Masuk Daftar
My Getplus

Angling Dharma, Tokoh Nyata atau Rekaan?

Beberapa daerah mengklaim memiliki petilasan Angling Dharma. Padahal, ada yang meyakininya tokoh rekaan.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 04 Agt 2018
Petilasan Angling Dharma di Bojonegoro. (Mawan Sidarta/Kompasiana).

LEGENDA berkisah Prabu Angling Dharma dilahirkan oleh Pramesti, putri Jayabaya. Sementara Jayabaya merupakan putra Gendrayana, cucu Yudayana dan cicit Parikesit. Silsilahnya jika ditarik sampai ke tokoh Mahabharata: Abimanyu, ayah Parikesit dan Arjuna, kakek Parikesit. Dia bertakhta di Kerajaan Malawapati.

Bagi banyak orang, kisah Angling Dharma bukan legenda. Beberapa daerah, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, percaya tokoh itu pernah hidup di masa lalu. Misalnya, di daerah Pati, Jawa Tengah, terdapat makam yang diyakini tempat peristirahatan Angling Dharma. Letaknya di Desa Mlawat, Kecamatan Sukolilo. Nama Mlawat mirip Malawapati, kerajaan Angling Dharma. Dua kilometer dari sana, di Desa Kedung Winong, Kecamatan Sukolilo, diyakini terdapat makam Patih Batik Madrim, tokoh dalam kisah Angling Dharma.

Tak hanya daerah Pati, di Bojonegoro juga terdapat Situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kalatidu, yang dipercaya sebagai petilasan Angling Dharma. Lebih dari itu, Angling Dharma sempat diwacanakan menjadi ikon Kota Bojonegoro. Sampai-sampai tulisan di gapura perbatasan berbunyi: Selamat Datang di Bumi Angling Dharma. Tim kesebelasan kota itu, Persibo, juga punya julukan Laskar Angling Dharma.  

Advertising
Advertising

Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar Sejarah Universitas Negeri Malang menjelaskan, sebelum berkembang kisahnya di berbagai daerah, Angling Dharma muncul lebih dulu dalam sastra lisan pada masa Hindu-Buddha.

“Yang menarik kemudian muncul klaim setting area untuk daerah-daerah tertentu. Dalam kisah yang kini dikenal luas, misalnya ada yang disebut Negara Boja atau Bojanagara, yang kemudian dianggap sebagai toponimi daerah yang kini dikenal dengan Bojonegoro,” ujar Dwi lewat sambungan telepon.

Penyebutan tokoh Jayabaya di kisah itu mengingatkan pada Sang Mapanji Jayabhaya, penguasa Kadiri yang memerintah pada 1135-1157 M. Dia naik takhta menggantikan Bameswara. Tak banyak keterangan soal asal usulnya. Selama memerintah 22 tahun, baru tiga prasasti yang sampai pada hari ini. Kabarnya, dia menjadi raja setelah merebut hak naik takhta dari kakaknya yang putra mahkota.

Pertanyaannya, apakah Angling Dharma tokoh sejarah? Apakah dia berhubungan dengan sejarah Kadiri, khususnya Jayabaya?

Dwi sepakat bahwa kemungkinan tradisi lisan kisah Angling Dharma sudah ada sejak sebelum Majapahit. Versi tertulis berjudul Ari Dharma dan adaptasi ke dalam relief candi baru muncul pada era Majapahit. Namun, tak semua karya sastra mengabadikan peristiwa historis. Penokohannya juga tak mesti selalu ada dalam dunia nyata. Sastra jenis kidung yang berkisah tentang tokoh historis misalnya Kidung Ranggalawe dan Kidung Sorandaka.

“Dalam pengisahannya itu juga ada bias. Ada tambahan pengurangan, bias dari fakta untuk dramatika,” kata Dwi.

Apalagi hingga kini dikenal banyak versi naskah tentang Angling Dharma. Menurut Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit, Angling Dharma sekarang adalah versi Bahasa Jawa Modern dari kidung bahasa Jawa Pertengahan berjudul Aji Dharma. Kisah yang kemudian berkembang itu tak lagi bisa dikorelasikan dengan kisah yang terpahat dalam relief candi. 

“Saya tidak tahu, kenapa bisa jadi perubahan itu. Saya tidak melihat apakah itu merujuk pada arti harfiah yang sama,” ujar Dwi.

Tokoh Rekaan

Dwi meyakini Angling Dharma hanyalah tokoh rekaan. Namun, meski tokohnya fiktif, nama tempat, geografis ekologis, jenis tanaman, sungai, dan laut, tetap mencerminkan kondisi nyata pada masa itu. Ia juga sah dianggap sebagai gambaran sosial dan budaya ketika sastra itu ditulis.

“Itulah kenapa susastra tetap bisa dijadikan sumber. Tidak untuk memfaktualkan tokoh fiktif. Tokoh bisa rekaan, namun kisahnya bisa saja memang kisah faktual,” kata Dwi.

Jika karya fiksi itu kini dianggap seolah faktual, itu wajar. Pasalnya, dia begitu memasyarakat. Itulah, menurut Dwi, mengapa kemudian ada pelokalan atau pengkaitan kisah dengan wilayah tertentu.

“Bahkan ada kadang-kadang yang mengatakan, tradisi lisan asal usul daerah itu tergambar di Angling Dharma,” ujar Dwi.

Pun jika kemudian dihubungkan dengan Jayabaya. Menurutnya, ini merupakan penjelasan yang ditambahkan kemudian. Soalnya, dalam tradisi sebelumnya, Angling Dharma tak dikenal asal usulnya.

“Di kisah ini tidak disebut anak siapa, dari raja mana, baru kemudian pada perkembangan selanjutnya dicantolkan dengan Jayabaya. Ya, itu wajar saja, Jayabaya kan raja yang begitu dikenal orang Jawa,” kata Dwi.

Begitu juga soal keberadaan Kerajaan Malawapati. Tanpa ada bukti yang jelas, kerajaan itu pun bisa jadi hanya rekaan. Kalaupun ada tempat yang mirip namanya, kemungkinan hanya meminjam dari kisah Angling Dharma yang sudah begitu dikenal.

“Bisa saja kisahnya terkenal dulu, baru kemudian desa-desa itu meminjam nama-nama dalam sastra yang sudah terkenal,” kata Dwi.

Makna Ari Dharma

Dwi mengatakan kisah Angling Dharma hingga bisa diminati seperti sekarang ini karena keragaman tokohnya. Terutama karena berkaitan dengan cerita binatang. Buktinya, kisah tantrik atau cerita hewan banyak dijumpai sebagai relief dinding candi karena memang disukai pada masanya.

Pesan yang terkandung dalam cerita Angling Dharma juga dalam. Tentang kesetiaan dan dharma.

“Biasanya yang setia itu istri, tapi ini tidak. Ia (Angling Dharma, red.) laki-laki yang setia pada istri. Dia ingin ikut mati ketika istrinya mati. Setelah istrinya meninggal, dia bahkan hanya akan mencari wanita yang mirip dengan almarhum istrinya, Satyawati,” jelas Dwi.

Dari segi bahasa, ari artinya adik, jika diambil dari judul awalnya, Ari Dharma. Menurut Dwi, ari seperti sebutan suami kepada istrinya. Kebiasaan ini dibuktikan oleh keterangan di Prasasti Muncang dari masa Mpu Sindok pada 866 saka (944 M). Disebutkan istri yang merupakan putri dari raja sebelumnya, Wawa, disebut ari parameswari dyah kepi

"Ada kata ari' di sana. Ini sebutan Mpu Sindok untuk istrinya, Dyah Kbi," jelas Dwi.

Adapun dharma artinya ajaran. Dengan demikian, menurut Dwi, tokoh ini tengah memberikan tuntunan mengenai dharma suami kepada istri termasuk kesetiaan seorang suami kepada pasangannya. 

"Nampaknya kisah tuntunan. Tokoh ini bukan nama diri. Ini nama sebutan. Tokoh kisah yang memberikan tuntunan, kesetiaan suami," kata Dwi.

Di luar itu, kisah ini terbukti mampu melintasi zaman. Ceritanya tak sarat dengan bahasa-bahasa agama, tapi lebih kepada hubungan sosial manusia. Ketika Islam berkembang pun, cerita ini tetap diminati. Bahkan, bentuknya tak lagi literer dan visual, tapi seni pertunjukkan.

“Nilai-nilainya universal. Jadi mampu melintas zaman,” ucap Dwi.

Baca juga: Siapa Sebenarnya Angling Dharma?

TAG

Majapahit Angling-Dharma Jayabaya Pati Bojonegoro

ARTIKEL TERKAIT

Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Naskah Pegon Tertua di Jawa Memahami "Preman" yang Diberantas Gajah Mada Hikayat Putri Cempa dan Islam di Majapahit Bencana Gunung Api Menghantui Majapahit Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit Blambangan dan Kuasa di Ujung Timur Jawa Menak Jingga yang Ganteng Emas Kegemaran Bangsawan Jawa