Masuk Daftar
My Getplus

Villa Isola, dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

Villa Isola diklaim sebagai tempat lahirnya NATO hingga dijadikan tempat kegiatan Sunda Empire. Bagaimana sebenarnya sejarah gedung ini?

Oleh: Risa Herdahita Putri | 26 Jan 2020
Villa Isola di Bandung, sekira tahun 1933. (Wikipedia).

Belum lama ini beredar video yang merekam kegiatan kelompok Sunda Empire di taman dekat Villa Isola, Bandung. Dalam tayangan Indonesia Lawyer Club, Rangga Sasana, salah seorang petinggi Sunda Empire mengklaim kalau Isola adalah tempat lahirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia sendiri mengaku menjabat sebagai The Heeren Zeventien atau Panitia 17 di kekaisaran itu.

“Isola itu apa tadi? Itu salah, memang benar isola itu International Soldier Leader. Itu lahirnya NATO di sana. Itu artinya belum mengenal sejarah,” katanya membantah pernyataan Roy Suryo dalam acara yang sama.

Sebelumnya, KRMT Roy Suryo sebagai kerabat Pakualaman dalam diskusi itu menjelaskan kalau Villa Isola dibangun pada 1933 oleh Willem Barretty. Bangunan ini dibangun untuk mengisolasi penggunanya.

Advertising
Advertising

“Dia orang yang agak introvert. Makanya ditulis dalam ruangannya dulu m’isolo e vivo, artinya dia mengisolasi dirinya sendiri. Bukan kemudian diterjemahkan menjadi International Soldier and Leader of the World. Ini pikiran yang menurut saya terlalu berlebihan,” ujarnya.

Dominic Willem Berretty adalah pemilik pertamanya. Seorang Indo-Eropa yang terkenal di masyarakat Hindia Belanda. Ayahnya keturunan Italia-Prancis. Ibunya keturunan Jawa di Yogyakarta.

Baca juga: Ketika Wolff Schoemaker Masuk Islam

Menurut C.J. van Dullemen dalam Arsitektur Tropis Modern: Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker, sebagai raja surat kabar yang kaya raya, Berretty suka berkelahi dan “juara dalam seni halus membuat musuh. Karenanya dalam masyarakat Hindia Belanda yang penuh gosip, Berretty sering merasa harus mundur dan mempertahankan diri.”

Maka, tepat ketika di dinding di atas aula Villa Isola diukir moto Italia berbunyi M’isolo e Vivo. Artinya saya mengisolasi diri saya sendiri dan kehidupan.

“Ciri ini tercermin dalam penampilan vila. Hal ini semakin ditekankan oleh moto Italia itu dan nama vila yang berasal dari bahasa Italia, ‘Isola’, artinya ‘pulau’,” jelas Dullemen.

Dari sisi gaya, Villa Isola menarik sebagai sebuah kreasi Art Deco bergaya ramping. Ia lebih mirip Gedung Amerika dibanding Indonesia maupun Belanda. Sayangnya, demikian terkenalnya Berretty, nama arsitek pembangun Villa Isola justru tak diketahui. “Terdapat kekosongan dalam sejarah arsitektur karya para arsitek Belanda di Hindia Belanda, dengan kata lain arsitektur kolonial,” tulis Dullemen.  

Baru pada 1984, Dullemen menemukan sebuah artikel tentang Berretty dalam sebuah edisi mingguan Belanda, Panorama. Di dalamnya, C.P. Wolff Schoemaker disebut sebagai arsitek Villa Isola. Pencarian Dullemen ternyata tak mudah. Rumah dan Studio Wolffman jadi korban pengrusakan para pejuang selama periode revolusi yang kacau seusai Jepang menyerah. Gambar-gambar Villa Isola pun hangus menjadi abu akibat kebakaran yang menghancurkan rumahnya.

Perancang Misterius

Bagi Charles P. Wolff Schoemaker (1882-1949), Villa Isola bisa dibilang merupakan salah satu penugasan paling sulit dan banyak dipublikasikan. Menurut Dullemen, Wolff Schoemaker merupakan salah satu arsitek Belanda yang paling penting dalam memodernisasi lanskap perkotaan di Indonesia masa kolonial. Selain Villa Isola, karya terkenalnya adalah Gedung Jaarbeurs dan Grand Hotel Preanger di Bandung.

Wolff Schoemaker lahir di Indonesia dan dilatih sebagai arsitek di Belanda. Kariernya dimulai dengan menjadi insinyur militer di Hindia Belanda. Kemudian ia menjadi kepala Departemen Pekerjaan Umum Batavia.

Wolff Schoemaker bersama saudaranya, Richard Schoemaker, membuka biro arsitektur pada 1918. Namun, enam tahun kemudian perusahaannya ditutup. Ia sepenuhnya menjadi profesor arsitektur Technische Hogeschool di Bandung (sekarang menjadi ITB), di mana salah satu mahasiswanya adalah Sukarno.

Baca juga: Kisah Hubungan Sukarno dan Dosennya

Sembari mengajar, Wolff Schoemaker terus bekerja sebagai arsitek independen. Karya-karyanya yang paling terkenal berasal dari periode ini.

 “Apa yang akhirnya membuatnya menjadi orang buangan dari komunitas Eropa adalah persahabatan abadinya dengan Sukarno, yang bahkan berlanjut setelah Proklamasi kemerdekaan,” catat Dullemen.

Wolff Schoemaker dan Berretty cukup lama saling mengenal. Pada awal 1920-an, keduanya bertugas dalam komite yang terlibat dalam pendirian Jaarbeurs Bandung.

“Hindia Belanda dapat diibaratkan sebagai sebuah desa besar yang di dalamnya semua orang saling mengenal,” jelas Dullemen. “Mudah membayangkan pada suatu pagi Berretty mampir ke kediaman Wolff dan menyampaikan rancangannya.”

Villa Isola terlihat dari atas, sekira tahun 1937. (Wikipedia).

Ambisi Berretty

Berretty awalnya sedang mencari tanah untuk membangun sebuah bungalow sederhana di antara Bandung dan Lembang. Ambisinya melahirkan Villa Isola hingga hampir membuatnya menjadi pengemis.

“Gosip jahat mengaitkan gedung dengan fakta bahwa Berretty telah menjual dirinya sendiri kepada orang Jepang,” jelas dia.

Pada Maret 1933, Vila mulai dibangun oleh biro Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA) yang juga membangun Koloniale Bank di Surabaya. Gedung itu telah siap pada Desember 1933.

Villa Isola tak sekadar tempat rekreasi bagi keluarga Berretty. Karena jaraknya tak terlalu jauh dari Batavia, vila itu juga menyediakan ruang kerja baginya yang gila kerja dan hunian bagi sekretarisnya.

Baca juga: Bandung Ibukota Kerajaan Belanda?

Karena megahnya, vila itu kemudian sering disebut istana. Dana untuk membuatnya juga tak sedikit, mencapai 500.000 gulden. “Jumlah ini tegolong luar biasa besar kala itu, khususnya di daerah koloni,” kata Dullemen. “Sebagai perbandingan, total kontrak untuk Grand Hotel Preanger adalah 325.000 gulden.”

Kendati begitu, Berretty tak bisa lama menikmati vila ini. Dia hampir bangkrut ketika vila selesai dibangun. Alasan itu juga yang mendorongnya pergi ke Eropa untuk mencari kesempatan baru. Namun, nasibnya nahas. Ia sebenarnya ingin tiba di Bandung ketika Natal pada 1934. Namun, pesawat Uiver yang membawanya pulang tak pernah tiba di Batavia. Pesawat itu terjebak di badai pasir hebat dekat Baghdad, lalu jatuh di padang pasir. Semua penumpangnya tewas.

Berubah-ubah Fungsi

Sepeninggal Berretty, Villa Isola dibeli pemilik Hotel Savoy Homann. Vila ini diubah menjadi pavilion mewah dengan nama Hotel Isola. Tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II, villa itu diambil alih pemerintah. Ia digunakan sebagai markas besar Mayor Jenderal Pesman, Komandan Divisi Angkatan Darat Bandung.

“Villa Isola kabarnya terkena ledakan bom, ketika terjadi pertempuran hebat di sisi utara Bandung dalam hari-hari terakhir sebelum kapitulasi,” jelas Dullemen.

Jepang pernah beberapa kali meminta gambar Villa Isola kepada Wolff Schoemaker. Rencananya mau direnovasi untuk akomodasi seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Tapi tak jadi. Villa Isola terbengkalai selama tahun pertama pendudukan Jepang. Akhirnya, pada 8 November 1943 gedung ini dibuka oleh pasukan Jepang dengan upacara besar sebagai museum perang dan kemenangan Jepang.

Baca juga: Perempuan dalam Perang Kemerdekaan di Bandung

Villa Isola kemudian sempat dipakai untuk Kongres Pemuda pada 16-18 Mei 1945. Menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada, Suhartono W. Pranoto, dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi, sekira 300 pemuda datang dari kota-kota di Jawa ke tempat itu untuk mendiskusikan politik sehubungan dengan menurunnya kekuatan militer Jepang di medan Pasifik.

“Tak diragukan lagi kongres ini adalah atas prakarsa Angkatan Muda Bandung di bawah pimpinan Jamal Ali, Hamid, dan M. Tahir,” tulis Suhartono.

Setelah Proklamasi kemerdekaan, gedung itu direstorasi sepenuhnya. Ia kemudian digunakan sebagai markas besar Divisi Siliwangi. “Nama Bumi Siliwangi masih dapat dilihat pada fasad,” kata Dullemen.

Alwin Suryono, pengajar arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dalam “Conservation of Dutch Colonial Architecture Heritage on Rectorate Building of Education University of Indonesia in Bandung” termuat di Journal of Basic and Applied Scientific Research 2013, menjelaskan pada 1954, Villa Isola kemudian difungsikan sebagai kampus Universitas Pendidikan Guru. Saat itu dilakukan perbaikan bangunan. Ruang interior dan lantai atap diubah, disesuaikan dengan ruang kuliah. Lalu pada 1996, gedung itu difungsikan sebagai kantor rektor.

“Bangunan ini lebih bermakna sebagai tempat tinggal yang bisa melihat pemandangan alam sekitar, cocok bernama Villa,” tulis Alwin.

Di atas segalanya, menurut Dullemen, Villa Isola adalah sebuah kendaraan yang ingin digunakan Berretty untuk membuat orang-orang di sekelilingnya terkesan: “Berretty ingin menunjukkan bahwa walaupun dia adalah seorang Indo-Eropa, dia dapat melampaui posisi yang dikhususkan untuk kelompok ini.”

TAG

arsitektur wolff schoemaker

ARTIKEL TERKAIT

Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor Gedung Bappenas Bekas Loji Freemason Arsitek Indonesia Pertama yang Sejajar Eropa Jejak Keberagaman Bangsa di Sam Poo Kong Raja Sriwijaya Membangun Taman Kota Ketika Arsitek Belanda Masuk Islam Sejarah Gedung Mahkamah Konstitusi dan Medan Merdeka Barat God Bless di Mata Roy Jeconiah Eksil, Kisah Orang-orang yang Terasing dari Negeri Sendiri Jenderal Orba Rasa Korea