Masuk Daftar
My Getplus

Wareg di Warteg

Warteg, tempat bersantap untuk kaum berkantong pas-pasan. Murah dan wareg (kenyang).

Oleh: M.F. Mukthi | 18 Des 2021
Warung Tegal (warteg) di Jalan H. Nawi, Jakarta. (Nugroho Sejati/Historia.id).

Lebih dari 20 macam masakan berjajar rapi di etalase. Mulai sambal, beragam gorengan, hingga sayuran. Makanan itu merupakan menu rutin yang dijual sebuah warung Tegal (warteg) tak bernama di Jalan Madrasah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Bu Haji, demikian pelanggan warteg memanggil si pemilik, memasak sendiri seluruh hidangan itu. “Habis solat subuh [memasaknya], sama anak,” ujarnya kepada Historia. Bersama anaknya pula, Bu Haji melayani pembeli dari pagi hingga menjelang tengah malam.

Bu Haji sudah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun. Dia mengontrak sebuah bangunan milik orang Betawi. Sebagaimana para perantau asal Tegal lainnya, ibu paruh baya itu bersama keluarganya memilih mengadu nasib di ibu kota dengan membuka usaha warteg.

Advertising
Advertising

Warteg menjadi pemandangan umum di kota Jakarta. Ia mudah ditemukan di sudut-sudut kota. Karena harganya terjangkau, kala jam makan tiba, ia diserbu pembeli. Dari sopir angkot, mahasiswa, hingga karyawan.

Dari Jualan Gorengan

Kemunculan warteg berkaitan dengan hasrat orang Tegal untuk memperbaiki nasib. Kebanyakan berasal dari Desa Cabawan, Sidakaton, Krandon, dan Sidapurna. Di kampung, penghasilan mereka dari bertani atau beternak tak lagi mencukupi untuk menghidupi keluarga.

Situasi politik dan keamanan juga ikut memberi andil. Pasca Proklamasi kemerdekaan, gerakan sosial di bawah pimpinan Kutil (Syachjani) muncul di Brebes, Tegal, dan Pekalongan yang dikenal dengan Peristiwa Tiga Daerah. Selesai Gerakan Kutil, keadaan tak juga membaik. Tegal digoncang DI/ TII Amir Fatah.

Maka, mereka merantau ke Jakarta. Mula-mula kerja serabutan, begitu memiliki modal, mereka mendirikan warung makan –yang kemudian, entah sejak kapan, disebut warteg. “Umumnya berawal dari jualan kue podeng atau goreng-gorengan, dari mulai singkong sampai tahu dan tempe,” tulis majalah Warnasari, Mei 1991.

Baca juga: Awal Mula Orang Nusantara Mengenal Gorengan

Salah satu perintis warteg di Jakarta adalah Warno. Mulanya dia kerja serabutan. Lalu dia mulai berjualan makanan keliling. “Maklum, Jakarta zaman dulu tak sepadat dan seramai kini,” tulis majalah Panji Masyarakat, Agustus 1994. Dia kemudian mendirikan warung sederhana, beratapkan tenda, tak jauh dari tempat tinggalnya di Kemayoran, Jakarta, pada 1948.

Pada masa jayanya, tahun 1950-an, setiap harinya Warno bisa menjual sekuintal singkong goreng. Warungnya kemudian berkembang menjadi warung nasi, yang diikuti saudara dan anak-anaknya.

“Semua saudaranya dan 13 orang anaknya juga berusaha di bidang perwartegan. Beberapa di antara anaknya lahir di warungnya,” tulis Tempo, 5 Februari 1983.

Baca juga: Satu Nusa Soto Bangsa

Perintis warteg lainnya adalah Karsiwan. Dia membuka warung di Grogol sejak menjelang masa pendudukan Jepang. “Meskipun keluarga kami tinggal di Jakarta sejak 1943, kami tak pernah menetap sebagai penduduk. Di sini kami cuma menumpang kerja dan tidur. Sebulan sekali atau dua kali kami balik ke Tegal,” ujar Rasban Tegal, dikutip Tempo.

Untuk menjalankan usaha, pemilik warteg biasanya melibatkan keluarga, dari anak-istri hingga sanak-saudara. Mereka kemudian ikut-ikutan mendirikan warteg.

Pramusaji warteg. (Nugroho Sejati/Historia.id).

Klangen

Pada 1970-an, Jakarta mulai bersolek. Proyek-proyek pembangunan kota dijalankan, dari Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, hotel-hotel internasional, jalan tol, hingga hiburan malam. Arus urbanisasi pun mengalir deras, termasuk dari Tegal. Sebagian dari perantau asal Tegal ini membuka warung di tempat mangkal para pekerja bangunan, pabrik, maupun di pinggir-pinggir jalan. Warteg adalah penyelamat bagi mereka yang dilanda lapar tapi berkantong pas-pasan.

“Tetapi yang paling tidak menarik dari warung nasi Tegal adalah pada joroknya. Air cucian piringnya saja telah mengganggu banyak pada hidup berkota. Dan para hostessnya sehabis menggaruk-garuk ketiaknya akan sigap sekali mengambil sepotong tempe buat Anda,” tulis Ekspres, 1 Februari 1970.

Baca juga: Pecel Lele, Bisnis Ikan Berkumis

Sejumlah sastrawan pun mulai menyebut keberadaan warteg. Ambil contoh Putu Wijaya. Dalam novel Stasium (1977), Putu menempatkan si tokoh, lelaki tua yang hidupnya hampa, berkhayal di sebuah warung Tegal; menyeruput secangkir kopi, mengunyah tempe goreng, dan memesan telor sembari berbincang.

Demikian pula Anjar S. dalam novel Dalam Tiga Petualang Cacad (1977). Tatang yang berpetualang di Jakarta singgah ke sebuah warung nasi Tegal lalu memesan nasi. “Cara menjual ialah, hanya nasi disiram sayur saja. Lauk-lauk boleh pilih sendiri menurut selera masing-masing pembeli. Tersedia di meja itu gorengan-gorengan.”

Salah satu ciri dari warteg adalah teh poci, yang juga menjadi trade mark kota Tegal. Putu Wijaya dalam cerpen “Sama” di majalah sastra Horison, September 1978, menyinggung aktivitas nongkrong di warung Tegal untuk meneguk teh poci sembari mempercakapkan anekdot-anekdot.

Sayang, keberadaan teh poci perlahan menghilang karena sepi peminat. “Kini langganan warteg jarang yang menanyakan teh poci, tapi langsung membeli nasi dan lauk pauknya,” tulis Warnasari.

Baca juga: Menusuk Sejarah Sate

Kendati warteg menjual makanan dengan harga terjangkau, hasil yang didapat pemiliknya tak bisa dipandang sebelah mata. Di Sidakaton, misalnya, bukanlah pemandangan aneh melihat rumah-rumah mewah. Bahkan banyak media ibu kota menjuluki Sidakaton sebagai “Pondok Indah”-nya Tegal.

“Biasanya setelah berhasil, mereka naik haji. Anak-anak mereka mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Kiat usaha mereka, amat hemat dalam pengeluaran uangnya,” tulis Warnasari.

Kisah sukses itu menggoda orang Tegal lainnya, bahkan dari daerah sekitarnya, untuk membuka warteg di Jakarta dan kota-kota lainnya. Namun hidup di kota besar seperti Jakarta tak selalu indah. Banyak warteg menjadi sasaran kejahatan.

Pada 1981, sebuah warteg di Tanjung Priok milik anak perempuan Warno diobrak-abrik preman. Hal itu mendorong Rekso Slamet Sastoro, anak Warno yang memiliki tiga warteg, menginisiasi pembentukan Koperasi Warung Tegal (Kowarteg) pada Desember 1982. Sastoro pula yang didapuk sebagai ketua. Belakangan, selain Kowarteg, pelaku usaha warteg bernaung di bawah Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) dan Forum Koperasi Warteg Jaya.

Baca juga: Dari Tangan hingga Prasmanan

Hingga kini, warteg masih menghiasi kota. Pembelinya pun kian beragam. Jika Anda mengunjungi warteg Jadi Jaya, yang lebih dikenal dengan sebutan Warmo alias warung mojok, Anda akan menemukan sajian makanan yang beragam, dengan pembeli necis dan wangi.

“Warteg merupakan bisnis yang amat menguntungkan, berjalan di sepanjang musim. Ia tak pernah kehilangan pelanggan, meski di musim hujan,” tulis buku Small Business Profile in Indonesia terbitan Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil.

Warteg menjadi jawaban bagi masyarakat urban yang butuh makan yang murah tapi wareg (kenyang).

TAG

kuliner

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Sejarah Bubur Cikini Mencicipi Sejarah Soto Betawi Gurihnya Sejarah Cah Kwe Rijsttafel, Harmoni Eropa-Nusantara dalam Budaya Makan Nasi dalam Centhini Pekatnya Riwayat Cokelat Tak Ada Beras, Gandum pun Jadi Lima Cerita Ringan Sukarno Hanandjoeddin dan Sejuta Pesona Pariwisata Belitung Kisah Chicken Kiev untuk Jenderal Moersjid