Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Marsekal dari Soreang

Lulusan AKABRI pertama. Masa senjanya dihabiskan dengan pengabdian di KNKT.

Oleh: Randy Wirayudha | 01 Mei 2019
Marsda Pnb (Purn) Tatang Kurniadi saat masih menimba ilmu di sekolah penerbang AURI (Foto: Dok. Pribadi Marsda Purn. Tatang Kurniadi)

DERU suara helikopter yang melayang di langit Semplak, Bogor, mengiringi perbincangan pagi itu, 24 April 2019. Marsekal Muda (Purn.) Tatang Kurniadi memang tinggal tak jauh dari Pangkalan Udara TNI AU Atang Sendjaja (Lanud ATS).

“Kadang penasaran saja kalau ada heli-heli baru di Lanud,” katanya kepada Historia. Selama puluhan tahun bertugas, Tatang kenyang memiloti alutsista berjenis rotary wings (helikopter) maupun fixed wings (pesawat).

Alumnus angkatan pertama AKABRI Magelang, 1967, itu berkisah panjang-lebar seputar pengalamannya bertugas di Kalimantan, Papua hingga Timor-Timur (Tim-Tim) di hari-hari terakhir wilayah yang pernah jadi provinsi termuda RI itu. Diceritakannya juga saat di masa senja ikut membangun reputasi KNKT di mata internasional sembari membuka kembali koleksi catatan-catatan beserta sejumlah foto lawasnya.

Advertising
Advertising

Surat Balasan Sukarno dan Reuni dengan Luhut

Lahir di Soreang 3 April 1946, Tatang kecil hidup di alam revolusi kemerdekaan. Kondisi itu melecutnya untuk bercita-cita ingin jadi tentara. Semasa SMP hingga SMA ia aktif ikut kepanduan (kini Pramuka). Sebagai belia yang aktif menulis di kepanduan, pernah satu kali ia berkirim surat ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Sukarno.

“Eh enggak dikira, dibalas. Isinya ya begini saja: ‘Dengan salam kami, dan utjapan terima kasih. Soekarno. 6-6-1964’,” ujar Tatang sambil memperlihatkan surat balasan yang disisipi gambar karikatur Sukarno dan amplop lusuh ber logo Istana Presiden RI.

Koleksi surat balasan Sukarno (Foto: Dok. Pribadi Marsda Purn. Tatang Kurniadi)

Menurutnya, surat balasan yang diterima pada Juni 1964 itu lama “hilang”. “Surat (balasan Sukarno) ini lama saya cari. Baru banget ketemu. Sujud syukur saya pas ketemu saat lagi cari buku lama. Dulu ya iseng saja kirim surat, tulisannya ya mengucapkan selamat ulang tahun,” sambungnya.

Namun suasana indah itu berubah seketika setelah G30S. Sebagai pelajar yang aktif, Tatang dan sahabatnya, Luhut B Pandjaitan, turut mendemo Bung Karno di Alun-Alun Kota Bandung dalam barisan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) Bandung.

“Sama Luhut, kita sama-sama satu sekolah di SMA Kristen BPPK Bandung. Waktu habis peristiwa itu (penculikan dan pembunuhan para jenderal), dia yang mimpin demo KAPI. Se-Indonesia, baru dia yang berani teriak-teriak, ‘Turunkan Sukarno!’ Sejak SMA memang sudah aktif berkegiatan orangnya,” kenang Tatang.

Sempat berpisah, Tatang “bereuni” lagi dengan Luhut di AKABRI. “Cuma penempatannya beda kompi tapi asrama kita berdekatan. Masih baik hubungannya sama saya. Kalau ketemu masih pakai bahasa Sunda: ‘Eh, kumaha sia’, hahaha…,” ujarnya sambil tertawa.

Di Lembah Tidar, Tatang sebagai taruna anyar ditempatkan di Batalyon Taruna C-3 Kompi 1 pimpinan Mayor Abi Umar. “Tapi kalau di luar jam dinas, ada yang namanya Kor dan yang Danyon Kor saya itu Sersan Mayor Hendropriyono. Hampir semua latihan dan hukuman itu bentuknya fisik. Sampai pikiran kita itu kosong dan di situlah dimasukkan kedisiplinan dan ilmu-ilmu kemiliteran.”

Dari empat tahun pendidikan, taruna Tatang lulus dengan nilai layak sehingga diambil lagi untuk pendidikan TNI AU. “Ujian terakhir itu namanya Pratangkas. Dari seluruh rangkaian sedari mulai masuk, diuji kembali. Kita disuruh lari lintas alam sambil mengikuti ujian-ujian di sejumlah posnya. Dari sekitar 1000 pendaftar pertama, sekitar 100 orang yang enggak lulus,” ingatnya.

Baca juga: Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis

Tak berapa lama kemudian, pengumuman hasil ujian itu keluar dengan cara unik. Para taruna yang terdaftar lulus, digojlok lagi pada malam setelah mereka ujian. “Bayangin, sudah badan sakit semua habis ujian, tengah malamnya dibangunin. Nama-nama yang dipanggil disuruh ikut lari lagi pakai beban. Dibilangnya kita dihukum karena kesalahan ini-itu. Padahal ngarang aja itu para senior. Selesai itu kita dibagi pangkat sersan taruna,” lanjut Tatang.

Marsda Tatang Kurniadi di masa pensiun (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Itulah cara para senior “melantik” para taruna yang lulus. Sementara, nama-nama yang tak dipanggil itulah yang ternyata tidak lulus. Selepasnya, sejumlah lulusan taruna itu mulai dibagi ke masing-masing matra. “Di situ enggak fair-nya. Yang nilainya bagus-bagus, diambilin Angkatan Darat (AD). Sisanya ya matra yang lain dan biasanya yang paling bawah nilainya diambil kepolisian,” sambungnya.

Di situ pula Tatang berpisah dengan Luhut. Bukti persahabatannya yang tersisa hanya tulisan tangan Luhut tentang kenang-kenangan di buku harian Tatang. Bunyinya, “Dalam melakukan sesuatu perbuatan, sebelum kau laksanakan, kau berpikirlah dua kali. Dan kau jangan sampai terperosok ke jurang kehancuran. Putra Tidar, Luhut Pandjaitan, Kopral Taruna.”

Melebarkan Sayap dalam Tugas

Selepas AKABRI, Tatang muda masuk ke sekolah penerbang TNI AU 17 Angkatan Elang 3 di Lanud Andir hingga lulus. Sebermula dari pilot pesawat DC-3 Dakota dalam Skadron II, Tatang lantas beralih ke helikopter. Ia turut dilatih Marinir Amerika untuk bisa bermanuver dengan heli hibah Sikorsky S-58T Twinpac yang ditempatkan di Wing Operasi 004 Skadron 6.

“Setelah peristiwa PKI itu kan kita dekat sama Amerika Serikat. Sementara heli-heli kita dari Soviet enggak boleh terbang lagi, dikirimlah (heli) bekas Vietnam (Selatan) Sikorsky. Banyak helinya tapi pilotnya enggak ada. Diambillah pilot-pilot dari Skadron Mig, Tu (Tupolev) serta saya dari Skadron Dakota,” tambahnya.

Di kokpit Sikorsky, Lettu Tatang turut dalam Operasi Dharmapala sebagai pilot Skadron 6 yang di-BKO-kan di Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat (Kalbar) dalam rangka pembasmian Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). “Tugas pengiriman logistik buat pasukan AD di pedalaman. Di sana saya juga sampai ganti lima panglima (kodam), walau tahun 1974 sempat diikutkan latihan combat survival di Johor, Malaysia,” kenang Tatang.

Kiprah Tatang berlanjut sebagai Dansatgas Lanud Jayapura. Pada 1988, dia dan anak buahnya turut mengamankan satu Pesawat Cessna Australia yang diduga menyuplai senjata untuk OPM (Organisasi Papua Merdeka). Pesawat ditemukan dalam keadaan ditinggalkan di wilayah Toma.

Pesawat Cessna Australia yang diamankan TNI AU dengan diangkut heli di Papua (Foto: Dok. Marsda Purn. Tatang Kurniadi)

“Mulanya ketika ada atase kedutaan kita di Papua Nugini (PNG) baca berita koran bahwa ada pilot Australia ditangkap polisi PNG karena lari menyeberang dari wilayah kita. Dari sana, dia mengontak BAIS (Badan Intelijen Strategis TNI), lalu BAIS mengontak saya. Jadi saya dan anak buah saya ditugaskan untuk memotret wilayah untuk menemukan itu dari Jayapura sampai Merauke, baru ketemu tiga bulan setelahnya,” tuturnya.

Pencarian lokasi pesawat itu baru menemui titik terang setelah anak buah Tatang mencurigai adanya sebuah rumah di ujung landasan Toma. Ketika rumah itu diperiksa, ditemukanlah Cessna yang disembunyikan itu. Tangki bahan bakar dalam keadaan dekok dan tertancap panah. Badan pesawat dicoreti tulisan “Pesawat ini milik OPM”.

“Sebenarnya kita ambil pesawat ini diam-diam. Australia juga tidak menanyakan karena kan berarti mereka melanggar. Kemungkinan untuk nge-drop senjata tapi pastinya Australia membantah. Di sana mereka laporannya hanya ada Pesawat Cessna sipil yang hilang. Dari Mabes AU perintahnya untuk dibawa. Kita bongkar dahulu untuk dibawa ke Tanah Merah pakai (heli) Puma. Dari Tanah Merah kita bawa lagi ke Jayapura pakai Pesawat Casa,” kata Tatang.

Dari Tim-Tim ke KNKT

Hanya gambaran menyedihkan yang terkenang oleh Tatang ketika mengingat hari-hari terakhir Timor-Timur (Timtim) sebelum lepas dari pangkuan RI. Kala itu, dia di-BKO-kan ke Tim-Tim sebagai Kadis Keselamatan Terbang dan Kerja TNI AU yang bertugas mengatur arus penerbangan. Penugasan itu bertolak dari pernahnya Tatang menjalani pendidikan flying safety di Southern California University pada 1979.

Tugas Tatang dititikberatkan pada mengontrol safety kesiapan sebuah operasi. Operasi yang diembannya pun bukan angkut personel atau alutsista tapi operasi pengangkutan dokumen, barang-barang berharga, termasuk kontrol arus pesawat Hercules dan Merpati yang membawa pengungsi dari Dili ke Kupang pada 1999.

Baca juga: Timor Timur Membangun Solidaritas Internasional

“Mulanya mereka (Australia) mau bikin jalur khusus Darwin-Dili agar tak perlu lapor. Tapi tidak begitu. Kita suruh lapor. Saya tegaskan ke Atase Militer Australia di Dili Terry Delahuntie, agar setiap pesawat yang masuk Dili Lapor ke Koops (Komando Operasi). Kalau tidak, saya beritakan kamu nge-drop senjata. Sejak saat itu turun semua pesawat mereka untuk kita periksa,” kata Tatang.

Tatang Kurniadi (kiri) saat turut menyambut Mayjen Cosgrove (Foto: Dok Pribadi Tatang Kurniadi)

Setelah Referendum, Panglima Interfet Mayjen Peter Cosgrove pun datang ke Dili jelang peresmian penyerahan keamanan Tim-Tim ke UNTAET (United Nations Transitional Administration in East Timor). “Pas datang, pasukan mereka dulu yang turun bikin perimeter di sekitar landasan. Kita ngelihatin aja, itu mereka ngapain serius banget, padahal kondisinya kan sudah kondusif waktu itu,” kata Tatang menerangkan dirinya saat mendampingi Panglima Penguasa Darurat Militer Jenderal Kiki Syahnakri menyambut Cosgrove.

Pendidikan Manajemen Sistem dan Investigasi Keselamatan Transportasi di Amerika pada 1979 itu juga membawa Tatang jadi ketua Komite Nasional Keselamatan Trasportasi (KNKT) pada 2007. Tugas itu diemban Tatang setelah tak lagi menjadi anggota DPR RI dari Fraksi ABRI, jabatan terakhirnya saat aktif di dinas militer, pada 2002.

Baca juga: Empat Burung Besi yang Dikandangkan

“KNKT itu yang mendirikan Profesor (Oetarjo) Diran. Pada 6 Maret 2007 saya diusulkan dari Mabes AU, besoknya dilantik. Dikiranya gajinya besar, ternyata hanya Rp3,5 juta. Selama menjabat saya enggak pernah cuti karena banyak pekerjaan yang harus kita hadapi. Kecelakaan Garuda (Indonesia) di Yogya dan Adam Air jadi kado penyambutan saya,” ujarnya.

Di KNKT, Tatang hanya punya lima investigator yang dipilihnya berdasarkan kepakaran di berbagai medan. “Saya ambil dari AD ada, dari polisi juga ada, dari orang kereta api, orang dinas perhubungan juga yang sudah pada pensiun tapi ahli semua. Untuk yang mengoordinir, saya ambil dari mantan kapuslabfor Polri yang pernah bongkar Bom Bali. Mereka yang pilih sendiri anak buahnya masing-masing. Ketika ada kecelakaan, saya koordinir mereka sebagai anggota KNKT, jadi KNKT itu responsif,” ungkap Tatang.

Berbagai kecelakaan pesawat di Indonesia sempat melahirkan sanksi dilarang masuknya pesawat Indonesia ke Eropa. Sambil membenahi KNKT, Tatang terus memperjuangkan dicabutnya larangan terbang itu. Ia memulainya saat turut merumuskan Nota Kesepahaman dalam Kerjasama Keselamatan dan Investigasi Kecelakaan Udara se-ASEAN pada 2012. Langkah itu dilanjutkan dengan masuk ISASI (International Society of Air Safety Investigators), yang belum dijalankan para ketua KNKT sebelum Tatang.

“Sejak 2006 itu kan banyak pesawat murah tapi safety-nya kurang, sampai banyak yang jatuh dan menarik perhatian dunia. Jadi responsifnya KNKT ini banyak yang enggak mengerti efeknya, di mana sebelumnya minim anggaran. Padahal kan berpengaruh bagi pasar angkutan udara,” ujar Tatang yang setelah melepas jabatan Ketua KNKT pada 2015 berkecimpung di Lembaga Veteran Republik Indonesia dan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) itu.

Baca juga: Pemburu dari Masa Lalu

Meski butuh tiga tahun, perjuangannya membangun kepercayaan kembali terhadap penerbangan Indonesia tak sia-sia. Maskapai penerbangan Indonesia kembali diizinkan masuk Eropa.

TAG

TNI-AU

ARTIKEL TERKAIT

Lika-liku Pesawat T-50 Hanandjoeddin Perintis di Tengah Keterbatasan Kapten Wisnu Celaka di Natuna Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI Seragam Batik Tempur Jajan Tahu Pakai Pesawat Mustang Peristiwa di Malang yang Terus Dikenang Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara AURI Ingin Membom Markas Kostrad? Juara di Udara