Masuk Daftar
My Getplus

Awak Artileri dalam Pertempuran 10 November "Tak Diakui"

Korps Artileri baru dibentuk pada 4 Desember 1945. Namun sejatinya dalam 10 November 1945 sudah ada penembak artileri Indonesia.

Oleh: Petrik Matanasi | 10 Nov 2023
Dengan persenjataan warisan Jepang, para pemuda di Surabaya banyak yang terlibat dalam pertempuran sebagai penembak artileri (IPPHOS)

SEBELUM 1940-an, Gumbreg bukanlah siapa-siapa. Kecuali kerabat, sanak-famili, dan kawan-kawannya, tak ada yang mengenal dia yang hanya seorang pelayan di sebuah kantor dagang di Surabaya. Yang dikenal dengan nama yang sama hanyalah Raden Mas Goembrek (1885-1968), seorang dokter di zaman Hindia Belanda yang ikut mendirikan Boedi Oetomo.

Namun setelah revolusi kemerdekaan pecah, Gumbreg yang kerap ditulis Gumbrek atau Gumbreg itu mulai memainkan peran untuk negerinya. Pemuda tersebut ikut mengorganisir diri ke dalam Barisan Berani Mati. Kendati dibekali pelatihan militer yang di bawah standar tentara pada umumnya, Gumbreg tetap harus sesiap tentara reguler dalam menghadapi perang yang tak bisa dihindari. Ia diharuskan belajar cepat.

Gumbreg berada dalam pasukan yang dipimpin oleh Adenan –– dan dengan pelatihnya Soebedjo. Menurut catatan Barlan Setiadijaya dalam 10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia, selain Gumbreg terdapat pemuda seperti Goemoen, Panoet, Niti, Madekan Sipin, Gatot, Sarilan, Bambang, Arsad, dan Marali. Mereka merupakan tenaga inti. Pasukan Adenan dibagi dalam 3 pasukan yang lebih kecil lagi. Sebelum 10 November 1945, Pasukan Adenan sudah berusaha melengkapi diri dengan senjata.

Advertising
Advertising

“Untuk melengkapi persenjatannya Adenan mengusahakan dari sisa persenjataan Jepang yang ada di Don Bosco, Jalan Tidar. Di tempat itu memperoleh 2 pucuk luchtdoel (penangkis serangan udara), sepucuk meriam howitser dan senapan-senapan ringan lainnya,” catat Barlan Setiadijaya.

Baca juga: Pemuda di Balik Senjata Berat dalam Pertempuran Surabaya

Namun tak semua senjata dari gedung sekolah Don Bosco itu dalam kondisi baik sehingga anak buah Adenan harus memperbaikinya. Usaha itu cukup berhasil. Termasuk Howitzer dan senjata penangkis serangan udara yang berguna untuk menembaki pesawat lawan. Para kombatan republik sudah menyadari bahwa militer Inggris di sekitar Surabaya tak hanya punya kapal perang dengan persenjataan artileri tapi juga bisa mengerahkan pesawat tempur.

“Regu Gumbreg dengan sepucuk luchtdoel artileri dan mitraliur ditempatkan di Wonokromo,” catat Barlan.

Ketiak akhirnya pertempuran dengan Inggris pecah, Gumbreg sebagai penembak menunjukkan kemahirannya menembaki pesawat udara Inggris dengan senjata penangkis udaranya. Pesawat Mosquito Inggris yang terbang bagaikan nyamuk pengganggu bagi para kombatan republik adalah sasaran tembak dari senjata yang dipegang Gumbreg.

Baca juga: Detik-Detik Menjelang Surabaya Dibombardir

Gumbreg berjuang berminggu-minggu di Surabaya. Posisinya tak hanya di Wonokromo. Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya menyebut pasukan Gumbreg beserta persenjataannya pernah bergerak ke Kenjeran lalu ke Gunungsari. Ketika berada di Gunungsari itu, tembakan-tembakan artileri pemuda macam Gumbreg itu telah memberi kerugian kepada Inggris. Akibatnya Inggris memberi serangan keras kepada pasukan tersebut sekitar 19-20 November 1945.

Gumbreg, disebut Bung Tomo dalam Bung Tomo, Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru, “kemudian terkenal sebagai penembak pesawat udara yang terkemuka di daerah pertempuran Surabaya—karena telah lebih dari 10 pesawat musuh yang terkena oleh tembakan-tembakan meriamnya.”

Begitulah kisah tentang Gumbreg dalam Pertempuran 10 November 1945 itu. Jago tembak Surabaya ini mati muda karena gugur dalam pertempuran. Gumbreg bukan satu-satunya pemuda artileri RI yang sohor di Surabaya.

Baca juga: Akhir Pertempuran Surabaya

Selain Gumbreg, setidaknya ada Letnan Minggu dan Letnan Anang Abdullah. Menurut Nugroho Notosusanto, Minggu adalah bekas artileris tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang tak hanya bisa menembakkan meriam tapi juga mengkordinir penembakan meriam. Minggu melatih pemuda dan memimpin sebuah batalyon artileri. Pada 1948, Mayor Minggu menjadi komandan batalyon artileri di Jawa Timur.

Sementara, Anang Abdullah punya reputasi yang tak kalah apik. Karena kegemilangannya di Surabaya, Anang mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Letnan menjadi Kapten di masa pertempuran itu.

Meski Gumbreg dkk. sudah menembaki pesawat-pesawat tempur Inggris di Surabaya, kesatuan artileri RI yang resmi dianggap belum terbentuk. Artikel “Korps Artileri Kita Merajakan Hari Santa Barbara” di Madjalah Angkatan Darat 1 Januari 1959 menyebut satuan artileri dalam militer RI baru dibentuk secara resmi baru pada 4 Desember 1945 di bawah Letnan kolonel Pratikno Soerjosoemarno. Di situ, pihak Angkatan Darat tak menyebutkan bagaimana para awak artileri RI di bawah pemuda macam Anang Abdullah, Minggu, dan Gumbreg sebelum 4 Desember 1945 sudah berjuang melawan tentara Inggris.*

TAG

pertempuran surabaya

ARTIKEL TERKAIT

Murid Westerling Tumbang di Jogja 73 Easting, Tarung Kolosal Tank di Perang Teluk Ajudan Menhan Curi Perhatian JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Merpati Terbang untuk Perang Kisah Kaki Prabowo Muda Pelaut Madura dalam Sejarah Indonesia Jenderal-jenderal Madura Armada Portugis Membuka Gerbang Dominasi Asia Arief Amin Dua Kali Turun Pangkat