Masuk Daftar
My Getplus

Barisan Maling Beraksi

Barisan Maling dibentuk dr. Moestopo untuk menjalankan profesinya di wilayah musuh. Malah senjata makan tuan.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 15 Agt 2022
Pejuang Indonesia sedang berlatih pada masa revolusi kemerdekaan. (Wikimedia Commons).

Setelah bertugas kurang lebih tiga bulan dalam Divisi VI Kediri, Jawa Timur, Soehardiman mendapat kabar gembira. Dia terpilih untuk mengikuti pendidikan Militer Akademi (MA) di Yogyakarta. Pada Maret 1946, dia mengikuti ujian semester pertama. Dia lulus dengan nilai baik.

Setelah ujian semester, para kadet dibagi menjadi empat kelompok: kadet dari luar Jawa dikirim ke front luar Jawa; Kompi S dikirim ke Sarangan, Madiun, untuk mengikuti pendidikan SORA (Sekolah Olahraga dan Bahasa Asing) selama satu semester; dan Kompi T dikirim ke Semarang.

Sedangkan Kompi U dipimpin oleh Soehardiman tetap di Yogyakarta untuk mendalami teori-teori kemiliteran selama satu semester. Namun, kegiatan belajar tidak sesuai rencana karena mereka dikirim ke front di Jawa Barat.

Advertising
Advertising

Soehardiman bersama Subroto, Hari Suharto, dan Soegiono Sumedi, dikirim ke Subang. Sesampainya di sana, mereka disebar oleh Mayjen TNI dr. Moestopo ke dalam kelompok-kelompok kecil. Tiap kadet memimpin satu regu Pasukan Teratai yang ditempatkan di pos-pos terdepan seperti pos Maribaya, Tangkuban Perahu, Puncak Eurat, dan lain-lain. Soehardiman memimpin satu regu Pasukan Teratai di pos Puncak Eurat.

Baca juga: Kekejaman Barisan Macan Loreng

Dalam otobiografinya, Kupersembahkan kepada Pengadilan Sejarah, Soehardiman menjelaskan bahwa Pasukan Teratai sesungguhnya bukan tentara resmi seperti Tentara Rakyat Indonesia (TRI), tetapi kesatuan laskar perjuangan yang terdiri dari Barisan Maling dan Barisan WTS (wanita tuna susila) atau Barisan P (pelacur). Barisan ini dibentuk di Yogyakarta atas kesepakatan Sultan Hamengkubuwono IX dengan dr. Moestopo untuk membersihkan Yogyakarta dari maling dan WTS. Barisan Maling direkrut dari para pencuri dan narapidana yang dibebaskan dari penjara Yogyakarta

Sementara itu, buku 20 Tahun Indonesia Merdeka Volume 2 menyebut narapidana yang dibebaskan dari penjara Yogyakarta membentuk Barisan Bejo. Sedangkan narapidana dari penjara Sragen membentuk Barisan Macan dan narapidana dari penjara Malang membentuk Barisan Maling.

Barisan Maling juga dibentuk di Surabaya. Dengan persetujuan Ketua Pengadilan Mr. Indrakoesoema, W.O. Pohan mengorganisir narapidana Kalisosok menjadi Barisan Maling. “Barisan ini berada dalam pengawasan PRI (Pemuda Republik Indonesia) di bawah pimpinan Kasin, Kasbi, dan Senen,” tulis Barlan Setiadijaya dalam 10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia.

Baca juga: Barisan Jenggot Berbahaya

Markas Pertahanan Surabaya yang dipimpin oleh Mayjen TNI Sungkono juga membentuk Barisan Maling. Barisan di bawah Mat Osin ini dilatih oleh TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). “Sukarelawan ini menyusup kembali ke dalam kota dengan tugas sabotase dan mencuri peralatan musuh yang sangat diperlukan dengan hasil memuaskan,” tulis Barlan.

Sementara itu, Barisan Maling dan Barisan Pelacur yang dibentuk dr. Moestopo di Yogyakarta kemudian dibawa ke front Jawa Barat. Tugasnya mengacaukan musuh, menyelundup ke kota, dan melakukan sabotase. “Karena tugasnya yang penuh risiko itu mereka sering juga disebut sebagai barisan berani mati,” kata Soehardiman.

Soehardiman mengakui keberanian Barisan Maling. Misalnya, pada suatu hari, Barisan Maling mendapat misi mengambil bendera Belanda yang berkibar di gedung pengawasan bintang di Lembang. Di luar dugaan, ternyata esok harinya mereka berhasil membawa bendera Belanda.

“Entah bagaimana caranya mereka maling, yang jelas mereka telah kembali dengan membawa selembar bendera Belanda dan sebuah teropong pemandangan besar yang amat berguna bagi tugas-tugas kami mengamati daerah,” kata Soehardiman.

Baca juga: Aksi Barisan Berani Mati di Jakarta

Soehardiman bersama Barisan Maling juga berhasil melakukan sabotase dengan meledakkan jembatan di Cijambek dan jembatan di Cikidang dengan trekbom.

Selama di Puncak Eurat, Soehardiman dan Barisan Maling tidak terlibat pertempuran langsung dengan musuh. Yang sering terjadi mereka dihujani artileri musuh. Namun, pada suatu pagi yang masih berkabut, mereka diserbu serdadu Jepang. Untungnya ketahuan seorang anggota Barisan Maling. Sehingga mereka bisa melarikan diri untuk menghindari tembakan serdadu Jepang.

Sayangnya, Jaya yang sedang asyik menggoreng nasi, tertinggal dan tertangkap serdadu Jepang. “Bagaimana nasib selanjutnya kawan saya ini, kami tidak mengetahuinya,” kata Soehardiman.

Baca juga: Moestopo Sang Jenderal Nyentrik

Selain sebagai komandan Pasukan Teratai, Mayjen TNI dr. Moestopo juga menjabat Kepala Staf Komando Sektor Bandung Utara-Timur di bawah Komandan Sektor Letkol Sukanda Bratamanggala. Pada masa revolusi apa saja bisa terjadi termasuk Letnan Kolonel membawahkan Mayor Jenderal.

Menurut Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945–1949, Barisan Maling tidak bersenjata api, hanya bersenjata tajam. Tugas utamanya melakukan profesinya. Barisan Pelacur juga bertugas melakukan profesinya di kota Bandung untuk melemahkan moril tentara pendudukan, sekaligus menyebarkan penyakit kotor di kalangan tentara pendudukan yang memperlemah fisik mereka.

Dr. Moestopo memang suka membuat ide aneh-aneh. Secara teori, idenya masuk akal. Tetapi, dalam pelaksanaannya, malah senjata makan tuan. Adanya wanita pelacur di tengah-tengah prajurit yang kesepian di garis depan, sulit mengendalikan efek negatifnya. “Akibatnya, banyak prajurit kita sendiri yang terjangkit penyakit kotor,” tulis Moehkardi.

Baca juga: Senjata Makan Tuan

Begitu juga dengan Barisan Maling. Anggotanya memang berani menyelundup ke kota dan melakukan sabotase. Tetapi, di sisi lain, harta benda rakyat yang ditinggal mengungsi juga mereka sikat. Bahkan komandan pun jadi korban.

Suatu pagi, dr. Moestopo melaporkan kepada Bratamanggala bahwa koper pakaiannya hilang semalam. Bratamanggala malah tertawa. “Mengapa Overste (letnan kolonel) tertawa?” tanya dr. Moestopo.

“Siapa lagi yang mengambil koper jenderal kalau bukan anak buah jenderal sendiri? Bukankah itu namanya senjata makan tuan?” kata Bratamanggala.

Akhirnya, Barisan Maling dan Barisan Pelacur ditarik dari front karena dianggap lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

TAG

revolusi indonesia

ARTIKEL TERKAIT

Ibnu Hadjar, Pejuang yang Kecewa Mencari Kakak yang Ternyata Ikut Belanda Kapten Matheus Sihombing, Jago Revolusi dari Tapanuli Romusa Jadi Serdadu KNIL Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga Liku-liku Otto Abdulrachman Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja Belanda Membantai TNI dalam Pertempuran Titi Bambu Suradi Bledheg Si Bandit Gunung Nanlohy Bersaudara di Kapal Maut Junyo Maru