsblad voor Sumatra, 7 November 1953, dan De Vrije Pers, 4 November 1953, memberitakan bahwa Mantiri bersama A.W.F. de Rook telah merilis naskah sejarah berjudul De eerste wereldreis en het rijk Minahassa yang akan diterbitkan Van Hoeve Bandung. Di dalamnya disebut bahwa penjelajah Fernando de Magelhaens atau Ferdinand Magellan tidak tutup usia di Filipina tapi di Minahasa. Mantiri mengaku telah menyelidikinya selama 15 tahun.* 

TAG

tni au

ARTIKEL TERKAIT

Jonosewojo Jadi Jenderal di Usia 24 Tahun Para Perwira Angkatan Darat Didikan Amerika Serikat 20 Januari 1946: Tentara Jepang Dipukul Mundur ke Medan Orang Batak Jadi Jenderal Akhir Cerita Ibnu Hadjar Sersan Tolo dapat Bintang dari Kerajaan Belanda Pakde-Pakde Ari Wibowo Kekecewaan Pasukan Pembela Keadilan Dari Angkatan Laut ke Pulau Buru Lonceng Kematian Kapal Kebanggaan Jerman