Masuk Daftar
My Getplus

Sebelum Hari Moekti Gabung HTI

Jauh sebelum ikut HTI, Hari Moekti pernah dibaiat Jamaah Imran yang membajak pesawat Garuda Woyla. Dia diselamatkan ayahnya bahkan kemudian tersohor sebagai rocker.

Oleh: Petrik Matanasi | 27 Jul 2022
Hari Moekti sebagai tokoh HTI. (Facebook Hari Moekti).

Sebelum 1990-an, Hariadi Wibowo alias Hari Moekti dikenal sebagai penyanyi rock, dan setelah 1990-an dia dikenal sebagai pendakwah. Dia sudah lama hijrah, jauh sebelum hijrah menjadi tren seperti sekarang.

Hari Moekti dikenal sebagai tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dia menjadi ustad dan aktif berdakwah. Popularitasnya tak membuatnya aji mumpung untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Agama bukan mainan politik baginya.

“Jangan gunakan ajaran agama untuk menipu umat karena balasan dari Allah akan sangat pedih,” kata Hari Moekti seperti dicatat Salman Iskandar dalam 99 Tokoh Muslim Indonesia. Laki-laki kelahiran kota tangsi Cimahi, 25 Maret 1957 ini lebih memilih ketenangan dengan jauh dari dunia politik.

Advertising
Advertising

Baca juga: Obituari: Perginya Hari Moekti Sang Rocker Kutu Loncat

Soal ketenaran, Hari Moekti sudah kenyang pada masa mudanya. Waktu berkiprah di kancah musik rock, dia terkenal dengan lagu-lagunya antara lain Ada Kamu, Satu Kata, Apel Pertama, dan lainnya. Perjalanan kariernya tidak instan. Masa mudanya juga penuh dengan gejolak seperti musik rock. Sejak remaja dia suka teriak-teriak. Dia mulai menyanyi dari kampung ke kampung.

Rupanya waktu baru lulus SMA, seperti dicatat majalah Matra, November 1994, Hari Moekti nyaris ikut dalam kelompok garis keras Jamaah Imran yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein. Namun, ayahnya yang anggota Korps Baret Merah Angkatan Darat (Kopassus) mencium gelagat bocah badung yang tak bisa diam ini.

Baca juga: Jamaah Imran Mencari Senjata

Hari Moekti dibaiat di Masjid Salman, Bandung, jauh sebelum Jamaah Imran menjadi musuh pemerintah. Pada 1981, pengikut Jamaah Imran membajak pesawat Garuda Woyla. Pesawat itu digiring ke luar negeri namun berhasil dilumpuhkan oleh tim Kopassus yang kala itu bernama Kopassandha. Ketika pembajakan itu terjadi, Hari Moekti sudah tidak berkaitan lagi dengan Jamaah Imran.

Hari Moekti diselamatkan ayahnya. Dia dikirim ke tempat kakaknya di Semarang. Di sana, dia bekerja sebagai room boy di Patra Jasa Hotel. Namun, pekerjaan itu tidak lama dilakoninya.

“Saya berhenti kerja dari hotel itu bukan lantaran menganggap pekerjaan tersebut hina. Tapi karena saya ingin dan merasa punya bakat menyanyi,” kata Hari Moekti kepada Matra.

Baca juga: Ada Intel di Jamaah Imran

Hari Moekti kemudian menjadi penyanyi di sebuah pub di Semarang. Kiprah awalnya sebagai penyanyi tidaklah buruk. Kala itu dia masih suka mabuk dan berkelahi. Dia pernah ditusuk dan ditodong pistol. Meski anak kolong, dia ternyata penakut.

Hari Moekti kembali ke Bandung pada 1980 lalu mendirikan New Bloody. Pada 1982, dia ke Jakarta dan bergabung dengan Makara Band. Pada 1985, dia pernah bernyanyi untuk Krakatau. Dia kemudian bergabung dengan Spirit Band setelah ikut festival lagu populer pada 1987 dengan membawakan lagu Kegelapan. Dia terkenal setelah masuk dapur rekaman dengan lagu Ada Kamu.

Baca juga: Target Pembunuhan Jamaah Imran

Setelah terkenal di dunia hiburan, pada 1995 Hari Moekti memilih jalan baru dalam menjalankan Islam. “Dalam pencarian makna hidup yang sesuai syariat agama itu, Kang Hari (Hari Moekti) menemukan visi yang sama dengan kelompok dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),” tulis Salman Iskandar.

Setelah bergabung dengan HTI, Hari Moekti jauh dari pemberitaan dunia hiburan. Dia hanya berdakwah dan menjauhkan diri dari politik bahkan kekerasan seperti yang dilakukan pengikut Jamaah Imran. Dia meninggal dunia pada 24 Juni 2018.

TAG

musik hari moekti

ARTIKEL TERKAIT

Lief Java dan Ismail Marzuki Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa Hari Tersedih God Bless Seni Pertunjukan dalam Resepsi Pernikahan Jawa Kuno Lagu untuk Pattie Boyd Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga Gordon Tobing dan Gitarnya Parikan, Puisi Jawa dengan Berbagai Makna Duel God Bless vs Soneta Group Bob Tutupoly Tutup Usia